Postingan

Menampilkan postingan dengan label mahasiswa

Sarjana Jogja

Gambar
Ah, harusnya banyak sekali yang bisa saya ceritakan Terakhir cerita di blog pada tanggal 1 Oktober 2013 tentang akhirnya saya lulus Sarjana Teknik . Setelah itu banyak kejadian penting yang terjadi di hidup saya. Namun, sayang sekali saya tidak rajin menuliskannya ke dalam blog. Tapi tidak apa-apa. Saya selalu tidak lupa untuk memposting cerita/foto di media sosial lainnya --untuk nantinya siapa tahu bisa dijadikan cerita secara runut-. Dokumentasi hidup. Salah satunya saya rajin posting foto moment penting di akun instagram dan twitter saya. Media sosial favorit karena kita bisa membuat linimasa hidup yang tersimpan rapi di dunia maya, lengkap dengan waktu postingnya. Ya, bagi saya begitu. Mari biarkan saya bercerita.. Wisuda 16 November 2013 akhirnya orangtua datang ke Jogja. Sebuah moment yang sejak 4 tahun lalu saya tunggu-tunggu. Ini moment pertama kalinya. Senang sekali bisa mengenalkan Jogja kepada orang tua. Nyaman. Begitu kata ibuk saya. Bapak saya juga mengamini. Ya memang,...

Untung Saya Masih Punya Hobi

Gambar
Sebuah refleksi bahwa mendapat nilai tertinggi di sekolah/kampus tidak menjamin kesuksesan seseorang. Video ini adalah pidato dari Erica Goldson pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School , New York, tahun 2010. Erica Goldson merupakan lulusan siswa dengan nilai terbaik. Cukup membuat kaget dan tersentak, sekaligus penyadaran. Karena isi pidatonya bukan sembarang cuap-cuap saja. Barangkali bisa menjadi refleksi bagi kita semua (terlebih lagi bagi yang menghamba nilai tinggi). Inilah cuplikan pidatonya dalam bahasa Indonesia

Mahasiswa Sibuk Skripsi

Gambar
[caption id="attachment_1080" align="aligncenter" width="500"] "Berpikir" Sumber : http://fastaqimsolution.wordpress.com[/caption] Dulu, pada waktu masih kecil, mendengar kata skripsi itu pikiran saya langsung tertuju pada hal yang berkaitan dengan orang-orang yang sudah gede. Pada waktu itu saya tidak terlalu ingin tahu lebih dalam sebenernya apa itu skripsi. Pokoknya gampang saja, skripsi itu tugasnya orang-orang yang sudah gede, dan suatu saat saya pasti akan membuatnya. Lalu saya kembali bersama teman-teman bermain gundu.

Bebas Teori

Tidak seperti semester-semester sebelumnya. Semester ini jadwal saya lebih longgar. Bukan hanya karena sudah demisioner dari beberapa kepengurusan organisasi, namun semester ini merupakan ketidak-adaan kuliah teori di kelas. Ya, orang bijak menyebutnya bebas teori . Keadaan ini cukup membahayakan. Ketika tidak ada lagi rutinitas kuliah, tidak ada lagi rutinitas deadline tugas, otak semacam tidak dipicu untuk bekerja. Serbuk tidur kamar seakan selalu menebar di segala sudut. Kasur selalu berhasil membuat terlena. Jika keadaan bebas teori ini dibiarkan begitu saja, ditakutkan produktivitas akan menurun. Bener kata orang-orang, di masa-masa bebas teori inilah godaan terberat ketika menjadi mahasiswa. Dan akhirnya saya berpijak di keadaan ini. Keadaan dimana tidak ada deadline tugas kuliah. Tinggal selangkah lagi. Skripsi. Ya semester ini harusnya dipenuhi oleh baca buku, menulis, diskusi, wawancara, bimbingan dengan dosen. Semua itu sendiri. Tidak ada lagi menunggu ajakan teman.Tidak ada ...

Tidak terasa sudah semester 8

Postingan pertama di bulan februari. Kenapa baru posting? Kemana aja? :D Iya, karena seminggu terakhir ini berada di rumah. Keasyikan dengan aktifitas spiritual, keluarga dan tentunya bercanda dengan ponakan jagoan Narendra :) Nah, sekarang sudah kembali ke dunia perantauan Jogja. Bersiap untuk menghadapi semester terakhir, semester 8. Astungkara. Semester ini saya sudah bebas teori alias sudah menapaki mata kuliah terakhir yang bernama Tugas Akhir. Dengan IPK yang sudah lumayan lah ya (kalo anak teknik katanya gaboleh tanya IP berapa :D ). Akhirnya saya percaya diri untuk mengentri Kartu Rencana Studi dengan mencentang mata kuliah ber SKS 8 ini. Waktu memang terkadang tak terasa. Terus merangkak pelan, berjalan, bahkan berlari. Mulai ketika pertama kalinya saya menapaki tanah jogja ini untuk menempuh kuliah di UGM tanggal 3 Agustus 2009 sampai sekarang ini penuh dengan kisah suka dan tak sedikit duka. Hiruk pikuk kisah di Jogja tak akan dilupakan sampai kapanpun. Jogja merupakan sala...

Survival Strategy : Koin Koin Harapan

Gambar
[caption id="attachment_923" align="alignleft" width="300"] Sumber : http://www.pandaamerica.com/details.asp?item=5061&grp=1&categ=1[/caption] Keberadaan koin di sekitar kita sering luput dari perhatian. Koin sering disebut sebagai pelengkap, atau hanya sebatas kembalian saja saat berbelanja. Bahkan, terkadang koin disamakan dengan permen. Iya kan? Di beberapa toko masih menggunakan permen sebagai pengganti koin kembalian. Koin dianggap tidak sepenting selembar merah 100 ribu rupiah. Iya sih ~ :D Padahal, sejatinya koin-koin inilah cikal bakal dari lembaran mata uang yang kita pakai sehari-hari sebagai alat tukar yang resmi. Setelah jaman dulu asik dengan sistem barter. Tukar barang. Terkadang kita merasa malu jika memakai koin untuk berbelanja. Apalagi belanja di toko yang agak besar. Kata orang-orang " habis ngamen dimana, mas? ". Beda lagi, koin juga digunakan sebagai simbol yang pas untuk menggambarkan sebuah rasa kepedulian dan kes...

Mengejar Sarjana

Gambar
[caption id="attachment_892" align="aligncenter" width="384"] Mengejar Sarjana. Foto by Didik[/caption] SARJANA ABSTRAK. Sebuah Sarjana Sebuah cinta sedemikian rupa rumit Sebuah puja puji syukur kehadirat Sang Maha Sarjana Sebuah keringat dan air mata dalam pertempuran sengit antara logika, cinta dan rasa Sebuah nama yang memperpanjang deretan nama legal yang terdikte di Akta Kelahiran Sebuah eksistensi bagi kaum homo sapiens dalam hakekatnya sebagai makhluk pemikir Sebuah penghargaan yang pantas untuk seseorang yang telah menyelesaikan 144 SKS Sebuah pencarian jati diri seseorang dalam mengarungi luasnya samudra kehidupan Sebuah gelar yang diberikan kepada seseorang untuk  pengakuan  jenjang S-1 Sebuah tanggung jawab kepada keluarga, almamater dan ilmu pengetahuan Sebuah keindahan dalam menyongsong masa depan cerah gegap gempita Sebuah kesombongan yang indah berbasis narsisme yang bergejolak Sebuah ketakutan akan dunia kerja yang kejam dan penuh misteri...

Habis Tanggal Tua, Terbitlah Tanggal Muda

Menjelang akhir bulan seperti ini, kita sebagai mahasiswa perantau memang harus cerdik dalam mencari celah untuk bertahan hidup. Memang dibutuhkan semacam survival-strategy dalam mengatur kehidupan di tanggal tua seperti ini. Jika tidak, kita akan jatuh ke lobang kegelapan tanggal tua. Memang hal ini gawat, namun bukan itu faktor tunggal yang menentukan kita tidak bisa bersenang-senang. Biarpun kantong tipis, bukan berarti kita meringis. Seni pertahanan hidup di tanggal yang sudah terlanjur tua justru menjadi keseruan tersendiri dalam pergaulan mahasiswa perantau. Saling pinjam meminjam duit dengan teman ternyata bukan masalah. Kesamaan nasib sepenanggungan memang sering berakhir manis. Persahabatan terjalin semakin erat. Aroma kekeluargaan yang terasa sangat harum. Pokoknya teman menjadi sesuatu yang berharga disaat masa-masa darurat seperti ini. Bukan! Tentunya, tidak hanya di tanggal tua saja baru kita inget dengan teman. Justru setelah sukses melewati masa-masa kritis, segera kita...

Mahasiswa Jaman Sekarang : Idealisme Terpasung Pragmatisme

" Buat apa demo di jalanan siang terik hingga kulit terbakar, buat apa koar-koar memakai pengeras suara sampai suara serak. Buat apa sih kalian masih setia memikirkan perut rakyat, kalian dapat apa sih? Buat apa mengurusi permasalahan bangsa, semua kan sudah diurus oleh Negara. Sebagai mahasiswa, kuliah saja yang bener biar cepat lulus lalu bekerja di perusahaan dengan gaji yang tinggi" . Mungkin tidak berlebihan apabila ilustrasi diatas menggambarkan kalimat yang sering terlontar dari mulut sebagian mahasiswa jaman sekarang. Sebuah jaman serba canggih, praktis dan instan. Sebuah jaman dimana karakter mahasiswa menjadi pragmatis. Sebuah jaman dimana mahasiswa yang masih menjunjung tinggi idealis bahkan disebut kuno. Kalau sudah seperti ini, masihkah cocok mahasiswa berpredikat sebagai agent of change? Mahasiswa seakan kehilangan jati dirinya. Semakin hari, semakin jauh dari benang merah perjuangan kewajiban seluruh mahasiswa Indonesia yang terdapat pada Tri Dharma Perguruan T...