Postingan

Menampilkan postingan dengan label Nasionalisme

Nasionalis Romantis

Gambar
Jogja lagi hujan terus akhir-akhir ini. Bikin males kemana-mana, banyak agenda yang ga jadi, banyak acara yang di cancel . Di media sosial juga banyak yang ngeluh karena kosan banjir, cucian ga kering, jadi ga produktif dan segala macem. "Padahal bagi saya, hujan itu romantis.  Ya gitu, ini berlaku jikalau ada pacar disamping, minimal bisa menghangatkan tangan gitu. Buat yang jomblo kesepian,  tentu bisa menikmati hujan dengan cara masing-masing lah ya :D Ya apapun itu pokoknya menurut saya hujan itu romantis. Dingin-dingin empuk :) " Nah. Demi menjaga eksistensi  produktifitas dan kreatifitas di musim hujan gini, saya, Lanang, mas Widi dan Awan (Genk Kos Pandega Karya 7) mencoba membuat sesuatu yang romantis. Bukan sekedar romantis biasa, ini romantis yang nasionalis. Romantisme pemuda yang bangga lahir dan menjadi orang Indonesia. Dengan berbekal kamera pinjaman, kita mulai membuat video indoor akustikan. Dengan kualitas gambar dan lighting yang jauh dari standar klip pada...

Menjadi Pemimpin Pasukan Perang Melawan Korupsi!

Biarkan saya berandai-andai menjadi ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), seorang pemimpin pasukan dalam perang melawan gerombolan koruptor –yang konon mempunyai pasukan yang kuat, solid dan bertaburan uang. Ketua KPK merupakan sebuah profesi yang menjadi target utama dari “tembakan” musuh dan katanya banyak “godaan”. Tentu kita banyak belajar dari pengalaman kasus Bapak Antasari Azhar sebagai mantan ketua KPK yang dinonaktifkan karena terjebak dalam kasus pembunuhan –entahlah, kasus ini masih simpang siur antara fakta atau konspirasi?. Sebagai ketua KPK, saya akan berusaha melakukan langkah inovatif yang sederhana dalam membebaskan Indonesia dari belenggu korupsi. Secara umum dijabarkan sebagai berikut: 1. Dimulai dari diri sendiri dan keluarga Sebelum menyatakan diri secara tegas untuk perang melawan korupsi, seharusnya terlebih dahulu menjamin diri dan keluarga terbebas dari perilaku korupsi. Hal ini sangat penting, karena sangat kurang ajar rasanya jika berkoar-koar memberantas...

Ada apa dengan Indonesia?

Setiap hari kita disuguhkan aneka ragam pemberitaan media tentang potret wajah murung bangsa kita, Indonesia. Korupsi, diskriminasi, fasisme, konspirasi, kekerasan, kemunafikan, dan pemberitaan berlebihan atas carut-marut bangsa, seakan sudah menjadi menu harian kita semua. Belum lagi menjamurnya acara infotainment yang menyebalkan tentang kehidupan selebritis, atau banyak sinetron ‘bodoh’ yang hanya mengejar rating iklan tanpa memberi arti bagi para penonton setianya, tak jarang kekerasan menjadi semacam ‘wajib tayang’ pada setiap adegan demi adegan, yang tragisnya dinikmati adek-adek kecil kita. (Damn! Sedari dini, adek kita sudah ‘dibajak’).

Semangat Nasionalisme dalam Keberagaman

Gambar
Hiduplah Indonesia Raya Seperti yang kita tahu, isu-isu ‘agama’ sedang marak di Indonesia. Sering kita semua lihat di media tentang terjadinya kekerasan, diskriminasi, fanatisme berlebihan dan aksi-aksi lain dengan mengatasnamakan dirinya ‘pembela umat’, ‘pembela tuhan’ atau apalah sebutan yang lainnya. Sering saya bertanya, apakah benar mereka ber-agama? Bukannya semua agama mengajarkan umatnya tentang perdamaian, anti-kekerasan? Setahu saya, yaitu: kasih sayang, kebenaran, kejujuran, kesetiakawanan, kebersamaan, kedamaian, kebajikan dan nilai-nilai lain yang universal ada dalam setiap agama. Nilai inilah yang seharusnya lebih ditonjolkan supaya kita bisa menumbuhkembangkan kebersamaan sosial untuk kedamaian dunia. Kalau benar mereka beragama, nah terus apa fungsi agama? Apa gunanya rajin sembahyang, tapi tidak menghargai mereka yang ‘lain’,intoleransi terhadap umat agama lain, diskriminasi terhadap kaum minoritas, meng-halalkan-kan kekerasan, atas alasan pembelaan ‘kebenaran’. Ah, Ka...