Friday, December 29, 2017

Catatan Akhir Tahun 2017

Saya terpaksa menulis blog lagi. Cek kalender ternyata sudah di penghujung tahun 2017. Waktu terasa sangat cepat. Saatnya untuk menulis Catatan Akhir Tahun. Membuat kaleidoskop pribadi agar tidak lupa dan menjadi bahan renungan di masa depan.

Secara singkat, tahun 2017 ini merupakan tahun yang luar biasa bagi saya. Tahun yang padat. Tahun yang penuh kejutan. 

Baiklah, saya mulai saja cerita tentang perjalanan di tahun 2017 yang ditutup dengan sungguh manis ini. 

Berjejaring di Perkumpulan Profesi
Awal tahun 2017 saya gunakan untuk ngumpul dengan teman-teman baru di Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP). Itu semacam wadah ngumpulnya para lulusan bidang Perencanaan Wilayah dan Kota se-Indonesia untuk membahas berbagai macam permasalahan dan solusi perkotaan dsb. Mereka terdiri dari praktisi, dosen, PNS, pengusaha, konsultan dan berbagai profesi lainnya. Canggih-canggih semua orangnya. 

Sejak dulu saya penasaran mengenai apa yang dilakukan atau didiskusikan bila beberapa orang ahli ini berkumpul. Saya hanya ingin tahu dan ingin belajar. Ternyata memang seru. Walaupun saya hanya anggota yang ikut-ikutan saja, tapi saya kagum pada mereka yang teguh memperjuangkan eksistensi keilmuannya.

Jejaring pertemanan ini akan menjadi istimewa di masa depan. 


A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on




Migunani Tumpraping Liyan
Saya selalu berusaha sebisa mungkin untuk berguna bagi orang lain. Belajar untuk menghayati falsafah Jawa yang luhur "Migunani Tumpraping Liyan". Karena menjadi berguna bagi orang lain itu tidak susah. Tidak perlu menunggu jadi orang sakti dulu. Membantu orang lain adalah hal yang biasa saja. Memang begitu seharusnya. Hakekat kehidupan.

Praktek sederhananya, saya mengajak Junior saya di kampus UGM untuk rame-rame magang di kantor saya disaat mereka sedang kebingungan mencari tempat magang. Saya yakin mereka adalah anak-anak yang canggih, jauh lebih canggih dari saya. Jadi, gampang lah kalo sekedar magang di kantor, bisa saya urus itu.

Mereka tinggal siapkan CV yang bagus. Kemudian saya yang akan kekeuh sedikit mendesak untuk meyakinkan para pejabat di kantor agar menerima surat lamaran mereka. Dan begitulah akhirnya 7 orang diterima, mereka magang 2 bulan di kantor dengan perasaan senang. Saya super senang juga, karena para pejabat ternyata puas dengan hasil kerja mereka. Saya membantu 2 pihak sekaligus, para adik-adik junior saya yang butuh pengalaman dan kantor saya yang memang membutuhkan tenaga kerja tambahan.

Sederhana banget kan, tapi nilai hidup seperti ini yang akan saya tumbuhkan terus di kemudian hari.




Semakin Belajar, Semakin Bodoh
Hakekat belajar yang saya yakini adalah bukan tentang memasukkan berbagai pengetahuan ke dalam otak, tapi melebarkan cakrawala berpikir untuk dapat menerima pengetahuan baru. Maka, semakin belajar, semakin tidak tau apa-apa, semakin bodoh diri ini, karena cakrawala berpikirnya melebar. Terus saja begitu sampai kapanpun kita tidak akan pernah menjadi benar-benar pintar. Yang berubah hanya kematangan berpikir dan kebijaksanaan membuat keputusan hidup. Itu yang saya haqul yakini.

Maka dengan menganut konsep itu, saya selalu sibukkan diri dengan hal-hal yang bisa melebarkan cakrawala berpikir saya. Pada Februari 2017, salah satunya saya berkesempatan belajar dari orang-orang yang saya kagumi dengan mengikuti talkshow-nya. Sebut saja, Bapak Triawan Munaf, Ibu Tri Rismaharini, Alfatih Timur, Belva Devara, dan banyak sekali anak muda seumuran saya yang sudah melakukan hal-hal yang sungguh menginspirasi dan tentu memperlebar cakrawala pikir. Seketika saya merasa bersalah sebagai anak muda yang belum melakukan hal-hal keren.




Work-Life Harmony
Dulu saya menghayati konsep Work-Life Balance, konsep keseimbangan antara waktu untuk bekerja dan waktu untuk hidup. Tapi belakangan saya menemukan lagi konsep sama dengan nama yang lebih pas dan asik, Work-Life Harmony, yaitu dengan memposisikan diri bahwa bekerja berarti bersenang-senang. Maksudnya, ketika kita bekerja itu sekaligus juga kita hidup, kita berkarya, kita bersenang-senang. Maka, lakukan pekerjaan yang kita senangi dan hiduplah dari itu. Bekerja dan bersenang-senang dalam waktu yang bersamaan.

Saya membayangkan, nyaris tidak ada batasan antara dunia kerja dan dunia kehidupan (yang menyenangkan). Dalam dunia kerja itulah kita hidup. Setiap hari hidup, setiap hari bersenang-senang. Hiruk pikuk pekerjaan sama sekali tidak mengganggu kesenangan kita. Pada akhirnya, saya menghayati setiap hari itu melakukan hal yang saya senangi, yang saya dengan sadar lakukan, tanpa ada paksaan apapun. Teorinya sih begitu. Prakteknya bisa beda lagi.

Bila disederhanakan mungkin begini. Bekerjalah karena ingin berkarya. Bukan karena hal-hal materiil, jabatan, kekuasaan dll. Itu semua hanya efek samping atas kegigihan kita untuk berkarya dan melakukan hal-hal yang baik. Begitu konsepnya. Bukan prakteknya. Konsep itulah yang selalu berusaha saya tanamkan kedalam diri saya.

Walau mungkin tidak ada hubungan secara langsung dengan cerita saya diatas, video berikut bisa saja menjadi gambaran bagaimana saya mengharmoniskan dunia kantoran dan musik. Ambil gitar dan nyanyi langsung seketika itu juga, di kantor.


A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on





Pindah Kantor
Ini salah satu kejutan di tahun 2017. Tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Pada akhir bulan Maret 2017 saya dipindahtugaskan ke anak perusahaan baru yang bergerak dibidang pengembangan Jalan Tol dan menjadi karyawan pertama di perusahaan itu. Sekali lagi, karyawan pertama. Terdapat 2 orang Direksi dan saya karyawan pertama. Perusahaan baru ini terdiri dari total 3 orang dimana 2 orang Direksi itu juga sedang menjabat posisi berbeda di tempat lain. Apa itu artinya?

Yap betul, secara praktek, saya mengerjakan segala tetek bengek urusan A sampai Z mulai dari legalitas perusahaan, RUPS pertama, membuat SK yang dibutuhkan, prosedur, organisasi, corporate planning, belum lagi urusan teknik: design, feasibility study, AMDAL, pengadaan dll. Hal-hal tersebut sangat asing bagi saya ketika itu. Saya benar-benar kosong nyaris tanpa arah. Direksi mempercayakan sepenuhnya kepada saya dengan arahan yang sangat minimalis.

Namun berita baiknya adalah, saya dipromosikan untuk mengisi jabatan menjadi Manager. Pada saat itu, sebenarnya saya ragu itu berita baik atau buruk. Sekali lagi, ada 2 orang Direksi dan 1 orang Manager dalam satu perusahaan. Terus mau ngapain?

Semenjak itu, tepatnya awal April 2017, mulailah petualangan baru saya menjadi seorang Manager Perencanaan & Pengembangan pada Divisi Teknik dengan segala ketidaktauan apa yang harus saya lakukan. Saya benar-benar bingung apa yang harus saya lakukan sebagai satu-satunya karyawan dibawah Direksi. Saya seperti dicemplungkan ke kolam yang dalam dengan keadaan yang tidak bisa berenang. Sama sekali tidak tau bagaimana cara berenang dengan baik. Pilihannya adalah tenggelam atau terpaksa berenang. Saya memilih yang kedua. Walau tidak langsung bisa berenang dengan baik, minimal bisa mengapung saja dulu dengan menggerakkan tangan dan kaki sebisanya. Susah sih tapi ternyata bisa.








Kuliah Lagi 
Pendidikan adalah kunci peradaban. Ia adalah proses panjang sedemikian rupa sehingga menjadikan seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu. Dari yang tidak bisa menjadi bisa. Proses sakral yang membentuk karakter masing-masing orang dan menjadi refleksi dari peradaban setiap jaman. Begitu kira-kira gambaran besarnya.

Dan bila sudah ngomongin tentang pendidikan, saya langsung teringat kedua orang tua saya. Selain karena mereka berdua berprofesi sebagai Guru, juga karena beliaulah yang mengantarkan saya ke gerbang pendidikan. Dari TK,SD,SMP,SMA hingga menjadi Sarjana seperti sekarang ini semua atas usaha dengan sepenuh hati untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya. Pendidikan Sarjana-nya juga tidak sembarangan, saya diberi kesempatan oleh orang tua untuk mengenyam pendidikan tinggi di kampus terbaik di negeri ini. Saya merasa menjadi anak yang paling beruntung. Berkali-kali saya sampaikan, terima kasih Bapak dan Ibu!

Kemudian setelah  lulus S-1 di akhir 2013, saya sudah mulai pasang ancang-ancang untuk sesegera mungkin melanjutkan pendidikan S-2. Ada beberapa alasan kenapa  harus S-2, mudah-mudahan nanti bisa saya ceritakan pada postingan setelah ini. 

Semua upaya saya lakukan untuk  mewujudkan keinginan saya itu. Mbuh piye carane. Masalah utama tentu pembiayaan perkuliahan yang cukup mahal. Namun saya percaya, selalu ada jalan untuk hal yang baik. 

Benar saja, akhirnya keinginan tersebut terwujud di tahun ini pada Agustus 2017. Masalah pembiayaan sudah menemui solusinya. Segala rangkaian tes sudah saya lewati dengan sangat baik dan dinyatakan lolos, sehingga saat ini saya menyandang status menjadi Mahasiswa Pascasarjana MM UGM. Sungguh membanggakan menjadi Mahasiswa UGM lagi.

Begitulah. Kesempatan untuk terus menerus belajar adalah hal yang membahagiakan bagi saya. Belajar apapun, dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Tidak melulu melalui jalur formal saja. Saya berupaya sepenuh hati untuk istiqomah menjadi pribadi pembelajar sampai akhir hayat. Karena hal yang menurut saya paling tidak keren adalah tong kosong yang berbunyi nyaring.


Pulang ke Almamater Gadjah Mada. __ 19 Agustus 2009 silam, saya menjadi salah satu peserta orientasi mahasiswa baru di Fakultas Teknik UGM. Perasaan biasa saja. Tidak bangga-bangga banget. Belakangan saya baru sadar bahwa keputusan untuk memilih kuliah di kampus ini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup. Terima kasih Bapak dan Ibu yang memberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan di kampus kebanggaan ini. Saya akhirnya lulus di akhir tahun 2013 dengan IPK yang yaa cukup lah.. __ Hari ini, 12 Agustus 2017, saya pulang kembali ke peraduan almamater Gadjah Mada untuk mengikuti orientasi mahasiswa pascasarjana di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Dengan kata lain, saya menjadi mahasiswa MM UGM mulai hari ini. Iya, kali ini saya selingkuh dari ilmu Teknik. Hehe.. __ Saya benar-benar merasa pulang kampung. Menyanyikan Hymne Gadjah Mada dengan khusyuk itu bikin merinding gila. Sangat emosional. Alumni UGM yang lain juga sepertinya sepakat dengan saya. Hymne Gadjah Mada itu magis betul. __ Bersyukur sekali atas kesempatannya lagi untuk belajar disini. Tidak akan saya sia-siakan kesempatan ini. Saya merasa sangat bergairah kembali bergulat dengan dunia akademik. Sudah terbayang keseruan diskusi di kelas beberapa waktu ke depan. __ Semoga bisa membagi waktu dengan baik. Rutinitas kantor berjalan lancar dan menjadi civitas akademika yang sukses. Karir jalan terus dan lulus kuliah tepat waktu. Semoga semesta selalu mendukung. Astungkara. __ Mengakar Kuat, Menjulang Tinggi!
A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on





Main ke Pulau Samosir

Pulau Samosir, Danau Toba adalah salah satu dari sedemikian banyak  destinasi yang  hanya saya  ketahui dari  buku RPUL jaman sekolah dulu. Dan Oktober tahun 2017 saya mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di Pulau Samosir dan menikmati keindahan Danau Toba secara langsung. Ternyata jauuuuh lebih seru daripada apa yang diceritakan dalam buku itu.





Bapak dan Ibu ke Jakarta

Ini bisa dibilang momen bersejarah. Akhirnya pada  awal November 2017, Bapak dan Ibu ke Jakarta, melihat secara langsung tempat tinggal, lingkungan sekitar dan kantor saya untuk pertama kali. Dan yang tak kalah penting, akhirnya mereka melihat kemacetan yang ga masuk akal di Pancoran dan sebagian besar wilayah Jakarta yang lain. Mereka melihat secara langsung arena tempur anak bungsunya ini. Saya sangat terharu dan sentimentil.

Saya sudah lama menanti momen ini terjadi. Sembahyang bersama Bapak dan Ibu sembahyang di Pura Rawamangun dan Pura Gunung Salak sungguh menenangkan. Satu mimpi saya terwujud.





Penutup yang Manis

Tahun 2017 benar-benar ditutup dengan sangat manis. 

Pemanis dari segala rangkaian perjalanan setahun penuh. Aduh, saya kehabisan kata-kata di bagian ini..

Saat ini dan seterusnya kita sama-sama ya, Dewa Ayu Pradnyasari. Terima kasih sudah menebar kebahagiaan di hari-hariku beberapa waktu belakangan ini. Tahun-tahun berikutnya adalah milik kita.

A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Demikian kira-kira cerita singkat perjalanan hidup saya di 2017. Terima kasih untuk segenap pelajarannya dan penutupnya yang manis.

Seperti orang bijak bilang, "Guru akan datang ketika muridnya sudah siap". Maka, mari bersiap menyambut guru-guru berikutnya di tahun 2018.

Mari menyambut tahun baru 2018 yang cemerlang!





Tuesday, January 17, 2017

Catatan Akhir Tahun 2016

Tahun 2016 telah berlalu begitu cepat. Puji syukur, perjalanan hidup di tahun 2016 telah terlewati dengan baik.

Sebenarnya masih banyak hal yang harusnya saya lakukan di tahun ini, karena suatu alasan dan lain hal, tidak dapat saya lakukan. Beberapa target meleset. Namun tidak sedikit juga yang tercapai bahkan melebihi target.

Begitulah, awal tahun membuat rencana dan akhir tahun saya evaluasi. Semoga selalu menjadi lebih baik setiap tahunnya.

Seperti biasa, saya wajib menuliskan cerita singkat tentang apa yang terjadi setahun belakangan. Ini adalah kebiasaan yang saya lakukan sejak akhir 2012. Semata-mata sebagai dokumentasi. Semacam kaleidoskop pribadi. Bahan renungan saya di kala sepi.

Mungkin tak semua bisa diceritakan dengan baik. Maka, menampilkan kembali postingan dari akun instagram (madebhela) adalah langkah bijak yang saya ambil agar cerita lebih runut.

Secara garis besar, momen yang paling menyita perhatian di tahun ini adalah saat mengikuti kursus kepemimpinan ala militer oleh Pasukan Zeni TNI-AD di Bogor dan kemudian peristiwa resminya saya diangkat menjadi karyawan tetap di Hutama Karya di akhir bulan Agustus. Seperti yang telah saya ceritakan di postingan sebelumnya, Berkarya di Hutama Karya. Sepertinya momen itu cukup tepat untuk menandai tahun ini.

Baiklah, saya lanjutkan cerita saya.


Sulawesi Pertama Kali
Apapun hal yang dilakukan untuk pertama kalinya pasti seru dan istimewa. Termasuk perjalanan ke tempat baru.

Di tahun 2015 silam, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Sumatra. Dan pada pertengahan Januari tahun 2016, saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Sulawesi. Tepatnya di Manado.

Kota pinggir laut dengan kuliner yang mantap cukup berkesan di hati saya. Apalagi sempat pula merasakan sensasi menyelam di Bunaken, salah satu tempat favorit para penikmat dunia bawah laut. Dan begitulah, Bunaken menjadi tempat saya untuk pertama kalinya mencoba sensasi menyelam sedalam 15 meter. Semua serba pertama kali. Seru ternyata. Sepertinya butuh destinasi selam berikutnya.

Berkunjung ke berbagai tempat baru setiap tahunnya memang merupakan salah satu obsesi saya. Entah itu sekedar urusan pekerjaan ataupun memang untuk berlibur. Semoga tahun-tahun berikutnya diberikan kesempatan lagi untuk pertama-kali yang lain. Papua mungkin?


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


Ps: Foto di Bunaken menjadi dokumentasi pribadi dan bukan konsumsi umum. Lagian, kan ndak boleh liburan disaat jam kerja. Haha :D


Akhirnya Java Jazz
Hobi saya musik. Saya merasa sangat nyaman dan bahagia sekali ketika menyaksikan berbagai event musik. Saya betah berlama-lama berdiri menikmati tata panggung, tata cahaya, tata suara dan performa musisi yang disajikan oleh sebuah pertunjukkan musik. Nyaris musik apapun, termasuk Jazz tentunya.

Pada awal Maret, akhirnya saya bisa menyaksikan event rutin tahunan Java Jazz secara langsung. Tahun sebelumnya hanya bisa menikmati via youtube dan media sosial lainnya. Sebuah event yang tidak susah dimengerti bila saya katakan dahsyat, spektakuler dan wajib tonton. Saya sangat menikmatinya.

Bagaimana untuk Java Jazz 2017? kuy lah..
 

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on




Personal Development
Saya sadar betul, pengembangan diri harus menjadi prioritas saya di usia sekarang. Waktu luang seharusnya saya manfaatkan untuk dapat belajar hal baru dan bertemu banyak orang baru.

Nyaris tidak ada alasan untuk tidak melakukan hal yang sudah seharusnya saya lakukan. Kalimat terakhir ini memang cukup membingungkan. Saya memang memilih untuk menjadi anak muda yang selalu bingung penuh pertanyaan yang kemudian sibuk menemukan jawabannya.

Saya selalu menantang diri saya untuk senantiasa mengembangkan diri, kapanpun, dimanapun dan dari siapapun. Rasa malas sudah pasti datang, namun saya tak punya pilihan lain.

Pengembangan diri adalah mutlak. Perubahan diri memang selayaknya harus terjadi. Saya harus terbiasa dengan hal itu. Saya tidak mau terjebak dalam tempurung kemudian menjadi sok tahu nyaring bunyinya dan bebal.

Tentu ada banyak yang bisa dilakukan untuk pengembangan diri: baca buku, nonton youtube, mendengarkan podcast, langganan blog-blog keren, hingga mengikuti seminar.

Tahun 2016, salah satu seminar yang saya ikuti bertajuk "Without Borders" pada pertengahan April yang diisi oleh para profesional panutan, seperti Iwan Sunito, Wishnutama dan Dino Patti Jalal. Mentor yang luar biasa.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on



Site Visit Megaproyek
Saya anggap momen ini istimewa karena megaproyek ini akan menjadi kebanggaan kita semua. Sebentar lagi, akhirnya Jakarta punya MRT.

Akhir Mei saya berkesempatan untuk berkunjung ke proyek MRT sekitar 25 meter dibawah bundaran HI. Saya terkesima. Ini bakalan keren banget.

Yang jelas, tahun 2018 MRT akan mulai beroperasi. Itu artinya saya tak perlu lagi naik uber/gojek dari kosan di daerah Tanjung Barat bila ingin main ke GI Mall. Cukup naik dari stasiun Lebak Bulus dan cuzz tidak lama saya sudah tiba di dalam Mall. Canggih sih ini.





Nyanyi di Kantor
Mimpi saya sederhana. Bernyanyi genjreng-genjreng di kantor bersama teman-teman kantor. Di tahun ini saya wujudkan.

Apapun alasannya, saya selalu bersemangat dan antusias dengan alat musik. Saya coba implementasikan konsep work-life balance dengan bermain musik di kantor. Saya kira efektif mereda kebosanan dan kepenatan sehari-hari di kantor. Tentu, ujung-ujungnya berdampak pada keakraban dan kehangatan suasana kantor.

Cukup dengan menyanyikan beberapa buah lagu kemudian diiringi petikan gitar ala kadarnya. Saya rasa saya sudah mencapai kebahagiaan yang definitif. Semoga teman-teman saya juga.



A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on




Ulang Tahun 25 di Rumah
Sejak tahun 2009 merantau, sepertinya saya tidak pernah merayakan ulang tahun di rumah.

Tahun ini, tepat di usia seperempat abad, beruntung saya bisa merayakan ulang tahun di kampung, Blahbatuh, Gianyar bersama keluarga. Saya bahagia sekali. Terima kasih atas doa dan dukungan yang diberikan orang tua dan keluarga. Bhakti ini untuk kalian..




Hari Pertama Sekolah
Sempat juga saya mengantarkan ponakan jagoan ke TK. Bertepatan dengan gerakan Hari Pertama Sekolah yang digagas Mas Anies ketika masih menjadi menteri pendidikan.

Mau tak mau, saya harus belajar menjadi seorang panutan dan orang tua bagi ponakan-ponakan saya. Hingga nantinya menjadi bapak bagi anak-anak saya kelak.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on



Officially Insan Hutama
Tahun 2016 sepenuhnya saya dedikasikan untuk perjuangan merintis karir. Ini tema besar untuk tahun 2016.

Februari presentasi laporan kegiatan untuk evaluasi pertama program "On the Job Training". Agustus berlanjut pada evaluasi kedua kemudian dinyatakan lulus. Akhir Agustus berangkat ke Bogor untuk kursus kepemimpinan ala militer. Akhirnya di awal September tahun ini resmi diangkat menjadi karyawan tetap. Seperti yang saya ceritakan di postingan Berkarya di Hutama Karya



A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on




Baca Buku
Target baca buku saya di tahun ini meleset. Nyaris hanya 5 buku: "Empat Lensa, Terobosan Paradigma Kepemimpinan Dunia Baru" karya Iman Progoharbowo, "From One Dollar to Billion Dollars Company" karya Rhenald Kasali/Emirsyah Satar, ""What the Dog Saw" karya Malcolm Gladwell, "The Coconut Principle" karya Gede Manggala dan "Generasi Millenials"nya Yoris Sebastian.

Sisanya baca artikel-artikel serampangan di internet, e-book dan blogwalking ke beberapa situs favorit. Pengennya di tahun depan bisa membaca lebih banyak buku. Dan harapannya, bisa sekalian menuliskan intisarinya.

Males sih baca buku. Males belajar. Tapi ada pilihan lain?




Golf Pertama Kali
Permainan satu ini erat kaitannya dengan dunia kerja. Olahraga untuk lobbying dan memperluas jaringan pertemanan katanya.

Tapi apapun alasannya, saya hanya ingin olahraga. Lingkar perut sudah mulai tak masuk akal.

Tahun ini untuk pertama kalinya saya memegang stick golf dan mencoba pukulan driving yang tak tentu arahnya. Haduh susah juga ternyata.


A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Aksi Bela Timnas
Saya beruntung dapat menyaksikan dan mendukung secara langsung Timnas di ajang AFF Suzuki Cup tahun ini. Walau sebenarnya bukan gila bola, menyaksikan langsung Timnas berlaga apalagi saat menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama ribuan orang adalah momen yang mengharukan.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on






Juru Bicara Pandji
Saya penikmat stand-up comedy. Pandji Pragiwaksono adalah salah satu sosok yang saya idolakan.

Pada tahun sebelumnya hanya bisa membeli digital download special show-nya. Di akhir tahun ini dapat menyaksikan langsung bersama 3000 orang untuk pertunjukkan bertajuk "Juru Bicara". Pengalaman yang dahsyat.

Tak akan terlupakan. Ini salah satu pertunjukkan terbaik yang pernah saya tonton.



Momen Akhir Tahun
Akhir tahun waktunya pulang. Saya merayakan tahun baruan di rumah bersama keluarga dan teman-teman.

Makan bersama keluarga, tirta yatra, main musik, ketawa bareng bersama sahabat dan ditutup dengan pembuatan video drone ketika malam tahun baru di kampung halaman adalah cara yang membahagiakan untuk menutup tahun 2016 ini.


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on



Demikianlah kira-kira serba serbi di tahun 2016. Semoga senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan untuk menjalankan kewajiban serta diberi kesempatan untuk terus belajar. Astungkara.

Terimakasih tahun 2016. Mari mengukir kisah yang lebih manis di tahun 2017.

Mari menyambut tahun baru 2017 yang riang gemilang!