Tuesday, January 17, 2017

Catatan Akhir Tahun 2016

Tahun 2016 telah berlalu begitu cepat. Puji syukur, perjalanan hidup di tahun 2016 telah terlewati dengan baik.

Sebenarnya masih banyak hal yang harusnya saya lakukan di tahun ini, karena suatu alasan dan lain hal, tidak dapat saya lakukan. Beberapa target meleset. Namun tidak sedikit juga yang tercapai bahkan melebihi target.

Begitulah, awal tahun membuat rencana dan akhir tahun saya evaluasi. Semoga selalu menjadi lebih baik setiap tahunnya.

Seperti biasa, saya wajib menuliskan cerita singkat tentang apa yang terjadi setahun belakangan. Ini adalah kebiasaan yang saya lakukan sejak akhir 2012. Semata-mata sebagai dokumentasi. Semacam kaleidoskop pribadi. Bahan renungan saya di kala sepi.

Mungkin tak semua bisa diceritakan dengan baik. Maka, menampilkan kembali postingan dari akun instagram (madebhela) adalah langkah bijak yang saya ambil agar cerita lebih runut.

Secara garis besar, momen yang paling menyita perhatian di tahun ini adalah saat mengikuti kursus kepemimpinan ala militer oleh Pasukan Zeni TNI-AD di Bogor dan kemudian peristiwa resminya saya diangkat menjadi karyawan tetap di Hutama Karya di akhir bulan Agustus. Seperti yang telah saya ceritakan di postingan sebelumnya, Berkarya di Hutama Karya. Sepertinya momen itu cukup tepat untuk menandai tahun ini.

Baiklah, saya lanjutkan cerita saya.


Sulawesi Pertama Kali
Apapun hal yang dilakukan untuk pertama kalinya pasti seru dan istimewa. Termasuk perjalanan ke tempat baru.

Di tahun 2015 silam, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Sumatra. Dan pada pertengahan Januari tahun 2016, saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Sulawesi. Tepatnya di Manado.

Kota pinggir laut dengan kuliner yang mantap cukup berkesan di hati saya. Apalagi sempat pula merasakan sensasi menyelam di Bunaken, salah satu tempat favorit para penikmat dunia bawah laut. Dan begitulah, Bunaken menjadi tempat saya untuk pertama kalinya mencoba sensasi menyelam sedalam 15 meter. Semua serba pertama kali. Seru ternyata. Sepertinya butuh destinasi selam berikutnya.

Berkunjung ke berbagai tempat baru setiap tahunnya memang merupakan salah satu obsesi saya. Entah itu sekedar urusan pekerjaan ataupun memang untuk berlibur. Semoga tahun-tahun berikutnya diberikan kesempatan lagi untuk pertama-kali yang lain. Papua mungkin?


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


Ps: Foto di Bunaken menjadi dokumentasi pribadi dan bukan konsumsi umum. Lagian, kan ndak boleh liburan disaat jam kerja. Haha :D


Akhirnya Java Jazz
Hobi saya musik. Saya merasa sangat nyaman dan bahagia sekali ketika menyaksikan berbagai event musik. Saya betah berlama-lama berdiri menikmati tata panggung, tata cahaya, tata suara dan performa musisi yang disajikan oleh sebuah pertunjukkan musik. Nyaris musik apapun, termasuk Jazz tentunya.

Pada awal Maret, akhirnya saya bisa menyaksikan event rutin tahunan Java Jazz secara langsung. Tahun sebelumnya hanya bisa menikmati via youtube dan media sosial lainnya. Sebuah event yang tidak susah dimengerti bila saya katakan dahsyat, spektakuler dan wajib tonton. Saya sangat menikmatinya.

Bagaimana untuk Java Jazz 2017? kuy lah..
 

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on




Personal Development
Saya sadar betul, pengembangan diri harus menjadi prioritas saya di usia sekarang. Waktu luang seharusnya saya manfaatkan untuk dapat belajar hal baru dan bertemu banyak orang baru.

Nyaris tidak ada alasan untuk tidak melakukan hal yang sudah seharusnya saya lakukan. Kalimat terakhir ini memang cukup membingungkan. Saya memang memilih untuk menjadi anak muda yang selalu bingung penuh pertanyaan yang kemudian sibuk menemukan jawabannya.

Saya selalu menantang diri saya untuk senantiasa mengembangkan diri, kapanpun, dimanapun dan dari siapapun. Rasa malas sudah pasti datang, namun saya tak punya pilihan lain.

Pengembangan diri adalah mutlak. Perubahan diri memang selayaknya harus terjadi. Saya harus terbiasa dengan hal itu. Saya tidak mau terjebak dalam tempurung kemudian menjadi sok tahu nyaring bunyinya dan bebal.

Tentu ada banyak yang bisa dilakukan untuk pengembangan diri: baca buku, nonton youtube, mendengarkan podcast, langganan blog-blog keren, hingga mengikuti seminar.

Tahun 2016, salah satu seminar yang saya ikuti bertajuk "Without Borders" pada pertengahan April yang diisi oleh para profesional panutan, seperti Iwan Sunito, Wishnutama dan Dino Patti Jalal. Mentor yang luar biasa.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on



Site Visit Megaproyek
Saya anggap momen ini istimewa karena megaproyek ini akan menjadi kebanggaan kita semua. Sebentar lagi, akhirnya Jakarta punya MRT.

Akhir Mei saya berkesempatan untuk berkunjung ke proyek MRT sekitar 25 meter dibawah bundaran HI. Saya terkesima. Ini bakalan keren banget.

Yang jelas, tahun 2018 MRT akan mulai beroperasi. Itu artinya saya tak perlu lagi naik uber/gojek dari kosan di daerah Tanjung Barat bila ingin main ke GI Mall. Cukup naik dari stasiun Lebak Bulus dan cuzz tidak lama saya sudah tiba di dalam Mall. Canggih sih ini.





Nyanyi di Kantor
Mimpi saya sederhana. Bernyanyi genjreng-genjreng di kantor bersama teman-teman kantor. Di tahun ini saya wujudkan.

Apapun alasannya, saya selalu bersemangat dan antusias dengan alat musik. Saya coba implementasikan konsep work-life balance dengan bermain musik di kantor. Saya kira efektif mereda kebosanan dan kepenatan sehari-hari di kantor. Tentu, ujung-ujungnya berdampak pada keakraban dan kehangatan suasana kantor.

Cukup dengan menyanyikan beberapa buah lagu kemudian diiringi petikan gitar ala kadarnya. Saya rasa saya sudah mencapai kebahagiaan yang definitif. Semoga teman-teman saya juga.



A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on




Ulang Tahun 25 di Rumah
Sejak tahun 2009 merantau, sepertinya saya tidak pernah merayakan ulang tahun di rumah.

Tahun ini, tepat di usia seperempat abad, beruntung saya bisa merayakan ulang tahun di kampung, Blahbatuh, Gianyar bersama keluarga. Saya bahagia sekali. Terima kasih atas doa dan dukungan yang diberikan orang tua dan keluarga. Bhakti ini untuk kalian..




Hari Pertama Sekolah
Sempat juga saya mengantarkan ponakan jagoan ke TK. Bertepatan dengan gerakan Hari Pertama Sekolah yang digagas Mas Anies ketika masih menjadi menteri pendidikan.

Mau tak mau, saya harus belajar menjadi seorang panutan dan orang tua bagi ponakan-ponakan saya. Hingga nantinya menjadi bapak bagi anak-anak saya kelak.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on



Officially Insan Hutama
Tahun 2016 sepenuhnya saya dedikasikan untuk perjuangan merintis karir. Ini tema besar untuk tahun 2016.

Februari presentasi laporan kegiatan untuk evaluasi pertama program "On the Job Training". Agustus berlanjut pada evaluasi kedua kemudian dinyatakan lulus. Akhir Agustus berangkat ke Bogor untuk kursus kepemimpinan ala militer. Akhirnya di awal September tahun ini resmi diangkat menjadi karyawan tetap. Seperti yang saya ceritakan di postingan Berkarya di Hutama Karya



A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on




Baca Buku
Target baca buku saya di tahun ini meleset. Nyaris hanya 5 buku: "Empat Lensa, Terobosan Paradigma Kepemimpinan Dunia Baru" karya Iman Progoharbowo, "From One Dollar to Billion Dollars Company" karya Rhenald Kasali/Emirsyah Satar, ""What the Dog Saw" karya Malcolm Gladwell, "The Coconut Principle" karya Gede Manggala dan "Generasi Millenials"nya Yoris Sebastian.

Sisanya baca artikel-artikel serampangan di internet, e-book dan blogwalking ke beberapa situs favorit. Pengennya di tahun depan bisa membaca lebih banyak buku. Dan harapannya, bisa sekalian menuliskan intisarinya.

Males sih baca buku. Males belajar. Tapi ada pilihan lain?




Golf Pertama Kali
Permainan satu ini erat kaitannya dengan dunia kerja. Olahraga untuk lobbying dan memperluas jaringan pertemanan katanya.

Tapi apapun alasannya, saya hanya ingin olahraga. Lingkar perut sudah mulai tak masuk akal.

Tahun ini untuk pertama kalinya saya memegang stick golf dan mencoba pukulan driving yang tak tentu arahnya. Haduh susah juga ternyata.


A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Aksi Bela Timnas
Saya beruntung dapat menyaksikan dan mendukung secara langsung Timnas di ajang AFF Suzuki Cup tahun ini. Walau sebenarnya bukan gila bola, menyaksikan langsung Timnas berlaga apalagi saat menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama ribuan orang adalah momen yang mengharukan.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on






Juru Bicara Pandji
Saya penikmat stand-up comedy. Pandji Pragiwaksono adalah salah satu sosok yang saya idolakan.

Pada tahun sebelumnya hanya bisa membeli digital download special show-nya. Di akhir tahun ini dapat menyaksikan langsung bersama 3000 orang untuk pertunjukkan bertajuk "Juru Bicara". Pengalaman yang dahsyat.

Tak akan terlupakan. Ini salah satu pertunjukkan terbaik yang pernah saya tonton.



Momen Akhir Tahun
Akhir tahun waktunya pulang. Saya merayakan tahun baruan di rumah bersama keluarga dan teman-teman.

Makan bersama keluarga, tirta yatra, main musik, ketawa bareng bersama sahabat dan ditutup dengan pembuatan video drone ketika malam tahun baru di kampung halaman adalah cara yang membahagiakan untuk menutup tahun 2016 ini.


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A video posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on



Demikianlah kira-kira serba serbi di tahun 2016. Semoga senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan untuk menjalankan kewajiban serta diberi kesempatan untuk terus belajar. Astungkara.

Terimakasih tahun 2016. Mari mengukir kisah yang lebih manis di tahun 2017.

Mari menyambut tahun baru 2017 yang riang gemilang!

Saturday, October 29, 2016

Berkarya di Hutama Karya

Cerita berawal pada 22 Januari 2014, setelah melalui tahapan seleksi, akhirnya diberi kesempatan untuk bergabung menjadi pegawai kontrak profesional di perusahaan BUMN konstruksi PT. Hutama Karya (persero). Inilah menjadi titik pertama saya memasuki dunia kerja, karena sejak wisuda Sarjana pada akhir November 2013 saya hanya seorang fresh graduate-pengangguran-luntang lantung-tak berarti di Jogja.


Puji Syukur atas kesempatan yang diberikan, walau sebenarnya menjadi pegawai di perusahaan bukan merupakan cita-cita. Saya sejatinya ingin menjadi seorang jurnalis, penulis buku, peneliti, dosen: hari-harinya disibukkan dengan kegiatan tulis-menulis, meneliti, mengajar, mengkritisi, menjadi pembicara kesana kemari. Atau disisi lain, cita-cita saya yang paling paripurna adalah menjadi seorang musisi, pekerja seni. Keren pikir saya.

Belakangan baru saya sadari, menjadi pegawai juga tidak kalah keren. Terlebih lagi pegawai di perusahaan BUMN. Dengan aset tak kurang dari Rp 5.300 Triliun, perusahaan BUMN merupakan lokomotif penggerak perekonomian negara. Menariknya, BUMN tidak hanya mengejar keuntungan bisnis semata, namun juga mengedepankan kepentingan sosial dan kebermanfaatan bagi hajat hidup banyak orang. Singkatnya, dengan bekerja di perusahaan BUMN, saya ambil bagian untuk berkontribusi untuk kemajuan negeri.

Cerita berlanjut setelah bergabung di PT. Hutama Karya (persero) pada akhir Januari 2014, seminggu kemudian surat tugas terbit menugaskan saya di kantor Wilayah IV Denpasar. Sejak saat itu mulailah perjalanan saya mengenal rimba dunia kerja sebagai staf di Divisi Teknik dan Pemasaran: bagian yang bertugas untuk mencari informasi calon proyek, menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek hingga menyusun dokumen tender dengan target berhasil memenangkan sebuah tender proyek konstruksi. Memang agak kurang pas kalau dilihat dari latar belakang pendidikan saya sebagai Sarjana Teknik Planologi (Perencanaan Wilayah dan Kota). Sejujurnya, diawal saya merasa hal ini menjadi masalah. Saya kurang nyaman dengan perhitungan RAB super-detail, teknis dan njelimet semacam itu. Maklum, dulu ketika kuliah terbiasa memandang sebuah proyek konstruksi dari kacamata makro saja.


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Setahun bertugas di Wilayah IV Denpasar di Divisi Teknik dan Pemasaran, saya merasa jenuh. Selain memang merasa butuh tantangan baru, masa berlaku kontrak saya sebagai karyawan kontrak profesional juga sudah habis. Tentu tidak nyaman bekerja tanpa kepastian hukum. Saya galau berat bagaimana jika kontrak profesional tidak diperpanjang.

Benar saja, kontrak kerja saya memang tidak diperpanjang, karena ada semacam perampingan struktur organisasi. Wilayah IV Denpasar digabung menjadi satu kantor dengan Wilayah Surabaya. Ada beberapa karyawan yang dimutasi dan apa daya saya kebagian menjadi karyawan yang kontraknya tidak diperpanjang. Saya kecewa berat. Saya kecewa dengan sistem rekrutmen Hutama Karya yang saya pikir saat itu tidak jelas arahnya. Saya merasa diterlantarkan begitu saja. Mulai sejak itu, saya putus hubungan dengan Hutama Karya.

Kembalilah saya menjadi seorang job-seeker. Hari-hari terakhir di Wilayah IV Denpasar saya isi dengan menyiapkan berkas untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain. Mengikuti berbagai macam platform pencari kerja di internet. Beberapa kali terbang ke Jakarta untuk mengikuti tes hingga akhirnya lulus seleksi di salah satu perusahaan properti swasta. Namun, entahlah, ada perasaan kurang pas di hati. Saya memutuskan untuk tidak meneruskan prosesnya.

Saya diskusikan hal ini dengan atasan saya yang sudah mendapatkan surat pindah tugas. Di hari-hari terakhirnya di Wilayah IV Denpasar, beliau memberi saran agar saya kembali mengajukan lamaran pekerjaan di anak perusahaan Hutama Karya bidang pengembangan properti, PT. HK Realtindo, karena dipandang lebih nyambung dengan latar belakang pendidikan saya. Memang pada dasarnya saya ingin bekerja sesuai bidang pendidikan. Mulailah perjuangan saya melamar pekerjaan kembali di PT. HK Realtindo, anak perusahaan BUMN. Saya penasaran sekali dengan perusahaan ini.

Interview dilakukan beberapa kali dan akhirnya pada awal April 2015 saya diberi kesempatan untuk bergabung menjadi karyawan kontrak profesional di Divisi Procurement: pengadaan barang dan jasa. Ternyata walau sudah di HK Realtindo, masih saja ditempatkan di bagian yang tidak sesuai dengan minat saya. Kali ini tidak masalah. Saya siap ditempatkan di bagian mana saja. Tak banyak pilihan kerja bagi seorang minim pengalaman seperti saya. Justru di divisi ini saya mendapat banyak pelajaran penting tentang betapa pentingnya mengikuti alur prosedur yang sudah ditetapkan.


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Beberapa bulan berlalu hingga bulan Juni 2015 saya mulai galau dengan status kepegawaian saya yang masih berstatus pegawai kontrak. Bisa saja kontrak tersebut tidak diperpanjang. Seperti pengalaman saya sebelumnya. Maka tak jarang saya tanyakan kepada HRD perihal kepastian saya untuk diangkat menjadi karyawan tetap. Setidaknya, bekerja akan lebih nyaman bila ada kepastian hukum dan kesempatan untuk membina karir, pikir saya kala itu.

Tak kunjung ada jawaban yang memuaskan dari HRD, saya kembali kecewa. Namun tak lama kemudian, saya malah mendapat informasi dari teman di bagian HRD Hutama Karya. Saya kembali ditawari untuk mengikuti seleksi program Management Trainee di Hutama Karya, karena perusahaan sedang membutuhkan pegawai yang mempunyai kompetensi sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Management Trainee di Hutama Karya merupakan sebuah program spesial. Program ini merupakan upaya perusahaan untuk mencari talenta-fresh graduated yang akan dididik, dibina dan dikader agar sesuai dengan kompetensi SDM yang dibutuhkan perusahan sehingga mampu bekerja mewujudkan visi perusahaan. Program ini juga disebut "HK Future Leader": mempersiapkan talenta muda untuk mengisi posisi manajerial di masa depan. Program ini adalah jawabannya. Saya merasa ditantang.

Tahap demi tahap seleksi saya ikuti dengan mulus dan akhirnya dinyatakan lulus. Maka, tercatat tanggal 29 Juli 2015 merupakan episode baru bagi saya di Hutama Karya. Bergabung untuk kedua kalinya. Kesempatan kedua. Inilah kesempatan besar bagi saya untuk membina karir gemilang.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on
A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Setelah itu dilanjutkan dengan proses "On the Job Training (OJT)" selama 12 bulan dan dilakukan evaluasi setiap 6 bulan. Saya ditugaskan uuntuk menjalani OJT di anak perusahaan, HK Realtindo. Bukan kebetulan, karena sebelumnya memang sudah bergabung di HK Realtindo. Namun ada yang berbeda, saya tidak lagi di Divisi Procurement, saya dipindah tugas ke bagian Business Development: bagian inti dari proses bisnis perusahaan developer properti yang bertugas menyusun kajian lahan secara komprehensif dan merancang konsep pengembangan lahan hingga menganalisa kelayakan bisnis sebuah pengembangan proyek properti. Akhirnya saya berada di bagian yang dekat dengan latar pendidikan dan minat saya.


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Tibalah saya pada evaluasi pertama OJT pada Februari 2016. Inilah pertanggungjawaban hasil melakukan OJT selama 6 bulan di tempat tugas. Saya sajikan materi semaksimal mungkin di depan para panelis. Saya puas sudah melakukan yang terbaik. Kemudian dinyatakan lulus dan dipersilahkan untuk melanjutkan proses OJT selama 6 bulan kedepan.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Setelah beberapa bulan melewati proses OJT, saya merasa semakin tertantang di perusahaan ini.
Saya semakin mengerti tentang proses bisnis, potensi dan tantangan perusahaan kedepan. Saya semakin mengerti kekurangan dan kelebihan perusahaan. Dan terpenting, saya semakin paham dengan etos dan budaya kerja perusahaan yang dibina oleh para pendiri sejak 55 tahun silam. Diskusi obrolan warung kopi yang berlangsung dengan para teman sejawat maupun para senior juga membuat saya terpacu untuk belajar dan menyelami dunia bisnis korporat termasuk pola interaksi karyawan dan kehidupan politik kantor yang termasuk di dalamnya. Sejauh ini, sepertinya saya sudah berada di lingkungan yang tepat untuk mengembangkan diri. Kekecewaan saya dahulu terhadap Hutama Karya sirna sudah.

Tibalah pada perayaan ulang tahun PT. Hutama Karya (persero) ke - 55 bertema "Transformasi untuk Negeri". Tema tersebut dipilih karena perusahaan memang sedang gencar melakukan transformasi dari dulunya perusahaan jasa konstruksi biasa menjadi pengembang intrastruktur yang berarti tidak hanya bermain di ranah jasa kontraktor saja namun merambah bisnis hulu-hilir infrastruktur secara keseluruhan. Visi perusahaan berubah menuju "Indonesia's Most Valuable Infrastructure Developer" bahkan lirik lagu Mars-pun berubah. Saya beruntung terlibat dalam barisan paduan suara yang menyanyikan Mars versi baru untuk pertama kalinya.


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


Disela-sela pekerjaan, saya selalu mencari kesempatan untuk hadir di forum-forum yang memungkinkan saya berada di lingkungan positif, menjalin networking dan mencari kawan baru, salah satunya forum yang bertajuk "BUMN  Youth Community" yang diselenggarakan oleh Duta BUMN. Saya bangga sekali menjadi wakil Hutama Karya dalam forum lintas perusahaan BUMN seperti ini. Saya bisa bertukar pikiran dengan teman-teman yang berkarir di perusahaan BUMN lain.


Saya juga ikut mewakili Hutama Karya sebagai tuan rumah mendampingi para Duta BUMN untuk mengunjungi salah satu proyek prestisius yang sedang dikerjakan oleh Hutama Karya, proyek Mass Rapid Transit di seksi Bundaran HI. Saya bangga bisa memperkenalkan proyek Hutama Karya kepada perusahaan BUMN lain. Saya selalu merasa senang menjadi representatif perusahaan yang senantiasa mengedepankan inovasi seperti mottonya, Inovasi untuk Solusi. Dengan bangga saya menyebut diri sebagai Insan Hutama: sebutan bagi karyawan Hutama Karya.

Sedikit mengenai asal-usul motto perusahaan. Motto "Inovasi untuk Solusi" tidak terlepas dari pengaruh besar atas inovasi teknologi konstruksi yang digunakan untuk memutar bahu lengan beton jalan layang oleh mantan Direktur Utama Hutama Karya, Bapak Ir, Tjokorda Raka Sukawati pada tahun 1980-an. Sebagai orang Hutama Karya dan khususnya orang Bali, saya tentu boleh bangga dengan pencapaian senior saya tersebut.



Agustus 2016, tibalah saya pada evaluasi terakhir program Management Trainee sekaligus penentuan layak tidaknya saya diangkat menjadi pegawai tetap. Ini pertarungan hidup-mati. Saya tampil sesempurna mungkin. Saya sajikan materi sebaik mungkin agar menarik perhatian para panelis. Bersyukur akhirnya saya mampu menembus fase ini dengan mulus. Saya dinyatakan layak untuk melanjutkan proses berikutnya.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


Saat yang dinanti-nanti, sebelum secara resmi diangkat menjadi pegawai tetap perusahaan, terlebih dahulu saya diwajibkan untuk mengikuti Kursus Kepemimpinan berbasis militer di Pusat Pendidikan Zeni TNI-AD di Bogor selama 14 Hati. Saya ditempa dikarantina secara militer. Dijauhkan dari kebiasaan-kebiasaan sebagai orang sipil. 14 hari menjadi warga militer. Ini pengalaman yang luar biasa bagi saya. Kesempatan yang amat langka saya pikir. Disinilah kawah candradimuka para kesatria perang, termasuk saya, sebagai prajurit perusahaan BUMN.

Tidak hanya pembinaan fisik semata, TNI-AD mengajarkan saya mengenai kedisiplinan, kepemimpinan, ketekunan, kecepatan, inisiatif, integritas dalam bekerja. Banyak teori yang diajarkan oleh para guru militer yang dapat diaplikasikan dalam dunia kerja di perusahaan. Saya serap dan hayati betul setiap materi yang diberikan. Kasar, keras dan kaku. Banyak tindakan fisik dan perlakukan yang tidak mengenakkan. Terkesan seperti penyiksaan, namun bagi saya ini adalah proses penempaan mental level lanjutan.

Tentu ada banyak alasan perusahaan untuk mengirimkan saya ke daerah militer seperti ini. Saya dipersiapkan untuk terjun dalam medan perang bisnis yang sedemikian rupa terkadang kejam. Militer menanamkan doktrin kepemimpinan yang kuat di otak saya. Doktrin kepemimpinan terpatri di sanubari saya. Bahwa kita terlahir sebagai pemimpin, bukan pecundang yang menyerah sebelum berperang. Terimakasih Hutama Karya dan para komandan Zeni TNI-AD atas kesempatan berproses disini.

Pelatihan militer tersebut merupakan rangkaian program "HK Future Leader" dan saya tergabung dalam HK Future Leader Angkatan 08/2016 dengan julukan "Hasta Puraya" yang berisikan 28 orang dengan sebaran penugasan seluruh Indonesia. Di akhir Kursus Kepemimpinan, diberikan penilaian atas hasil belajar selama 14 hari meliputi: fisik, pengetahuan dan sikap. Saya dinyatakan sebagai 3 besar dengan nilai yang paling tinggi. Tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.




7 September 2016. Ini hari yang baik. Tanggal resminya nama saya dan 27 orang lainnya tercatat dalam database jajaran pegawai tetap di salah satu perusahaan BUMN terbaik ini. Siap mencurahkan segenap jiwa dan raga untuk bersama-sama mewujudkan visi perusahaan dan kejayaan negeri.


Mungkin hal yang biasa saja bagi sebagian orang. Namun setidaknya menjadi hari bersejarah bagi saya pribadi yang menghayati setiap detik proses kehidupan yang saya lalui. Akhirnya, sementara ini, perjalanan karir saya di perusahaan bisa dituliskan: "...bergabung pada 22 Januari 2014 dan diangkat menjadi pegawai tetap pada 7 September 2016". Sebuah hasil yang tidak mengkhianati usaha. Jawaban dari doa yang dipanjatkan oleh orang tua dan keluarga dirumah. Selanjutnya, semoga diberikan kesempatan untuk mengukir kisah dan membina karir dengan gegap gempita.

Sudah saatnya. Mari berkarya di Hutama Karya!