Postingan

Menampilkan postingan dengan label PWK

Tidak terasa sudah semester 8

Postingan pertama di bulan februari. Kenapa baru posting? Kemana aja? :D Iya, karena seminggu terakhir ini berada di rumah. Keasyikan dengan aktifitas spiritual, keluarga dan tentunya bercanda dengan ponakan jagoan Narendra :) Nah, sekarang sudah kembali ke dunia perantauan Jogja. Bersiap untuk menghadapi semester terakhir, semester 8. Astungkara. Semester ini saya sudah bebas teori alias sudah menapaki mata kuliah terakhir yang bernama Tugas Akhir. Dengan IPK yang sudah lumayan lah ya (kalo anak teknik katanya gaboleh tanya IP berapa :D ). Akhirnya saya percaya diri untuk mengentri Kartu Rencana Studi dengan mencentang mata kuliah ber SKS 8 ini. Waktu memang terkadang tak terasa. Terus merangkak pelan, berjalan, bahkan berlari. Mulai ketika pertama kalinya saya menapaki tanah jogja ini untuk menempuh kuliah di UGM tanggal 3 Agustus 2009 sampai sekarang ini penuh dengan kisah suka dan tak sedikit duka. Hiruk pikuk kisah di Jogja tak akan dilupakan sampai kapanpun. Jogja merupakan sala...

Event Sebagai Pemicu Regenerasi Kota (Kasus : Genoa, Italy)

Gambar
Sebagai pemicu awal untuk membuka peluang investasi di Kota Genoa maka diselenggarakan event besar yang bisa mendatangkan banyak orang dan mempercepat pembangunan infrastruktur. Pemerintah kota setempat juga membuat kebijakan untuk proses regenerasi dan berupaya melaksanakan proyek yang terpadu dan terintegrasi untuk menangani masalah fisik serta regenerasi ekonomi dan sosial. Hal ini dilakukan untuk mengubah citra kota Genoa dari kota industri menjadi kota pariwisata yang layak untuk dikunjungi. Penyelenggaraan event merupakan sebuah keuntungan bagi kota sebagai pemicu untuk mempercepat pembangunan kota. Dalam konteks kota Genoa penyelenggaranya event seperti, World Cup tahun 1990; Columbus Celebration 1992; G8 summit 2001 dan 2004 penunjukkan Genoa sebagai European Capital of Culture dapat meningkatkan eksistensi kota Genoa dalam persaingan global diantara negara-negara Eropa maupun dunia. Oleh karena itu, Genoa bisa segera merubah citra buruk dari kota pasca industri yang kumuh men...

PWK UGM 2009 : Suatu Malam Yang Tidak Biasa 21 Januari 2013

Gambar
Tidak terasa sudah melewati 7 semester bersama teman-teman di Perencanaan Wilayah dan Kota UGM Angkatan 2009 . Setelah ini, hampir tidak  ada lagi momen untuk berkumpul full team. Klimaksnya kemarin saat Malam Keakraban kita tanggal 20 - 22 Januari 2013 di Kaliurang. [caption id="attachment_802" align="aligncenter" width="574"] PWK UGM Angkatan 2009. Malam keakraban 20 - 22 Januari 2013[/caption] Suasana haru menyelimuti. Teringat atas apa saja yang sudah dilakukan bersama-sama selama 3,5 tahun terakhir. Hidup tumbuh dan berkembang di Kota Jogja dengan Almamater UGM menjadikan sebuah kebanggaan sekaligus kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan begitu saja. Terlalu indah untuk tidak kita masukkan dalam linimasa hidup kita. Terimakasih Tuhan, telah mempertemukan saya dengan orang-orang hebat teristimewa di PWK UGM 2009. Sebuah pengalaman hidup yang tak akan terlupakan. Cerita manis yang akan saya ceritakan pada anak dan cucu saya kelak. Pada malam itu k...

Tersesat di jalan yang benar!

“...dan saya berusaha menulis kembali”   Om Swastyastu.....   *FLASHBACK*   Tersesat di jalan yang benar! Ya! Begitulah kira2 di antara saya dengan PWK UGM (Perencanaan Wilayah dan Kota UGM). Saya diterima di Fakultas Teknik UGM Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota melalui jalur PBS angkatan 2009. Saya tentunya bangga bisa diterima di Kampus Kerakyatan yang 'katanya' kampus impian semua orang. Sebenarnya saya tidak begitu tahu tentang substansi perkuliahan yang akan saya tempuh di PWK. Sebagai putra daerah, Ilmu Tata Kota a.K.a Planologi alias PWK itu sangat awam di telinga. Di daerah saya kecenderungan lulusan SMA memilih untuk memutuskan kuliah di Jurusan sejuta umat, yaitu Ekonomi, Akuntansi, Komputer, Teknik Sipil, Hukum dan Kedokteran! Ya untuk yang satu ini memang menjadi primadona di daerah saya. Salah satu kebahagian orang tua adalah anaknya diterima di Fakultas Kedokteran *mungkin*. Mereka berani merogoh kantong sedalam-...

Asiknya merencanakan Tata Ruang! (Part 1)

Gambar
Perlukah merencanakan tata ruang? Mungkin pertanyaan semacam itu sering terlintas di sebagian besar benak masyarakat Indonesia yang pada umumnya masih awam dengan Tata Ruang. Sebagian besar masyarakat masih menganggap Rencana Tata Ruang hanya bersifat Formalitas semata, karena menurut mereka Rencana Tata Ruang adalah sebuah produk yang dalam pengimplentasiannya di lapangan bisa dibilang nihil alias NOL besar. Sebagian masyarakat juga menganggap Penataan Ruang bisa menghambat Perkembangan Kota atau paradigma yang lebih ekstrim yang terjadi di masyarakat adalah seorang Planner (Perencana Kota) dikatakan sebagai seorang yang sok meramal masa depan. Mereka menganggap Kota itu tidak perlu direncanakan, biarkan Kota berkembang dengan sendirinya. Jadi gini, meraka beranggapan " bagaimana Kota bisa maju, kalau dalam perkembangannya dibatasi oleh KDB, KLB, KDH, Amdal dan sebagainya ". Coba saja kita renungkan, Kemacetan, Banjir, Kawasan kumuh, Polusi Udara, Sampah, Penurunan tanah, Ke...

Solo, dalam upaya me’manusiawi’kan Kota!

Pada umumnya manusia sangat bergantung pada keadaan lingkungan disekitarnya yaitu berupa sumber daya alam dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya upaya untuk menjaga sumber daya alam tersebut dalam kaitannya dengan konservasi lingkungan hidup. Sumber daya alam yang utama bagi manusia,  yaitu tanah, air dan udara. Keseimbangan ketiga elemen ini menjadi unsur dalam perwujudan lingkungan hidup yang baik. Lingkungan yang sehat akan terwujud apabila manusia dan lingkungannya dalam kondisi yang baik, dan lingkungan yang sehat akan membentuk kenyamanan manusia dalam kelangsungan hidupnya. Dalam lingkup perkotaan, lingkungan hidup yang baik merupakan syarat yang mutlak dalam perwujudan kota yang humanis, kota yang layak huni. Lingkungan hidup perkotaan yang baik akan membentuk suatu kota yang “manusiawi” , artinya kota yang bisa me – manusiawi- kan manusianya itu sendiri, kota yang tidak membatasi gerak langkah kreatifitas manusia dalam ...