Wednesday, December 31, 2014

Dimulai di Tahun 2014, Bertumbuh di Tahun 2015


Dalam hitungan menit, tahun 2014 akan berakhir dan mau tak mau kita segera beranjak menuju tahun baru 2015. Seperti biasa, saya rasa perlu untuk sedikit menengok ke belakang atas apa saja yang telah dilakukan dan belum dilakukan di tahun ini. Bagi saya, hal ini penting untuk bisa mengevaluasi diri sendiri dan sejenak merenung agar bisa bertumbuh lebih baik lagi di tahun baru 2015 nanti.


Kehidupan Sebenarnya


Bisa saja benar yang dibilang orang-orang. Katanya, kehidupan sebenar-benarnya dimulai pada dunia pasca-kampus alias setelah wisuda. Jika mengikuti kaidah itu, berarti kehidupan saya yang sebenarnya dimulai pada tahun 2014.


Saya lulus menjadi sarjana pada bulan November 2013 lalu. Kemudian otomatis menyandang status menjadi seorang Job Seeker (kalau tak mau disebut pengangguran) luntang-lantung di Jogja. Fase ini saya lewati dengan sangat menyenangkan. Tepatnya bulan Desember 2013, hidup serasa ringan, tanpa beban. Ini senikmat-nikmatnya menjadi individu yang merdeka, bisa melakukan apa saja. Mau ngeband kapan aja, begadang, bangun siang setiap hari, mendekam dibalik kehangatan selimut berjam-jam, baca buku, youtube-ing, nonton film, bikin film pendek, rekaman, pacaran, kelayapan semalaman di jalanan, tak tidur 2 hari lalu dibalas hibernasi sampe 4 hari. Semua bisa dilakukan dengan waktu senggang yang terlalu berlebihan.


Yang terpikir hanya satu: Ah, sungguh nikmatnya hidup tanpa skripsi.


Tapi kenikmatan itu tak berlangsung lama. Bintang-bintang diatas, tempat saya menggantungkan mimpi mulai gelisah. Pertanyaan demi pertanyaan mulai datang mengganggu tidur nyenyak. “Mau sampai kapan kamu begini. Mau jadi apa kamu. Kamu merantau kuliah di Jogja untuk apa. Untuk siapa. Apa tujuanmu merantau. Apa tujuanmu kuliah di Jogja. Bagaimana perasaan orang tua jika tau anak sarjananya hanya bermalas-malasan. Emang enak jadi pengangguran


Oleh karenanya, saya benar-benar menjadi tak nyenyak tidur.



Peletakan Batu Pertama di Tahun 2014


Januari 2014 bisa dikatakan sebagai awal dari perjalanan saya mengarungi dunia yang ‘sebenarnya’. Dimulai dengan menggencarkan apply pekerjaan di berbagai perusahaan yang saya minati. Saya harus segera mendapat pekerjaan, pikir saya ketika itu. Minimal untuk bisa benar-benar hidup mandiri secara finansial, tanpa sms rutin ke orang tua untuk minta dikirimkan kucuran dana untuk beli ini beli itu.


Saya sungguh bergairah untuk mendapatkan pekerjaan di awal tahun 2014. Sepertinya saya memang harus mempunyai penghasilan sendiri dan mulai belajar untuk benar-benar mengaturnya. Feeling saya saat itu mengatakan tahun 2014 memang waktu yang tepat bagi saya untuk memulai semuanya. Jangan buang waktu.


Saat itu, niat saya yang paling mulia hanya tak mau merepotkan orang tua. Saya ingin hidup secara mandiri dan bisa memenuhi biaya untuk hidup tanpa minta melulu ke orang tua. Tak perlu muluk-muluk untuk urusan gaji, karena selain uang, yang jauh lebih saya butuhkan kala itu adalah pengalaman dan relasi.


Gayung bersambut. Niat yang baik memang selalu disambut dengan baik. Benar saja, semesta menyambut saya. Saya dipanggil oleh perusahaan BUMN konstruksi PT. Hutama Karya (Persero) untuk mengikuti rangkaian tes di Jakarta.


Saya ikuti tahapan tes dengan seksama dan semua berlalu hingga akhirnya pada tanggal 28 Januari 2014 saya menandatangani kontrak kerja pertama saya menjadi pegawai di perusahaan konstruksi itu. Dan begitulah, saya rasa pintu gerbang sudah terbuka. Inilah pekerjaan pertama saya dalam arti menjadi seorang pekerja yang mendapatkan hak berupa gaji secara rutin setiap bulan. Sampai saat ini saya yakin, tahap ini benar-benar cikal bakal dari keseluruhan perjalanan. Semacam pemantik dalam nyala api yang berkobar.


Saya lalu berimajinasi, kalau perjalanan karir saya diibaratkan sebuah bangunan besar yang megah, momen saat itu adalah semacam ceremony peletakan batu pertamanya.


Pulang Kampung tak Disangka


Awal Februari 2014 saatnya pengumuman penempatan tugas. Di dalam kontrak kerja, saya telah menyetujui untuk bersedia ditugaskan di seluruh wilayah Indonesia. Saya tak khawatir, saya benar-benar siap ditugaskan dimana saja. Walau sebenarnya saya telah mendapat bocoran sebelumnya dari pegawai senior disana bahwa saya akan mendapat tugas di kantor pusat Jakarta.


Maka saya telah rencanakan semuanya, dengan kata lain saya mulai paksakan diri untuk mengakrabi ibukota dengan udara panas, macet, sumpek, banjir dan hiruk pikuk lainnya. Saya berkali-kali sadarkan diri bahwa saya tidak sedang di Jogja dengan santainya atau bahkan Bali dengan segenap kenyamanannya. Suka tak suka saya harus lanjutkan hidup ini. Menjadi seorang pekerja kantoran di Ibukota Jakarta yang begitulah...


Tapi rencana memang tak selalu pasti. Dan akhirnya saya ditugaskan di kantor Bali. Tugas yang ajaib. Tak pernah saya sangka sebelumnya. Saya bekerja dirumah yang nyaman dan amat dekat dengan keluarga.


Pulang kampung, pikir saya kala itu. Inilah waktunya untuk kembali ke pelukan orang tua, setelah tak kurang lima tahun saya paksakan diri untuk menjauh ke Jogja untuk menimba ilmu. Saya cukup terharu dengan penugasan ini. Orang tua juga tak kalah terharu. Akhirnya anak ini kembali ke pangkuannya.


Tapi jujur saja, dalam rencana hidup jangka pendek yang selalu saya pikirkan, bahkan sama sekali tak saya camtukan Bali sebagai tempat untuk bekerja dalam waktu dekat ini. Oleh karena itu, ada banyak poin-poin rencana yang harus saya sesuaikan bahkan saya tunda.


Karena tugas di Bali, ada beberapa rencana yang akan saya lakukan di Jakarta yang saya tunda dan tinggal sementara, termasuk seseorang yang telah menjadi teman dekat, sahabat terbaik, kasih tersayang selama tahun sebelumnya. Hubungan kita sekarang bahkan ditambah dengan dimensi jarak. Antara Jakarta dan Bali.


Saya kembali sadarkan diri, saya akan bekerja di rumah. Saya alihkan sekrup tubuh dari mode: ‘merantau’ ke mode: ‘sedang dirumah’. Semua akan lebih gampang, pikir saya. Saya kembali ke zona nyaman.


Dengan tugas di Bali, saya bisa lebih dekat dengan keluarga dan bisa mengikuti padatnya upacara agama yang berlangsung dirumah. Maklum, selama lima tahun di Jogja banyak momentum penting keagamaan yang tidak bisa saya ikuti.


Mulai Pegang Duit Sendiri 


Mulailah saya menjadi pegawai kantoran. Tak mudah membiasakan diri berdiam di belakang komputer berjam-jam. Oh, begini toh rasanya jadi pegawai kantor yang banyak orang bilang membosankan. Terbukti, memang jadi pegawai kantoran itu benar-benar amat membosankan. Walau setidaknya saya terbantu dengan diberi tugas di bagian yang paling sering keluar kantor. Sering keluar kota.


Dengan rutinitas yang membosankan di kantor, saya tak berhenti atau menyerah begitu saja. Maksudnya, saya harus mampu menyesuaikan diri dengan rutinitas ini. Suka tak suka ya jalani sudah. Tak banyak pilihan bagi kertas kosong di dunia kerja seperti saya. Toh akhirnya pada akhir bulan saya mendapat hak berupa gaji yang dipakai untuk biaya hidup saya sendiri dan lainnya. Saya tersenyum kembali.


Bangga rasanya. Di tahun 2014 ini saya benar-benar bisa hidup dengan jerih payah sendiri. Orang tua mungkin lebih bangga. Anak bungsunya ini akhirnya bisa hidup mandiri dalam arti sudah punya penghasilan bulanan sendiri.


Dengan duit sendiri, saya bisa bepergian kemanapun, membeli pakaian, mentraktir teman, memperbanyak koleksi buku, membeli CD musik favorit, nonton film, datang ke konser musik dan lainnya. Mungkin bagi kebanyakan orang hal ini biasa saja, tapi bagi saya di tahun 2014 inilah saya memulai untuk mengelola duit sendiri. Beda dengan dulu di Jogja ketika kuliah, kalau duit habis ya tinggal sms minta duit sama orang tua. Kalau sekarang ya duit duit sendiri mau diapakan ya tanggung jawab sendiri.


Walau sebenarnya masih tetap makan mie instan dan mengisap rokok eceran di hari-hari sebelum gajian akibat boros keterlaluan di awal-awal bulan. Yang jelas, dengan duit sendiri saya dituntut lebih bertanggung jawab dan bijaksana dalam mengelola duit.


 


Hampir Tidak Bermusik di Tahun 2014


Yang cukup menganggu kepuasan batin saya, di tahun 2014 ini saya benar-benar tidak ada berekpresi musik di atas panggung. Saya meninggalkan hobi satu-satunya yang saya miliki. Saya hampir tidak pernah main musik kecuali hanya pernah sesekali jamming di studio yang itupun bisa diitung dengan jari di sebelah tangan. Ya sudah bisa ditebak, karena jam saya untuk main musik diganggu oleh padatnya jam kantor. Hehe.


Ah saya rindu ngeband lagi. Maklum 5 tahun terakhir di Jogja hari-hari saya cukup mengesankan dengan perform dari panggung ke panggung. Dulu pasti ada saja lah aktivitas di musik.


Oke di tahun 2015, mari kita ngeband lagi. Hasrat musik saya sepertinya tak terbendung lagi.


 


Terimakasih 2014, Selamat Datang 2015


Tahun 2014 memang mempunyai kesan tersendiri di banding tahun sebelumnya di hidup saya. Bisa juga dibilang masa transisi dari kehidupan penuh romantisme teori dan dialektika di masa kuliah ke kehidupan realita yang berpijak bumi. Saya menikmati betul fase ini.


Sepertinya tak berlebihan saya katakan kalau tahun 2014 ini tahun yang penting dan bersejarah di linimasa hidup saya. Saya mendapat pekerjaan pertama di tahun ini. Saya mulai semuanya di tahun ini. Maka tahun baru 2015 yang sudah di depan mata ini harapan saya perlahan namun pasti akan menjadi pribadi yang bertumbuh.


Kira-kira begitulah tahun ini. Tahun 2014 yang tak banyak warna namun banyak merubah rutinitas saya.


Maka, misteri hidup di tahun 2015 membuat saya penasaran. Mau dimana, jadi apa dan bagaimana hidup saya di tahun itu. Saya sungguh bersemangat.


Hari-hari di kantor membuat saya tak jarang merasa kurang beristirahat, penat, capek dan bosan. Tapi dengan begitu, artinya saya sudah berada di jalan yang benar karena sudah seharusnya begitu. Yang saya yakini, saya sedang bergerak. Karena saya pernah berada di masa-masa statis tak produktif dimana jam tidur mengalahkan segalanya.


Saya percaya, suatu saat kita akan menyesal bukan karena apa yang telah kita lakukan, tapi karena apa yang kita tak pernah lakukan di muka bumi. Maka, lakukanlah apa yang harus dilakukan. Maka, saya senantiasa harus bergerak.


Yah begitulah tahun 2014..


Terimakasih untuk apa yang telah terjadi di 2014, dan yang harus terjadi di 2015, saya siap!


Akhirnya saya ucapkan Selamat tahun baru 2015 untuk semuanya. Ayo kerja kerja kerja!