Friday, December 29, 2017

Catatan Akhir Tahun 2017

Saya terpaksa menulis blog lagi. Cek kalender ternyata sudah di penghujung tahun 2017. Waktu terasa sangat cepat. Saatnya untuk menulis Catatan Akhir Tahun. Membuat kaleidoskop pribadi agar tidak lupa dan menjadi bahan renungan di masa depan.

Secara singkat, tahun 2017 ini merupakan tahun yang luar biasa bagi saya. Tahun yang padat. Tahun yang penuh kejutan. 

Baiklah, saya mulai saja cerita tentang perjalanan di tahun 2017 yang ditutup dengan sungguh manis ini. 

Berjejaring di Perkumpulan Profesi
Awal tahun 2017 saya gunakan untuk ngumpul dengan teman-teman baru di Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP). Itu semacam wadah ngumpulnya para lulusan bidang Perencanaan Wilayah dan Kota se-Indonesia untuk membahas berbagai macam permasalahan dan solusi perkotaan dsb. Mereka terdiri dari praktisi, dosen, PNS, pengusaha, konsultan dan berbagai profesi lainnya. Canggih-canggih semua orangnya. 

Sejak dulu saya penasaran mengenai apa yang dilakukan atau didiskusikan bila beberapa orang ahli ini berkumpul. Saya hanya ingin tahu dan ingin belajar. Ternyata memang seru. Walaupun saya hanya anggota yang ikut-ikutan saja, tapi saya kagum pada mereka yang teguh memperjuangkan eksistensi keilmuannya.

Jejaring pertemanan ini akan menjadi istimewa di masa depan. 


A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on




Migunani Tumpraping Liyan
Saya selalu berusaha sebisa mungkin untuk berguna bagi orang lain. Belajar untuk menghayati falsafah Jawa yang luhur "Migunani Tumpraping Liyan". Karena menjadi berguna bagi orang lain itu tidak susah. Tidak perlu menunggu jadi orang sakti dulu. Membantu orang lain adalah hal yang biasa saja. Memang begitu seharusnya. Hakekat kehidupan.

Praktek sederhananya, saya mengajak Junior saya di kampus UGM untuk rame-rame magang di kantor saya disaat mereka sedang kebingungan mencari tempat magang. Saya yakin mereka adalah anak-anak yang canggih, jauh lebih canggih dari saya. Jadi, gampang lah kalo sekedar magang di kantor, bisa saya urus itu.

Mereka tinggal siapkan CV yang bagus. Kemudian saya yang akan kekeuh sedikit mendesak untuk meyakinkan para pejabat di kantor agar menerima surat lamaran mereka. Dan begitulah akhirnya 7 orang diterima, mereka magang 2 bulan di kantor dengan perasaan senang. Saya super senang juga, karena para pejabat ternyata puas dengan hasil kerja mereka. Saya membantu 2 pihak sekaligus, para adik-adik junior saya yang butuh pengalaman dan kantor saya yang memang membutuhkan tenaga kerja tambahan.

Sederhana banget kan, tapi nilai hidup seperti ini yang akan saya tumbuhkan terus di kemudian hari.




Semakin Belajar, Semakin Bodoh
Hakekat belajar yang saya yakini adalah bukan tentang memasukkan berbagai pengetahuan ke dalam otak, tapi melebarkan cakrawala berpikir untuk dapat menerima pengetahuan baru. Maka, semakin belajar, semakin tidak tau apa-apa, semakin bodoh diri ini, karena cakrawala berpikirnya melebar. Terus saja begitu sampai kapanpun kita tidak akan pernah menjadi benar-benar pintar. Yang berubah hanya kematangan berpikir dan kebijaksanaan membuat keputusan hidup. Itu yang saya haqul yakini.

Maka dengan menganut konsep itu, saya selalu sibukkan diri dengan hal-hal yang bisa melebarkan cakrawala berpikir saya. Pada Februari 2017, salah satunya saya berkesempatan belajar dari orang-orang yang saya kagumi dengan mengikuti talkshow-nya. Sebut saja, Bapak Triawan Munaf, Ibu Tri Rismaharini, Alfatih Timur, Belva Devara, dan banyak sekali anak muda seumuran saya yang sudah melakukan hal-hal yang sungguh menginspirasi dan tentu memperlebar cakrawala pikir. Seketika saya merasa bersalah sebagai anak muda yang belum melakukan hal-hal keren.




Work-Life Harmony
Dulu saya menghayati konsep Work-Life Balance, konsep keseimbangan antara waktu untuk bekerja dan waktu untuk hidup. Tapi belakangan saya menemukan lagi konsep sama dengan nama yang lebih pas dan asik, Work-Life Harmony, yaitu dengan memposisikan diri bahwa bekerja berarti bersenang-senang. Maksudnya, ketika kita bekerja itu sekaligus juga kita hidup, kita berkarya, kita bersenang-senang. Maka, lakukan pekerjaan yang kita senangi dan hiduplah dari itu. Bekerja dan bersenang-senang dalam waktu yang bersamaan.

Saya membayangkan, nyaris tidak ada batasan antara dunia kerja dan dunia kehidupan (yang menyenangkan). Dalam dunia kerja itulah kita hidup. Setiap hari hidup, setiap hari bersenang-senang. Hiruk pikuk pekerjaan sama sekali tidak mengganggu kesenangan kita. Pada akhirnya, saya menghayati setiap hari itu melakukan hal yang saya senangi, yang saya dengan sadar lakukan, tanpa ada paksaan apapun. Teorinya sih begitu. Prakteknya bisa beda lagi.

Bila disederhanakan mungkin begini. Bekerjalah karena ingin berkarya. Bukan karena hal-hal materiil, jabatan, kekuasaan dll. Itu semua hanya efek samping atas kegigihan kita untuk berkarya dan melakukan hal-hal yang baik. Begitu konsepnya. Bukan prakteknya. Konsep itulah yang selalu berusaha saya tanamkan kedalam diri saya.

Walau mungkin tidak ada hubungan secara langsung dengan cerita saya diatas, video berikut bisa saja menjadi gambaran bagaimana saya mengharmoniskan dunia kantoran dan musik. Ambil gitar dan nyanyi langsung seketika itu juga, di kantor.


A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on





Pindah Kantor
Ini salah satu kejutan di tahun 2017. Tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Pada akhir bulan Maret 2017 saya dipindahtugaskan ke anak perusahaan baru yang bergerak dibidang pengembangan Jalan Tol dan menjadi karyawan pertama di perusahaan itu. Sekali lagi, karyawan pertama. Terdapat 2 orang Direksi dan saya karyawan pertama. Perusahaan baru ini terdiri dari total 3 orang dimana 2 orang Direksi itu juga sedang menjabat posisi berbeda di tempat lain. Apa itu artinya?

Yap betul, secara praktek, saya mengerjakan segala tetek bengek urusan A sampai Z mulai dari legalitas perusahaan, RUPS pertama, membuat SK yang dibutuhkan, prosedur, organisasi, corporate planning, belum lagi urusan teknik: design, feasibility study, AMDAL, pengadaan dll. Hal-hal tersebut sangat asing bagi saya ketika itu. Saya benar-benar kosong nyaris tanpa arah. Direksi mempercayakan sepenuhnya kepada saya dengan arahan yang sangat minimalis.

Namun berita baiknya adalah, saya dipromosikan untuk mengisi jabatan menjadi Manager. Pada saat itu, sebenarnya saya ragu itu berita baik atau buruk. Sekali lagi, ada 2 orang Direksi dan 1 orang Manager dalam satu perusahaan. Terus mau ngapain?

Semenjak itu, tepatnya awal April 2017, mulailah petualangan baru saya menjadi seorang Manager Perencanaan & Pengembangan pada Divisi Teknik dengan segala ketidaktauan apa yang harus saya lakukan. Saya benar-benar bingung apa yang harus saya lakukan sebagai satu-satunya karyawan dibawah Direksi. Saya seperti dicemplungkan ke kolam yang dalam dengan keadaan yang tidak bisa berenang. Sama sekali tidak tau bagaimana cara berenang dengan baik. Pilihannya adalah tenggelam atau terpaksa berenang. Saya memilih yang kedua. Walau tidak langsung bisa berenang dengan baik, minimal bisa mengapung saja dulu dengan menggerakkan tangan dan kaki sebisanya. Susah sih tapi ternyata bisa.








Kuliah Lagi 
Pendidikan adalah kunci peradaban. Ia adalah proses panjang sedemikian rupa sehingga menjadikan seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu. Dari yang tidak bisa menjadi bisa. Proses sakral yang membentuk karakter masing-masing orang dan menjadi refleksi dari peradaban setiap jaman. Begitu kira-kira gambaran besarnya.

Dan bila sudah ngomongin tentang pendidikan, saya langsung teringat kedua orang tua saya. Selain karena mereka berdua berprofesi sebagai Guru, juga karena beliaulah yang mengantarkan saya ke gerbang pendidikan. Dari TK,SD,SMP,SMA hingga menjadi Sarjana seperti sekarang ini semua atas usaha dengan sepenuh hati untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya. Pendidikan Sarjana-nya juga tidak sembarangan, saya diberi kesempatan oleh orang tua untuk mengenyam pendidikan tinggi di kampus terbaik di negeri ini. Saya merasa menjadi anak yang paling beruntung. Berkali-kali saya sampaikan, terima kasih Bapak dan Ibu!

Kemudian setelah  lulus S-1 di akhir 2013, saya sudah mulai pasang ancang-ancang untuk sesegera mungkin melanjutkan pendidikan S-2. Ada beberapa alasan kenapa  harus S-2, mudah-mudahan nanti bisa saya ceritakan pada postingan setelah ini. 

Semua upaya saya lakukan untuk  mewujudkan keinginan saya itu. Mbuh piye carane. Masalah utama tentu pembiayaan perkuliahan yang cukup mahal. Namun saya percaya, selalu ada jalan untuk hal yang baik. 

Benar saja, akhirnya keinginan tersebut terwujud di tahun ini pada Agustus 2017. Masalah pembiayaan sudah menemui solusinya. Segala rangkaian tes sudah saya lewati dengan sangat baik dan dinyatakan lolos, sehingga saat ini saya menyandang status menjadi Mahasiswa Pascasarjana MM UGM. Sungguh membanggakan menjadi Mahasiswa UGM lagi.

Begitulah. Kesempatan untuk terus menerus belajar adalah hal yang membahagiakan bagi saya. Belajar apapun, dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Tidak melulu melalui jalur formal saja. Saya berupaya sepenuh hati untuk istiqomah menjadi pribadi pembelajar sampai akhir hayat. Karena hal yang menurut saya paling tidak keren adalah tong kosong yang berbunyi nyaring.


Pulang ke Almamater Gadjah Mada. __ 19 Agustus 2009 silam, saya menjadi salah satu peserta orientasi mahasiswa baru di Fakultas Teknik UGM. Perasaan biasa saja. Tidak bangga-bangga banget. Belakangan saya baru sadar bahwa keputusan untuk memilih kuliah di kampus ini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup. Terima kasih Bapak dan Ibu yang memberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan di kampus kebanggaan ini. Saya akhirnya lulus di akhir tahun 2013 dengan IPK yang yaa cukup lah.. __ Hari ini, 12 Agustus 2017, saya pulang kembali ke peraduan almamater Gadjah Mada untuk mengikuti orientasi mahasiswa pascasarjana di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Dengan kata lain, saya menjadi mahasiswa MM UGM mulai hari ini. Iya, kali ini saya selingkuh dari ilmu Teknik. Hehe.. __ Saya benar-benar merasa pulang kampung. Menyanyikan Hymne Gadjah Mada dengan khusyuk itu bikin merinding gila. Sangat emosional. Alumni UGM yang lain juga sepertinya sepakat dengan saya. Hymne Gadjah Mada itu magis betul. __ Bersyukur sekali atas kesempatannya lagi untuk belajar disini. Tidak akan saya sia-siakan kesempatan ini. Saya merasa sangat bergairah kembali bergulat dengan dunia akademik. Sudah terbayang keseruan diskusi di kelas beberapa waktu ke depan. __ Semoga bisa membagi waktu dengan baik. Rutinitas kantor berjalan lancar dan menjadi civitas akademika yang sukses. Karir jalan terus dan lulus kuliah tepat waktu. Semoga semesta selalu mendukung. Astungkara. __ Mengakar Kuat, Menjulang Tinggi!
A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on





Main ke Pulau Samosir

Pulau Samosir, Danau Toba adalah salah satu dari sedemikian banyak  destinasi yang  hanya saya  ketahui dari  buku RPUL jaman sekolah dulu. Dan Oktober tahun 2017 saya mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di Pulau Samosir dan menikmati keindahan Danau Toba secara langsung. Ternyata jauuuuh lebih seru daripada apa yang diceritakan dalam buku itu.





Bapak dan Ibu ke Jakarta

Ini bisa dibilang momen bersejarah. Akhirnya pada  awal November 2017, Bapak dan Ibu ke Jakarta, melihat secara langsung tempat tinggal, lingkungan sekitar dan kantor saya untuk pertama kali. Dan yang tak kalah penting, akhirnya mereka melihat kemacetan yang ga masuk akal di Pancoran dan sebagian besar wilayah Jakarta yang lain. Mereka melihat secara langsung arena tempur anak bungsunya ini. Saya sangat terharu dan sentimentil.

Saya sudah lama menanti momen ini terjadi. Sembahyang bersama Bapak dan Ibu sembahyang di Pura Rawamangun dan Pura Gunung Salak sungguh menenangkan. Satu mimpi saya terwujud.





Penutup yang Manis

Tahun 2017 benar-benar ditutup dengan sangat manis. 

Pemanis dari segala rangkaian perjalanan setahun penuh. Aduh, saya kehabisan kata-kata di bagian ini..

Saat ini dan seterusnya kita sama-sama ya, Dewa Ayu Pradnyasari. Terima kasih sudah menebar kebahagiaan di hari-hariku beberapa waktu belakangan ini. Tahun-tahun berikutnya adalah milik kita.

A post shared by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Demikian kira-kira cerita singkat perjalanan hidup saya di 2017. Terima kasih untuk segenap pelajarannya dan penutupnya yang manis.

Seperti orang bijak bilang, "Guru akan datang ketika muridnya sudah siap". Maka, mari bersiap menyambut guru-guru berikutnya di tahun 2018.

Mari menyambut tahun baru 2018 yang cemerlang!