Saturday, October 29, 2016

Berkarya di Hutama Karya

Cerita berawal pada 22 Januari 2014, setelah melalui tahapan seleksi, akhirnya diberi kesempatan untuk bergabung menjadi pegawai kontrak profesional di perusahaan BUMN konstruksi PT. Hutama Karya (persero). Inilah menjadi titik pertama saya memasuki dunia kerja, karena sejak wisuda Sarjana pada akhir November 2013 saya hanya seorang fresh graduate-pengangguran-luntang lantung-tak berarti di Jogja.


Puji Syukur atas kesempatan yang diberikan, walau sebenarnya menjadi pegawai di perusahaan bukan merupakan cita-cita. Saya sejatinya ingin menjadi seorang jurnalis, penulis buku, peneliti, dosen: hari-harinya disibukkan dengan kegiatan tulis-menulis, meneliti, mengajar, mengkritisi, menjadi pembicara kesana kemari. Atau disisi lain, cita-cita saya yang paling paripurna adalah menjadi seorang musisi, pekerja seni. Keren pikir saya.

Belakangan baru saya sadari, menjadi pegawai juga tidak kalah keren. Terlebih lagi pegawai di perusahaan BUMN. Dengan aset tak kurang dari Rp 5.300 Triliun, perusahaan BUMN merupakan lokomotif penggerak perekonomian negara. Menariknya, BUMN tidak hanya mengejar keuntungan bisnis semata, namun juga mengedepankan kepentingan sosial dan kebermanfaatan bagi hajat hidup banyak orang. Singkatnya, dengan bekerja di perusahaan BUMN, saya ambil bagian untuk berkontribusi untuk kemajuan negeri.

Cerita berlanjut setelah bergabung di PT. Hutama Karya (persero) pada akhir Januari 2014, seminggu kemudian surat tugas terbit menugaskan saya di kantor Wilayah IV Denpasar. Sejak saat itu mulailah perjalanan saya mengenal rimba dunia kerja sebagai staf di Divisi Teknik dan Pemasaran: bagian yang bertugas untuk mencari informasi calon proyek, menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek hingga menyusun dokumen tender dengan target berhasil memenangkan sebuah tender proyek konstruksi. Memang agak kurang pas kalau dilihat dari latar belakang pendidikan saya sebagai Sarjana Teknik Planologi (Perencanaan Wilayah dan Kota). Sejujurnya, diawal saya merasa hal ini menjadi masalah. Saya kurang nyaman dengan perhitungan RAB super-detail, teknis dan njelimet semacam itu. Maklum, dulu ketika kuliah terbiasa memandang sebuah proyek konstruksi dari kacamata makro saja.


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Setahun bertugas di Wilayah IV Denpasar di Divisi Teknik dan Pemasaran, saya merasa jenuh. Selain memang merasa butuh tantangan baru, masa berlaku kontrak saya sebagai karyawan kontrak profesional juga sudah habis. Tentu tidak nyaman bekerja tanpa kepastian hukum. Saya galau berat bagaimana jika kontrak profesional tidak diperpanjang.

Benar saja, kontrak kerja saya memang tidak diperpanjang, karena ada semacam perampingan struktur organisasi. Wilayah IV Denpasar digabung menjadi satu kantor dengan Wilayah Surabaya. Ada beberapa karyawan yang dimutasi dan apa daya saya kebagian menjadi karyawan yang kontraknya tidak diperpanjang. Saya kecewa berat. Saya kecewa dengan sistem rekrutmen Hutama Karya yang saya pikir saat itu tidak jelas arahnya. Saya merasa diterlantarkan begitu saja. Mulai sejak itu, saya putus hubungan dengan Hutama Karya.

Kembalilah saya menjadi seorang job-seeker. Hari-hari terakhir di Wilayah IV Denpasar saya isi dengan menyiapkan berkas untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain. Mengikuti berbagai macam platform pencari kerja di internet. Beberapa kali terbang ke Jakarta untuk mengikuti tes hingga akhirnya lulus seleksi di salah satu perusahaan properti swasta. Namun, entahlah, ada perasaan kurang pas di hati. Saya memutuskan untuk tidak meneruskan prosesnya.

Saya diskusikan hal ini dengan atasan saya yang sudah mendapatkan surat pindah tugas. Di hari-hari terakhirnya di Wilayah IV Denpasar, beliau memberi saran agar saya kembali mengajukan lamaran pekerjaan di anak perusahaan Hutama Karya bidang pengembangan properti, PT. HK Realtindo, karena dipandang lebih nyambung dengan latar belakang pendidikan saya. Memang pada dasarnya saya ingin bekerja sesuai bidang pendidikan. Mulailah perjuangan saya melamar pekerjaan kembali di PT. HK Realtindo, anak perusahaan BUMN. Saya penasaran sekali dengan perusahaan ini.

Interview dilakukan beberapa kali dan akhirnya pada awal April 2015 saya diberi kesempatan untuk bergabung menjadi karyawan kontrak profesional di Divisi Procurement: pengadaan barang dan jasa. Ternyata walau sudah di HK Realtindo, masih saja ditempatkan di bagian yang tidak sesuai dengan minat saya. Kali ini tidak masalah. Saya siap ditempatkan di bagian mana saja. Tak banyak pilihan kerja bagi seorang minim pengalaman seperti saya. Justru di divisi ini saya mendapat banyak pelajaran penting tentang betapa pentingnya mengikuti alur prosedur yang sudah ditetapkan.


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Beberapa bulan berlalu hingga bulan Juni 2015 saya mulai galau dengan status kepegawaian saya yang masih berstatus pegawai kontrak. Bisa saja kontrak tersebut tidak diperpanjang. Seperti pengalaman saya sebelumnya. Maka tak jarang saya tanyakan kepada HRD perihal kepastian saya untuk diangkat menjadi karyawan tetap. Setidaknya, bekerja akan lebih nyaman bila ada kepastian hukum dan kesempatan untuk membina karir, pikir saya kala itu.

Tak kunjung ada jawaban yang memuaskan dari HRD, saya kembali kecewa. Namun tak lama kemudian, saya malah mendapat informasi dari teman di bagian HRD Hutama Karya. Saya kembali ditawari untuk mengikuti seleksi program Management Trainee di Hutama Karya, karena perusahaan sedang membutuhkan pegawai yang mempunyai kompetensi sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Management Trainee di Hutama Karya merupakan sebuah program spesial. Program ini merupakan upaya perusahaan untuk mencari talenta-fresh graduated yang akan dididik, dibina dan dikader agar sesuai dengan kompetensi SDM yang dibutuhkan perusahan sehingga mampu bekerja mewujudkan visi perusahaan. Program ini juga disebut "HK Future Leader": mempersiapkan talenta muda untuk mengisi posisi manajerial di masa depan. Program ini adalah jawabannya. Saya merasa ditantang.

Tahap demi tahap seleksi saya ikuti dengan mulus dan akhirnya dinyatakan lulus. Maka, tercatat tanggal 29 Juli 2015 merupakan episode baru bagi saya di Hutama Karya. Bergabung untuk kedua kalinya. Kesempatan kedua. Inilah kesempatan besar bagi saya untuk membina karir gemilang.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on
A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Setelah itu dilanjutkan dengan proses "On the Job Training (OJT)" selama 12 bulan dan dilakukan evaluasi setiap 6 bulan. Saya ditugaskan uuntuk menjalani OJT di anak perusahaan, HK Realtindo. Bukan kebetulan, karena sebelumnya memang sudah bergabung di HK Realtindo. Namun ada yang berbeda, saya tidak lagi di Divisi Procurement, saya dipindah tugas ke bagian Business Development: bagian inti dari proses bisnis perusahaan developer properti yang bertugas menyusun kajian lahan secara komprehensif dan merancang konsep pengembangan lahan hingga menganalisa kelayakan bisnis sebuah pengembangan proyek properti. Akhirnya saya berada di bagian yang dekat dengan latar pendidikan dan minat saya.


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Tibalah saya pada evaluasi pertama OJT pada Februari 2016. Inilah pertanggungjawaban hasil melakukan OJT selama 6 bulan di tempat tugas. Saya sajikan materi semaksimal mungkin di depan para panelis. Saya puas sudah melakukan yang terbaik. Kemudian dinyatakan lulus dan dipersilahkan untuk melanjutkan proses OJT selama 6 bulan kedepan.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on

Setelah beberapa bulan melewati proses OJT, saya merasa semakin tertantang di perusahaan ini.
Saya semakin mengerti tentang proses bisnis, potensi dan tantangan perusahaan kedepan. Saya semakin mengerti kekurangan dan kelebihan perusahaan. Dan terpenting, saya semakin paham dengan etos dan budaya kerja perusahaan yang dibina oleh para pendiri sejak 55 tahun silam. Diskusi obrolan warung kopi yang berlangsung dengan para teman sejawat maupun para senior juga membuat saya terpacu untuk belajar dan menyelami dunia bisnis korporat termasuk pola interaksi karyawan dan kehidupan politik kantor yang termasuk di dalamnya. Sejauh ini, sepertinya saya sudah berada di lingkungan yang tepat untuk mengembangkan diri. Kekecewaan saya dahulu terhadap Hutama Karya sirna sudah.

Tibalah pada perayaan ulang tahun PT. Hutama Karya (persero) ke - 55 bertema "Transformasi untuk Negeri". Tema tersebut dipilih karena perusahaan memang sedang gencar melakukan transformasi dari dulunya perusahaan jasa konstruksi biasa menjadi pengembang intrastruktur yang berarti tidak hanya bermain di ranah jasa kontraktor saja namun merambah bisnis hulu-hilir infrastruktur secara keseluruhan. Visi perusahaan berubah menuju "Indonesia's Most Valuable Infrastructure Developer" bahkan lirik lagu Mars-pun berubah. Saya beruntung terlibat dalam barisan paduan suara yang menyanyikan Mars versi baru untuk pertama kalinya.


A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


Disela-sela pekerjaan, saya selalu mencari kesempatan untuk hadir di forum-forum yang memungkinkan saya berada di lingkungan positif, menjalin networking dan mencari kawan baru, salah satunya forum yang bertajuk "BUMN  Youth Community" yang diselenggarakan oleh Duta BUMN. Saya bangga sekali menjadi wakil Hutama Karya dalam forum lintas perusahaan BUMN seperti ini. Saya bisa bertukar pikiran dengan teman-teman yang berkarir di perusahaan BUMN lain.


Saya juga ikut mewakili Hutama Karya sebagai tuan rumah mendampingi para Duta BUMN untuk mengunjungi salah satu proyek prestisius yang sedang dikerjakan oleh Hutama Karya, proyek Mass Rapid Transit di seksi Bundaran HI. Saya bangga bisa memperkenalkan proyek Hutama Karya kepada perusahaan BUMN lain. Saya selalu merasa senang menjadi representatif perusahaan yang senantiasa mengedepankan inovasi seperti mottonya, Inovasi untuk Solusi. Dengan bangga saya menyebut diri sebagai Insan Hutama: sebutan bagi karyawan Hutama Karya.

Sedikit mengenai asal-usul motto perusahaan. Motto "Inovasi untuk Solusi" tidak terlepas dari pengaruh besar atas inovasi teknologi konstruksi yang digunakan untuk memutar bahu lengan beton jalan layang oleh mantan Direktur Utama Hutama Karya, Bapak Ir, Tjokorda Raka Sukawati pada tahun 1980-an. Sebagai orang Hutama Karya dan khususnya orang Bali, saya tentu boleh bangga dengan pencapaian senior saya tersebut.



Agustus 2016, tibalah saya pada evaluasi terakhir program Management Trainee sekaligus penentuan layak tidaknya saya diangkat menjadi pegawai tetap. Ini pertarungan hidup-mati. Saya tampil sesempurna mungkin. Saya sajikan materi sebaik mungkin agar menarik perhatian para panelis. Bersyukur akhirnya saya mampu menembus fase ini dengan mulus. Saya dinyatakan layak untuk melanjutkan proses berikutnya.

A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on


Saat yang dinanti-nanti, sebelum secara resmi diangkat menjadi pegawai tetap perusahaan, terlebih dahulu saya diwajibkan untuk mengikuti Kursus Kepemimpinan berbasis militer di Pusat Pendidikan Zeni TNI-AD di Bogor selama 14 Hati. Saya ditempa dikarantina secara militer. Dijauhkan dari kebiasaan-kebiasaan sebagai orang sipil. 14 hari menjadi warga militer. Ini pengalaman yang luar biasa bagi saya. Kesempatan yang amat langka saya pikir. Disinilah kawah candradimuka para kesatria perang, termasuk saya, sebagai prajurit perusahaan BUMN.

Tidak hanya pembinaan fisik semata, TNI-AD mengajarkan saya mengenai kedisiplinan, kepemimpinan, ketekunan, kecepatan, inisiatif, integritas dalam bekerja. Banyak teori yang diajarkan oleh para guru militer yang dapat diaplikasikan dalam dunia kerja di perusahaan. Saya serap dan hayati betul setiap materi yang diberikan. Kasar, keras dan kaku. Banyak tindakan fisik dan perlakukan yang tidak mengenakkan. Terkesan seperti penyiksaan, namun bagi saya ini adalah proses penempaan mental level lanjutan.

Tentu ada banyak alasan perusahaan untuk mengirimkan saya ke daerah militer seperti ini. Saya dipersiapkan untuk terjun dalam medan perang bisnis yang sedemikian rupa terkadang kejam. Militer menanamkan doktrin kepemimpinan yang kuat di otak saya. Doktrin kepemimpinan terpatri di sanubari saya. Bahwa kita terlahir sebagai pemimpin, bukan pecundang yang menyerah sebelum berperang. Terimakasih Hutama Karya dan para komandan Zeni TNI-AD atas kesempatan berproses disini.

Pelatihan militer tersebut merupakan rangkaian program "HK Future Leader" dan saya tergabung dalam HK Future Leader Angkatan 08/2016 dengan julukan "Hasta Puraya" yang berisikan 28 orang dengan sebaran penugasan seluruh Indonesia. Di akhir Kursus Kepemimpinan, diberikan penilaian atas hasil belajar selama 14 hari meliputi: fisik, pengetahuan dan sikap. Saya dinyatakan sebagai 3 besar dengan nilai yang paling tinggi. Tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.




7 September 2016. Ini hari yang baik. Tanggal resminya nama saya dan 27 orang lainnya tercatat dalam database jajaran pegawai tetap di salah satu perusahaan BUMN terbaik ini. Siap mencurahkan segenap jiwa dan raga untuk bersama-sama mewujudkan visi perusahaan dan kejayaan negeri.


Mungkin hal yang biasa saja bagi sebagian orang. Namun setidaknya menjadi hari bersejarah bagi saya pribadi yang menghayati setiap detik proses kehidupan yang saya lalui. Akhirnya, sementara ini, perjalanan karir saya di perusahaan bisa dituliskan: "...bergabung pada 22 Januari 2014 dan diangkat menjadi pegawai tetap pada 7 September 2016". Sebuah hasil yang tidak mengkhianati usaha. Jawaban dari doa yang dipanjatkan oleh orang tua dan keluarga dirumah. Selanjutnya, semoga diberikan kesempatan untuk mengukir kisah dan membina karir dengan gegap gempita.

Sudah saatnya. Mari berkarya di Hutama Karya!

Saturday, January 16, 2016

Catatan Akhir Tahun 2015

Di setiap penghujung tahun, saya wajibkan diri untuk menulis di blog. Semacam renungan akhir tahun. Namun apa daya tahun 2015 sudah lewat dan saya tak juga kunjung menulis. Maka jadilah di awal tahun 2016 ini saya coba menulis tentang kesan yang terjadi di 2015. Tak apa lah, daripada tidak.

Tahun lalu, saya sempat menulis renungan akhir tahun dengan judul “Dimulai di Tahun 2014, Bertumbuh di Tahun 2015”. Dan barusan saja saya iseng untuk kembali membaca tulisan itu. Ada sensasi unik yang saya rasakan. Kepuasan dan kenikmatan tersendiri. Apa yang menjadi misteri saat itu, sudah menjadi kenangan dalam perjalanan hidup saya sampai saat ini.

Ah, saya ini memang serius betul menghayati perjalanan dimensi waktu yang saya tempuh, langkah demi langkah. Saya merasa benar-benar dalam sebuah perjalanan yang seru.

Hijrah ke Jakarta
Perjalanan di awal tahun 2015 lalu masih saya lewati dengan rutinitas sebagai karyawan kantoran di Denpasar. Sama seperti tahun sebelumnya. Belum ada yang berubah. Berjalan saja begitu dengan ritme yang santai, tenang, tentram.
A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on
Namun pada akhir Maret 2015, saya menyambut tantangan baru untuk pindah ke Jakarta, menjadi warga perantau lagi. Semua ini demi sebuah pengalaman dan tantangan baru. Saya ingin mengembangkan diri.

Maka terhitung mulai akhir Maret 2015, saya tinggal di Jakarta. Semua bayangan sebelumnya tentang ibukota, kemacetan, banjir, polusi dst dst…., akhirnya saya hadapi di depan mata.

Tahun 2015 telah membawa saya kesini, menjalani rutinitas sebagai karyawan di Jakarta sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Karena memang, pekerjaan yang saya pilih mengharuskan saya untuk selalu siap untuk berpindah ke kota mana saja jika diperlukan. Begitulah, saya ikuti saja kemana angin mimpi saya berhembus.

Jadi, tahun-tahun berikutnya hijrah kemana lagi kita?

Kantor Baru
Tanggal 1 April 2015 merupakan hari pertama saya masuk kantor baru di Jakarta. Tentu dengan suasana dan orang-orang baru. Lingkungan yang sangat asing bagi saya kala itu. Pekerjaan yang berbeda dari pekerjaan saya sebelumnya di Denpasar. Perlahan akhirnya saya bisa beradaptasi dan mengakrabi lingkungan.
A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on
Hingga akhirnya saat ini saya sangat menikmatinya. Saya merasa mantap untuk mengembangkan diri di kantor baru ini. Semoga selalu diberi kesempatan untuk belajar.

Menjadi Karyawan MT
Pertengahan Bulan Juni 2015 saya terbang lagi ke Jogja. Setelah sekian lama. Ini kali pertama saya ke Jogja dengan status bukan mahasiswa lagi. Saat itu saya ke Jogja untuk tujuan yang berbeda. Saya mengikuti tes untuk menjadi calon pegawai tetap (atau istilahnya MT, Management Trainee) perusahaan BUMN tempat saya bekerja, karena sebelumnya hanya berstatus karyawan kontrak profesional.

Bersyukur akhirnya saya lolos tes dengan baik. Tak pernah disangka pada tahun-tahun sebelumnya. Maka tanggal 29 Juli 2015 merupakan episode baru saya di kantor menjadi karyawan MT dan kembali ditugaskan di Jakarta untuk melalui tahapan magang selama kurang lebih setahun. Bila semua berjalan lancar pertengahan tahun 2016 ini akan menjadi pegawai tetap di perusahaan ini.
A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on
Saya sangat bersyukur dengan kelancaran yang diberikan. Saya telah mantapkan diri untuk mengembangkan diri dan menemukan jati diri di kantor ini, yang menjadi tempat saya bernaung mencari nafkah untuk keluarga saya kelak.

Melihat Monas Jarak Dekat
Sore di 8 Agustus 2015 cukup bersejarah bagi saya. Sebagai orang daerah yang merantau jauh ke ibukota, untuk kali pertamanya pada waktu itu saya melihat monas langsung di depan mata saya. Saya terhenyak. Ingin hormat tapi malu banyak orang. Saya bisa pandangi saja dengan tegas.
Kali Pertama ke Sumatera
Di Oktober 2015 untuk kali pertamanya saya menginjakkan tanah Sumatera. Tanah Sriwijaya tepatnya, Sumatra Selatan. Walau saat saya kesana Kota Palembang sedang disesaki oleh asap yang menyesakkan.
A photo posted by Made Bhela Sanji Buana (@madebhela) on
Kemudian pertengahan November 2015 pertama kalinya mengunjungi Kota Pekanbaru. Sepertinya akan lebih sering lagi ke Sumatra untuk urusan pekerjaan.

Yang jelas saya selalu senang untuk mendatangi tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Atau melakukan hal yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. Semoga aja di tahun 2016 lebih banyak bisa mengunjungi tempat dan hal-hal baru yang bisa dilakukan.

Menang Lomba Inovasi
Iseng-iseng suatu saat di awal Mei 2015 saya mengikuti lomba karya tulis tentang inovasi bisnis baru di kantor tempat saya bekerja. Pesertanya hanya internal karyawan kantor yaitu 19 peserta. Jurinya adalah para direksi, komisaris dan external advisor. Tidak ada sama sekali ekspektasi kala itu. Menang ya syukur sekali, tapi kalah juga tidak masalah. Yang jelas, saya hanya ingin menulis. Ingin sesekali mengikuti lomba tulis menulis. Saya pun akhirnya men-submit satu judul mengenai ide bisnis baru yang bisa diterapkan pada perusahaan.
Ternyata benar iseng-iseng berhadiah, di penghujung Desember 2015 saya mendapatkan kabar bahwa saya berhak mendapatkan hadiah dengan nominal yang lumayan sebagai juara 1 lomba inovasi. Saya ternyata benar-benar memenangkan lomba itu. Waduh, senang sekali rasanya. Menjadi motivasi untuk saya agar lebih giat menulis. Lebih sering ikut lomba tulis menulis. Di tahun 2016 semoga diberi kesempatan.


Demikianlah kira-kira bila saya cerita mengenai tahun 2015. Tahun yang penuh kejutan. Tahun yang terasa berjalan sangat cepat. Terimakasih untuk yang sudah terjadi di 2015. Dan untuk 2016 saya optimis menatap dengan gegap gempita. Berpacu dengan mimpi.