Friday, July 3, 2015

24 Tahun, Mau Jadi Apa?

2 Juli 2015.


Jika hidup adalah sebuah perjalanan, perjalanan ini sudah berusia 24 tahun. Jika hidup dikatakan sebagai sebuah cerita, barangkali inilah episode yang penting untuk menentukan jalan cerita selanjutnya.


Om Awighnam Astu  Namo Siddham.


Semoga kebaikan selalu datang dari segala penjuru.


 “Mau jadi apa?”


“Mau dibawa kemana hidupmu?”


“Apa rencanamu selanjutnya?


“Kapan kawin?”


Pertanyaan menyebalkan yang selalu terngiang di telinga dan membuat tak nyenyak tidur. Disisi lain, pertanyaan ini juga menimbulkan efek jengah yang dahsyat. Terlebih lagi situasi teman sebaya di usia ini yang seringkali terlihat lebih “beruntung” dalam hidupnya. Ah, sebenarnya tentu bukan saatnya untuk sekedar mengutuk keterbatasan. 


Quarter life crisis. Terminologi menarik yang sering saya temui di beberapa buku dan artikel pengembangan diri. Usia ini memang dikatakan rawan, rentan dan krisis. Sering merasa gamang, gelisah dan tak tahu arah. Sebuah fase dalam hidup yang saya anggap sebagai pencarian diri tahap lanjutan.


Puji Tuhan, tiba juga saya di fase ini, 24 tahun. Banyak yang sudah terjadi, namun lebih banyak lagi yang belum terjadi dan belum saya lakukan. Dan memang tak bisa dipungkiri, apa yang dibilang sebagai quarter life crisis itu memang saya rasakan. Bukan untuk saya sesali atau hindari, justru saat ini saya sangat menikmati tiap detik yang saya lewati di fase-fase menegangkan ini. Saya bersyukur selalu diberi kesempatan untuk belajar dan berbuat kebaikan.


Perihal pencapaian di usia 24 tahun ini, saya bersyukur atas nikmat dan berkah yang diberikan. Walau sebenarnya masih banyak PR yang harus segera saya kerjakan, saya akan berusaha untuk terus belajar, hingga bisa berguna bagi orang lain dan bisa membahagiakan orang sekitar. Yang penting selalu bergerak dan yakin pada saatnya nanti akan meraih mimpi yang telah saya gantungkan di atas. Astungkara.


Pada usia ini, yang membuat saya sering meneteskan air mata adalah tentang sebuah kepastian yang tak terbantahkan bahwa kita bertumbuh dewasa seiring juga orang tua kita semakin tua. Orang tua kita yang sekarang ini bukan orang tua kita saat kita berusia 7 tahun. Maksud saya, bukan saatnya merengek untuk mencari perhatian mereka, namun 24 tahun sudah jelas waktunya untuk segera membahagiakan beliau berdua. Semoga orang tua saya selalu diberkati Tuhan, diberikan kesehatan dan dilancarkan dalam menjalankan aktivitasnya. Terimakasih atas doa dan dukungan yang selalu diberikan, Pak, Buk.


Ah, sebenarnya saya tidak mau menulis sekaku ini. Tapi mood saat ini ternyata tak bisa dibohongi. Saya sedang berada jauh dari orang tua. Merantau seperti biasanya. Saya rindu rumah dan keluarga. Semoga semuanya dirumah selalu diberikan kebahagiaan.


Terakhir, saya sadari betul masa-masa 24 tahun dan berikutnya memang masa krisis. Sangat diperlukan konsistensi yang baik untuk mengelola hidup, keuangan dan lain-lain. Pengembangan diri harus dilakukan. Maka saya isi dengan membaca buku dan artikel pengembangan diri. Semacam vitamin segar untuk menyemangati jiwa yang gamang. Dan hadiah dari Putri Tika Pratiwi berupa buku berjudul "The 360 Degree Leader" merupakan buku yang sangat tepat menemani hari-hari 24 tahun saya. Thanks, tik!


Terimakasih doa yang diberikan oleh orang sekitar, baik bertemu langsung, via telp, maupun media sosial. Mari menghadapi 24 tahun dengan gegap gempita!