Friday, April 10, 2015

Merantau Lagi

Saya masih ingat betul. Waktu itu tanggal 3 Agustus 2009, ketika kali pertama saya naik pesawat terbang dan melihat awan lebih dekat. Penerbangan pagi dari Denpasar menuju Jogjakarta ditemani kakak. Wah senang sekali rasanya. Maklum, jangankan jalan-jalan ke luar Bali atau ke luar negeri. Saya tumbuh di kota kecil Jembrana yang ke kota Denpasar saja jarang.


Saya merantau di Jogja untuk melanjutkan pendidikan pasca SMA. Tempat itu merupakan kilometer terjauh antara saya dan rumah untuk waktu yang tidak sebentar. Sedih sudah pasti. Jauh dari keluarga. Namun sejak saat itu, saya sering menyemangati diri dengan, “Baiklah, sekarang saya menjadi seorang perantau!”. Berkali-kali saya hentakkan kalimat itu dengan keras di dalam hati.


Merantau di Jogja. Kota sejuta pesona. 5 tahun saya habiskan waktu di kota istimewa itu hingga meraih gelar Sarjana. Sarjana Jogja. Tempat saya berkontemplasi ilmu, buku, pesta dan cinta. Kota yang menjadi kawah candradimuka bagi banyak orang. Karena memang tak bisa dipungkiri banyak orang besar di negeri ini pernah tumbuh di istimewanya kota Jogja. Narasi keindahan nostalgia masa muda di Jogja terbukti dari telah banyaknya hadir karya-karya sastra tentang jogja, puisi, lagu maupun film. Saya merasa beruntung menjadi seorang perantau di Jogja. Saya rasa transformasi diri saya banyak terjadi di kota itu. Memang benar-benar istimewa.


Kemudian sampailah di bulan Januari tahun 2014, setelah lulus kuliah kemudian saya diterima menjadi karyawan di salah satu perusahaan di Jakarta. Dari Jogja pindah ke Jakarta. “Wah, merantau makin jauh nih”, pikir saya kala itu. Tentu bukan menjadi masalah yang berarti bagi saya. Jogja maupun Jakarta tetap saja saya harus merantau, jauh dari rumah, jauh dari kenyamanan yang berserakan dirumah. Paling hanya menyesuaikan diri dari nuansa kota Jogja yang kalem dan santai ke Ibukota Jakarta yang hiruk pikuk. Perpanjangan ijin merantau dari keluarga dirumah pun sudah saya dapat. Saya pun hijrah dari Jogja ke Jakarta.


Sudah siap betul rasanya saya merantau di tempat baru saat itu. “Mari berjuang di ibukota”, batin saya menghentak. Dengan mantap saya melangkahkan kaki di Jakarta. Seluruh energi saya fokuskan untuk mempersiapkan diri menjadi warga kota yang macet dan banjir itu. “Baiklah, sekarang saya menjadi seorang perantau, di Jakarta!”, begitu benak saya berteriak.


Namun kisah merantau ini ternyata di-pending. Karena baru sekitar 2 mingguan mengakrabi diri dengan ibukota dan mencicipi suasana naik angkot berpanas-panasan hingga bermacet-macet ria, langsung saja saya mendapat pemindahan tugas ke Bali. Kantor perusahaan cabang Bali. Di kampung halaman saya. Orang Bali dapat tugas di Bali. Betapa beruntungnya saya. Ini mungkin doa keluarga dirumah yang terkabul agar saya bisa dekat dengan mereka.


Baiklah, kisah perjalanan merantau-rantau ini kita pending dulu. Sedikit kecewa sebenernya, maklum saya sudah siap lahir batin untuk kerja jauh dari rumah. Namun bagaimanapun juga ini sebuah keberuntungan yang saya syukuri betul. Setelah 5 tahun luntang-lantung di negeri orang, sekarang kerja dirumah bisa dekat keluarga dengan segenap kenyamanan dan kemudahan saya dapatkan.


Sejak saat itu, yaitu awal februari 2014 saya berbisik dengan tenang dalam batin “Baiklah, saya pulang kampung”.


Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, akhirnya sampai di Februari 2015 kemarin genap setahun sudah saya kerja dekat dengan keluarga. Enak banget. Bisa sering hadir di acara keagamaan dan kumpul keluarga. Senang sekali bisa berkumpul lagi setelah cukup lama saya absen karena kuliah di Jogja tahun-tahun sebelumnya.


Kenyamanan juga ditambah dengan kehadiran teman-teman sepermainan, se-logat bahasa, se-watak, se-hobi, se-topik obrolan, se-agama, se-budaya adat, dan se- lain-lainnya. Tak perlu ada lagi penyesuaian pergaulan. Karena memang saya berada dirumah tempat saya lahir dan tumbuh. Semua terasa lebih mudah.


Namun, akhirnya cerita ini pun berlanjut. Setelah setahun sempat di pending, ternyata tantangan untuk melanjutkan kisah seorang perantau datang lagi. Tanggal 29 Maret 2015 saya terbang ke Jakarta untuk bekerja dan tentu akan menetap untuk waktu yang relatif lama. Mulai April 2015 saya bekerja di Jakarta. Tentu ini tidak mudah. Beda saat dulu perpindahan dari Jogja ke Jakarta. Tidak ada masalah yang berarti. Sama-sama merantau, sama-sama jauh dari keluarga. Tapi kali ini dari zona nyaman dirumah ke zona yang penuh misteri. Belum lagi ijin merantau harus saya bicarakan terlebih dahulu dengan keluarga dirumah. Pastilah berat.


Belum lagi settingan di benak saya setahun terakhir sudah saya pasang di mode-nyaman dirumah terpaksa saya putar knop ke mode-waspada merantau lagi. Haha. Mungkin anda yang kebetulan baca tulisan ini akan merasa aneh membaca diksi kalimat terakhir saya. Tapi sejujurnya memang itulah abstrak di pikiran saya. Begitu cara kerja otak saya membandingkan keadaan dalam posisi dirumah dan posisi di tanah rantau seperti analogi knop mode on-off (layaknya beralih ke flight mode pada gadget saat diatas pesawat).


Akhirnya saya terbang ke Jakarta. Setelah landing di Soekarno-Hatta, saya menaiki bus Damri dan turun di stasiun Gambir. Saya pandangi betul wajah Tugu Monas yang seakan menyambut dan saya hentakkan dalam benak “Baiklah, saya merantau lagi, di ibukota ini!”, pekik saya menyemangati diri.


Entahlah, menurut saya, cerita tentang seorang perantau selalu menarik dan menantang. Mungkin karena dulu banyak bergaul dengan para perantau dari seluruh pelosok negeri yang berkumpul di Jogja. Akibat sering terlibat dalam perbincangan visioner para perantau yang penuh ambisi untuk menjadi sukses di tanah rantau dan membanggakan keluarga di kampung halaman. Saya tergugah sekaligus tertantang. Saya menantang diri keluar dari zona nyaman dirumah dan mulai menempuh langkah-langkah kecil demi menggapai mimpi yang besar.


Baiklah kalau begitu, saya merantau lagi.


***







Made Bhela Sanji Buana,

Ditulis di kosan sunyi tanpa TV ditemani beberapa batang rokok.

Poltangan Raya, Jakarta Selatan, 10 April 2015, 23:04 WIB