Thursday, August 22, 2013

Biarkan Menjadi Misteri

[caption id="attachment_1222" align="aligncenter" width="564"]sumber : http://offthewallsocial.com/ sumber : http://offthewallsocial.com/[/caption]

Tak bisa dipungkiri lagi, media sosial saat ini benar-benar menelanjangi ranah privasi yang justru indah karena misteri. 


Beberapa saat yang lalu saya terpaksa unshare beberapa akun di Path. Saya menyeleksi hingga hanya beberapa temen deket saja yang saya sisakan. Sekali lagi, karena terpaksa. Bukan karena ada masalah dengan orang tersebut atau apa, tapi saya mulai merasa tidak nyaman bermedia sosial yang terlalu berlebihan hingga menembus ranah privasi seperti itu. Apa mungkin kemudian ini yang namanya #prinsip --yang sering di-hashtag-an orang-orang di Twitter. Bisa saja.


Sosial media bernama Path ini benar-benar memberikan fasilitas untuk seseorang sharing tentang apapun dan dimanapun, mulai dari quote menarik, tag lokasi keberadaan, foto perihal aktivitas yang sedang dikerjakan, video juga, buku yang sedang dibaca, musik yang sedang didengar, film yang sedang ditonton, bahkan sampe jam tidur dan bangun pun bisa di-share. Path telah menyediakan segalanya. Sebenarnya mengasyikan sih, tidak ada masalah sejauh ini, Path bahkan bisa mempercepat saluran informasi yang sedang hangat dibicarakan, Path bisa mempermudah melihat kebahagiaan teman yang sedang tidak bersama kita, dan Path membudayakan kita untuk sharing mengenai apapun, pokoknya Path membuat sharing jadi menyenangkan.


Lah, kalau begitu dimana masalahnya?


Justru, Path ini kan beda dengan social media yang lain, Path hanya memperbolehkan 150 friend sharing --kalo ga salah ya. Artinya, kita cuma bisa berteman dengan 150 orang --mungkin sengaja dirancang untuk berhubungan dengan orang-orang terdekat saja. Oleh karena itu, tidak elok rasanya kita melihat berbagai aktivitas orang lain di Path yang sebenarnya pada kenyataan kita tak terlalu kenal-kenal banget orang itu. Nah, bagi saya itulah masalahnya.


Kan tidak enak ya, semua aktivitas bisa diumbar begitu saja. Kalau orang terdekat sih oke-oke saja. Kita bisa saling mengabarkan bahwa kita dalam keadaan sehat dan bahagia. Bisa saling merekomendasi tempat-tempat yang bagus, musik-musik yang asik dan buku yang menarik--walaupun tidak juga perihal tidur dan bangun. Tapi buat orang yang kenal cuma sedikit-sedikit rasanya agak gimana gitu. Saya merasa melangkahi kodrat yang seharusnya. Dalam artian biarlah saya dengan mereka kenalnya karena ngobrol, bukan hanya karena aktivitas di dunia maya. Dengan kata lain, saya merasa tidak perlu menikmati kehidupannya, dan sebaliknya saya merasa juga mereka tidak harus tau bagaimana kehidupan saya. Untuk hal ini, saya rasa lebih enak ngobrol. Atau bisa juga, apa belum cukup di Facebook, Twitter, Instagram dan Blog? Betapa repotnya kita mengaktualisasi diri pada terlalu banyaknya media sosial. Too much socmed will kill you ternyata bukan omong kosong.


Saya tidak mau saja, saya lebih mengenal orang yang berada di jauh sana daripada orang yang berada disekeliling saya. Persis seperti premis dari orang-orang mengenai fenomena media sosial yang sering dikatakan  "mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat". Saya tidak ingin seperti itu. Yang saya bayangkan media sosial justru seharusnya "mendekatkan yang jauh dan lebih mendekatkan yang dekat". Atau bisa juga "memudahkan yang sulit, dan bersenang-senang dengan yang mudah". Kira-kira begitu.


Tapi begitulah, peradaban dunia memang sudah sedemikian digitalnya. Jarak sudah tidak menjadi faktor penentu hubungan. Media sosial sudah sedemikian memberi peran dalam kehidupan manusia --sekaligus mempersulit?. Oleh karena itu, selayaknya kita juga bisa lebih bijak dalam mempergunakan media sosial.


Postingan kali ini saya tutup dengan quote menarik dari orang yang sering disebut-sebut ngawur karena benar.




Apa menariknya hidup dalam kesedikitan misteri? - Sudjiwo Tedjo dalam Republik #Jancukers hal.199