Thursday, July 4, 2013

Lika Liku Judul Skripsi

Sejak mulai pengajuan judul skripsi pada semester 6 sampe sekarang, saya ganti judul 3 kali.



Bukan apa-apa ditolak atau gimana, tapi karena saya sendiri yang tidak sreg. Banyak faktor yang menyebabkan ke-tidak-sreg-an saya, mulai dari kebingungan saya mencari lokasi studi, kebingungan mengangkat fokus penelitian dan banyak kebingungan-kebingungan yang setiap hari mengganggu tidur saya. Selain itu, dosen pembimbing saya pada saat itu tidak sesuai dengan harapan saya. Maksudnya, bukan karena dosen saya tidak kompeten, bukan, tapi karena kembali lagi ke masalah sreg-sregan. Saya merasa judul penelitian saya agak sedikit "nyaplir" dari interest studi dari dosen tersebut. Nah, itulah saya jadi tidak sreg. Oh iya, selain itu juga ada perasaan yang mengganjal juga, dosen pembimbing saya waktu itu berencana ingin melakukan cuti pada bulan Mei. Maka dari itu, mahasiswa bimbingannya disarankan menyelesaikan skripsi sebelum Mei. Begitu. Saya pikir ini bakalan terlalu buru-buru. Saya tidak ingin lulus Mei. Terlalu cepat. Karena pada dasarnya saya sangat menikmati proses mengerjakan skripsi. Saya ingin mengerjakan skripsi secara asik. Santai tapi pasti.


Dan akhirnya mulai April 2013 saya memulai membuat proposal penelitian dengan judul yang baru mengenai ruang kreatif publik. Sebelumnya, pertama kali pada mata kuliah Metode Penelitian semester 6, saya mengangkat tema mengenai aktualisasi konsep Tri Hita Karana pada penataan ruang di Bali, lalu kemudian pada semester 7 proposal penelitian yang saya gunakan pada mata kuliah Seminar Perencanaan adalah mengenai perkembangan wilayah di sekitar tempat penyelenggaraan event, yaitu di Art Centre yang secara rutin setiap tahunnya menyelenggarakan Pesta Kesenian Bali. Keduanya sangat menarik bagi saya, yang pertama mengenai penataan ruang berbasis kearifan lokal, lalu yang kedua mengenai irisan lingkup urban regeneration (peremajaan kota), yang sudah banyak diaplikasikan di kota-kota Eropa, mengenai pemanfaatan event untuk mengembangkan infrastruktur perkotaan. Lalu, setelah membaca buku dari Richard Florida yang berjudul "The Rise of Creative Class", terus mendapat literatur mengenai Creative City dari Landry, saya pikir ini menarik juga jika digunakan untuk penelitian. Mengenai kota kreatif yang berkaitan dengan sustainability pengembangan perkotaan. Cocok juga, kota denpasar akhir-akhir ini sedang gencar-gencarnya mensosialisasikan mengenai visi sebagai kota kreatif. Saya pikir, nah ini dia. Penelitian yang sederhana dan saya suka. Ada kreatif-kreatif nya gitu.


Yasudah, saya mulai memantapkan. Membuat ulang proposal penelitian dari awal. Berdiskusi dengan dosen pembimbing yang memang saya inginkan. Oke, akhirnya diputuskan saya berpindah dosen pembimbing hingga saat ini.


Pelajaran yang didapatkan dari pengalaman ini adalah tidak masalah gonta-ganti judul skripsi berkali-kali. Justru disana pembelajarannya. Ibarat pencarian jati diri. Apa yang sebenernya kita mau. Apa yang kita sukai. Apa yang kita mampu. Apa yang sederhana tapi senang membuatnya. Ya, tentu jika kita ingin membuat skripsi yang maksimal dan tidak asal-asal jadi.


Ah, saya cuma penikmat proses ini. Saya sedang skripsian, bro! ;)