Friday, April 12, 2013

Untung Saya Masih Punya Hobi



Sebuah refleksi bahwa mendapat nilai tertinggi di sekolah/kampus tidak menjamin kesuksesan seseorang.

Video ini adalah pidato dari Erica Goldson pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson merupakan lulusan siswa dengan nilai terbaik. Cukup membuat kaget dan tersentak, sekaligus penyadaran. Karena isi pidatonya bukan sembarang cuap-cuap saja. Barangkali bisa menjadi refleksi bagi kita semua (terlebih lagi bagi yang menghamba nilai tinggi). Inilah cuplikan pidatonya dalam bahasa Indonesia saya dapatkan di blog ini dan versi english ada di blog lain dengan judul Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech :




Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.


Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.


Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.


Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?


Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan. -- Erica Goldson



Apa yang dikatakan oleh Erica dalam pidatonya ini barangkali menjadi "cambukan" yang cukup keras bagi orang tua, siswa, mahasiswa, guru, dosen dan seluruh pihak yang terkait dengan dunia pendidikan. Kejujuran hati dari seorang Erica yang notabene rajin dan mendapatkan nilai tertinggi juga dalam kenyataannya menghadapi ketakutan dalam dunia pasca-sekolah.




Jujur, setelah membaca itu saya langsung tercenung...



Nilai tinggi yang didapatkan di sekolah/kampus ternyata bukan segala-galanya menentukan kesuksesan seseorang. Rajin mengerjakan tugas, mencatat materi pelajaran dan terkadang "menjilat" guru/dosen dengan harapan mendapat nilai tinggi akan terkesan percuma. Karena pada hakekatnya pendidikan adalah untuk mengajarkan orang dari tidak bisa menjadi bisa, bukan dari tidak bisa menjadi nilai. Beda kan? Pendidikan digunakan untuk mencerdaskan orang, bisa menjadi bekal hidup di masa depan dan agar bisa digunakan untuk kemaslahatan umat banyak. Bukannya mengejar nilai. Apalah arti nilai, jika tidak bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Idealnya seperti itu.


Saya tentu tidak mengatakan bahwa orang-orang yang bernilai tinggi itu jelek. Namun, tidak jarang orang-orang yang seperti itu rela meninggalkan kegemaran/hobi/bakat mereka demi mengejar nilai tinggi. Hari-harinya dipenuhi dengan "tips dan trik cara cepat" untuk mendapat nilai tertinggi. Waktu dihabiskan dengan segenap "cara" demi terwujudnya obsesi nilai tertinggi.




Nilai itu penting. Cuma penting saja tapi tidak penting banget...



Hidup terlalu singkat jika dilewatkan tanpa mengerjakan sesuatu yang menyenangkan.


Nilai tinggi tapi tidak punya hobi bagi saya sungguh sia-sia. Hobi merupakan cara bersenang-senang bagi seseorang dalam mencapai kepuasan dan kebahagiaan tertinggi. Masak bersenang-senang saja tidak bisa?




Nilai tinggi, hobi bisa tersalurkan, punya  banyak teman dan tidak jomblo. Itu kolaborasi terbaik sih.



Memang makin kesini saya makin ngawur. Memang ngawur (mungkin) salah satu hobi saya :D


Saya kembali tercenung dan merasa beruntung masih punya hobi. Ya, setidaknya disaat-saat bosan dan penat, saya bisa memainkan beberapa buah lagu dengan petikan gitar dan saya akan senang sekali. Atau jika kesal, saya bisa datang je studio musik dan memukul-mukul drum dengan bebas, secara tidak langsung saya merasa telah memukul dunia juga. Gitu aja dulu.


Apa hobimu?