Wednesday, April 10, 2013

Mahasiswa Sibuk Skripsi

[caption id="attachment_1080" align="aligncenter" width="500"]"Berpikir" Sumber : http://fastaqimsolution.wordpress.com "Berpikir" Sumber : http://fastaqimsolution.wordpress.com[/caption]

Dulu, pada waktu masih kecil, mendengar kata skripsi itu pikiran saya langsung tertuju pada hal yang berkaitan dengan orang-orang yang sudah gede. Pada waktu itu saya tidak terlalu ingin tahu lebih dalam sebenernya apa itu skripsi. Pokoknya gampang saja, skripsi itu tugasnya orang-orang yang sudah gede, dan suatu saat saya pasti akan membuatnya. Lalu saya kembali bersama teman-teman bermain gundu.


Ketika sudah agak gede, dari omongan orang tua dan orang yang saya anggap sudah gede pada saat itu, istilah skripsi mulai agak mengganggu pikiran saya. Katanya buat skripsi itu sulit. Tidak semua orang bisa mengerjakannya. Pada obrolan saat itu, saya sedikit mendengar mengenai skripsi itu dibuatnya lama banget, lalu ada tetangga dari temen anaknya temennya temen bapak (memang ribet, kira-kira gitu lah) yang saking lamanya buat skripsi hingga dikeluarkan dari kampus. Saya mulai merasa ada sesuatu yang "aneh" dalam skripsi. Lalu dari sayup-sayup obrolan itu saya dapet sedikit kesimpulan bahwa kalo mau kerja, orang-orang yang sudah gede itu harus membuat skripsi.


Ketika maen kerumah temen (ketika sudah lebih gede sedikit), saya ditegur jangan ribut keras-keras, soalnya kakaknya sekarang sedang sibuk. Sedang buat skripsi katanya. Lalu saya lihat tumpukan buku-buku dan dimana-mana kertas berserakan. Wajah dari kakaknya yang katanya sedang membuat skripsi menampilkan raut muka yang serius dan berpikir keras. Bahkan sampai saya tidak berani menyapa. Oh iya iya oke, saya sedikit mendapat pencerahan bahwa skripsi itu tentang dimana orang-orang gede membaca banyak buku dan berpikir keras mengenai rumus-rumus. Mengorak-orek angka biar dapet hasilnya. Ribet, saya males berpikir, mending saya main Crash Team Racing (CTR) di playstation. Jauh lebih menyenangkan.


Mulai agak  lumayan gede, saya akhirnya mendapatkan 3 kata yang saling terkait. Skripsi, mahasiswa, dosen. Mahasiswa itu orang-orang yang sudah kuliah. Dan dosen itu adalah guru. Tapi guru yang beda dengan yang ada disekolah. Guru-guru disekolah mengajarkan dengan sangat detail dan pelan-pelan kepada kita, sehingga akhirnya kita sebagai murid mengerti semua. Beda dengan dosen. Dosen itu cenderung cuek, dia tidak peduli mahasiswanya mengerti atau tidak tentang materi pelajaran, mahasiswa bebas mau masuk kelas atau tidak, yang penting kalau ada ujian bisa menjawab.


Lalu saya mulai mengaitkan ke tiga "terminologi" itu. Bahwa skripsi itu adalah tugas mahasiswa yang diberikan oleh dosen. Sulit banget. Rumit betul. Dan saya berusaha menyimpulkan, kalau jadi mahasiswa itu bebas mau masuk ke kelas atau ga, yang penting bisa membuat skripsi dan kalau sudah bisa membikin skripsi, orang itu akan menjadi sarjana (oh, iya saya baru mendapat istilah keren itu juga).


Mulai di bangku SMA, saya menemui jalan terang. Suatu saat, kelas saya kedatangan mahasiswa yang memakai jas almamater. Pertama yang langsung ada dipikiran saya, orang itu gagah, pinter dan keren banget ya tampaknya. Kedatangan mahasiswa katanya perihal melakukan penelitian skripsi. Mahasiswa tersebut pada awalnya mengajar dengan gaya yang "fresh" beda dengan cara mengajar guru sebelumnya yang membosankan. Metode mengajar baru mungkin. Saya tidak terlalu paham juga mengenai itu. Lalu setelah itu, kami semua dibagikan kuesioner (istilah keren lagi ini) dan disuruh menjawab dengan jujur. Oh, skripsi itu seperti itu toh. Ngumpulin pendapat orang lalu ketemu hasil dan kesimpulan.


Ya, yang terakhir ini yang paling mendekati arti skripsi yang sepantasnya. Walaupun sebenernya tidak sesederhana itu.


Ketika menjadi mahasiswa di awal-awal, saya mendengar obrolan kakak-kakak angkatan yang sedang sibuk skripsian berkisar tentang dapetin judul skripsi itu setengah mati, sulit nyari buku referensi, dosen pembimbing sibuk yang sulit ditemui, sekalinya ketemu skripsi dicoret semua, survey dilapangan itu rumit sekali, belum lagi menulis bab per bab itu benar-benar bikin males dan banyak hal-hal yang membuat seakan skripsi itu adalah sesuatu yang menyeramkan. Wow. Belum lagi, obrolan dimana-mana mengenai skripsi yang sepertinya menjadi momok. Lulus lama karena skripsi yang belum kelar tak jarang menjadi bahan candaan.


Jujur, suatu saat saya tiba pada satu titik dimana saya berpikir apa sih susahnya skripsi, emang sampai segitunya ya, masak buat skripsi aja sampai bertahun-tahun, sebegitu sulit kah ? Hingga saat ini, jika saya mengingat-ingat itu saya merasa berdosa besar.


Waktu terus berjalan, sejak mengikuti jenjang awal pendidikan SD sampai menjadi mahasiswa semester 8, semua kenangan mengenai skripsi muncul dalam bentuk kenyataan. Kenyataan "pahit" yang harus diterima sekaligus dibanggakan.


Akhirnya masa itu tiba juga..


Mau tidak mau, suka tidak suka dan bisa tidak bisa. Sebuah masa dimana saya menjadi mahasiswa yang sedang sibuk mengerjakan skripsi.


Begini toh rasanya.. :)