Sunday, January 6, 2013

Pesona Ullen Sentalu


"Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya" - Pramoedya Ananta Toer



Ya, membaca kutipan dari Pramoedya Ananta Toer ini memang rasanya sindiran bagi saya pribadi, karena mengingat khazanah pengetahuan saya tentang budaya Jawa yang masih dangkal. Malu rasanya, sudah  3 Tahun tinggal di Jogja, tapi tidak banyak tahu banyak tentang sejarah Jogja.


Nah, demi memanjakan rasa keingintahuan tentang sejarah budaya Jawa, kami bertiga, saya, Lanang dan Tika pada hari Sabtu, 5 Januari 2012 mengunjungi sebuah museum yang terletak di kawasan wisata Kaliurang, yang katanya sangat recommended untuk mempelajari seluk beluk historis Keraton Jogja dan Solo. Museum itu bernama Ullen Sentalu, yang ternyata adalah singkatan dari Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku, artinya nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan. Dalam bahasa jawa, blencong adalah sebutan untuk lampu minyak yang digunakan dalam pertunjukkan wayang kulit.




[caption id="attachment_603" align="aligncenter" width="512"]Ullen Sentalu Lanang, Tika, Saya[/caption]

Perjalanan dari Jogja sekitar pukul 11.30 dan menempuh perjalanan sekitar 30 menit. Jarak tempuh dari Jogja menuju Museum Ullen Sentalu sekitar 25 km. Tidak terlalu jauh kan. Mumpung lagi di Jogja, sayang banget rasanya kalau tidak mengunjungi museum ini. Kata orang-orang, museum ini keren. Arsitekturnya khas Jawa. Iringan musik Jawa terus mengalun dan aroma khas Jawa-nya semerbak kemana-mana. Dan setelah rombongan kita sampai di Ullen Sentalu, ekspektasi ternyata sesuai. Ternyata Ullen Sentalu adalah museum. Abisnya bangunannya seperti museum gitu :D


Oke, mau sedikit mendeskripsikan tentang Museum Ullen Sentalu ya. Terdapat di situs resmi Ullen Sentalu. Jadi, Museum ini dibangun di tanah seluas 11.990 m2 yang mulai dirintis pada tahun dan diresmikan pada tanggal 1 Maret 1997. Diprakarsai oleh keluarga Haryono dari Yogyakarta dan berada di bawah payung Yayasan Ulating Blencong. Visi dibangunnya museum Ullen Sentalu adalah sebagai jendela peradaban seni dan budaya Jawa dengan misinya adalah mengumpulkan, mengkomunikasikan dan melestarikan warisan seni dan budaya Jawa yang terancam pudar guna menumbuhkan kebanggaan masyarakat pada kekayaan budaya Jawa sebagai jati diri bangsa. Sebuah tempat yang bagus untuk kita para generasi muda agar tidak lupa akan sejarah dan budaya sebagai identitas bangsa.


tiket-masuk2


Dengan biaya masuk sebesar Rp 25.000,- saja, kita bisa menikmati pesona Ullen Sentalu dan terdapat 1 orang guide yang akan memberikan informasi semua tentang benda-benda bersejarah yang dipajang dan mendampingi dalam perjalanan menelusuri setiap ruang yang ada di museum ini. Waktu itu, kami berkesempatan diberikan informasi oleh Mbak Pipit sebagai guide rombongan kami. Dan di dalam museum berlaku hukum NO CAMERA, yang berarti kita tidak boleh memotret kondisi di dalam museum. Jadi keindahan di dalam museum ini tidak bisa kita abadikan. Seseorang harus langsung datang dan menikmati langsung atmosfer budaya dan sejarah Jawa yang sangat menakjubkan.


Pertama, kami diajak untuk memasuki Ruang Seni Tari dan Gamelan, yang berisikan seperangkat gamelan dan lukisan tari Jawa. Mbak  pipit memberi penjelasan terkait sejarah dari masing-masing gamelan dan tarian tersebut. Lalu dilanjutkan ke Guwa Sela Giri, ini merupakan sebuah tempat dibawah tanah, sentuhan artistik Jawa sangat kental terasa, ditambah dengan aksen bergelombang akibat kontur tanah yang tidak rata. Batu-batu dari material Gunung Merapi menghiasi dinding goa ini. Ditempat ini berisikan pameran dari karya-karya lukis dokumentasi dari tokoh-tokoh yang mewakili figur 4 kraton Dinasti Mataram. Semua lukisan menggambarkan kondisi yang terjadi dalam masa Dinasti Mataram.


Lalu dilanjutkan ke areal Kampung Kambang, sesuai namanya Kambang, yang berarti terapung, areal ini terdapat di atas kolam air. Banyak terdapat ruang-ruang selayaknya sebuah labirin. Terdapat Ruang Syair untuk Tineke, Royal Room Ratoe Mas, Ruang Batik Vorstendlanden, Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan. Yang menarik, disela-sela penelusuran kita berkesempatan untuk merasakan minuman spesial dari warisan Gusti Kanjeng Ratu Mas, putri Sultan HB VII yang disunting sebagai permaisuri Raja Surakarta, Sunan Paku Buwono X. Semacam air jahe gitu. Minuman ini dipercaya untuk kesehatan dan awet muda. Tuh, yang mukanya pada tua, minum ramuan ini, hanya ada di Ullen Sentalu! :)


Ulen Sentalu foto


 Camera 360


Setelah itu, penelusuran kami dilanjutkan ke Koridor Retja Landa yang menampilkan arca-arca peninggalan jaman Hindu-Budha, yaitu pada abad VIII-IX Masehi. Lalu memasuki ruang Sasana Sekar Bawana, yang berisikan beberapa lukisan raja Mataram, lukisan serta patung dengan tata rias pengantin gaya Surakarta serta Yogyakarta.


Untuk menelusuri seluruh kawasan di Museum ini, kira-kira memakan waktu kurang lebih 60 menit. Cukup melelahkan sih, tapi sangat memuaskan. Arsitektur jawa dan hawa kesejukan Kaliurang benar-benar membuat suasana rileks. Pelajaran sejarah dan budaya Jawa yang didapatkan menjadikan rasa kecintaan akan tanah air semakin tinggi. Sebuah cerita masa lalu sebagai pelajaran kita sebagai generasi muda untuk melangkah penuh percaya diri menghadapi masa depan.


Kunjungi museum ini, untuk sebuah pengalaman yang mengesankan. Sebuah pelajaran yang menarik dan menambah khazanah pengetahuan. Jadilah pelopor mengunjungi museum, disaat anak muda sekarang lebih sering mengunjungi mall dan tempat-tempat hangover lainnya, yang terkadang lupa akan identitas jati diri sebagai orang Indonesia. Bung karno berpesan : Jangan sekali-kali kau melupakan sejarah, bro! :)