Saturday, January 5, 2013

Menelusuri Malam Minggu

Banyak orang yang mengistimewakan malam minggu. Sebuah momentum yang katanya pas untuk plesir bersama orang terkasih. Malam minggu, malam yang panjang, malam yang asik buat pacaran. Kata sebuah lirik lagu yang dipolulerkan oleh Dapur 61. Para ABG terdoktrin oleh stereotype yang didendangkan oleh Dapur 61 ini. Sebuah malam yang lebih panjang dibanding malam yang lainnya dalam 1 minggu.





Ya tentu, buat pasangan yang sedang dimabuk cinta mungkin bisa merasakan atmosfer cinta yang bertebaran setiap malam minggu. Jadi malam minggu adalah malam yang dinanti-nanti. Malam yang panjang untuk memadu kasih dan menikmati hangatnya ronde, sambil sesekali berbalas kata cantik yang merayu. Memang begitu. Bagi saya, yang juga pernah dimabuk cinta, setiap hari juga bisa menjadi malam panjang, jikalau malam itu dilalui berdua bersama orang terkasih. Tidak hanya malam minggu kan. Ya, dalam dimensi percintaan memang semua dirasa indah. Semua dirasa panjang. Malam minggu yang sudah jelas-jelas waktunya sama seperti malam yang lain juga dianggap panjang. Pokoknya begitu.


Tentu tidak bagi jomblo, sebutan lain yang diciptakan oleh mayoritas orang untuk menggambarkan spesies yang mengalami kesepian rasa. Spesies ini memang terkadang menjadi olokan. Banyak kisah buatan yang berbasis komedi menggunakan terminologi jomblo dan malam minggu sebagai topik yang bisa di-punchline kemana saja untuk mengundang gelak tawa. Cerita seorang jomblo di malam minggu sering dikomersilkan. Dijadikan bahan untuk jalan cerita yang menyakitkan. Saya tidak setuju!  "Aku bersamamu orang-orang malang jomblo" kata Soe Hok Gie yang mencoba di-punchline. Jomblo itu cuma pilihan kok. Jomblo itu tidak setragis itu. Dikit sih~


Terus kenapa malam minggu? Ada apa dengan malam senin? Malam selasa? Malam kamis? Mereka semua tentu cemburu. Malam minggu selalu diistimewakan. Apa yang salah? "Ini semua salah Dapur 61!!" kata malam selasa sambil menggerutu..


Ada apa di malam minggu?