Saturday, January 12, 2013

Hari Raya Saraswati : Dulu dan Sekarang

Setiap 210 hari sesuai dengan kalender Bali, pada Sabtu Umanis Watugunung umat Hindu merayakan hari raya Saraswati, yaitu hari raya turunnya ilmu pengetahuan kepada seluruh manusia untuk menjalani kehidupan yang sejahtera. Hari raya ini merupakan hari raya pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi ilmu pengetahuan, Dewi Saraswati.


Dulu waktu kecil, saya masih ingat banyak orangtua yang mengatakan saat hari raya ini tidak boleh membaca buku dan bahkan katanya tidak baik untuk belajar. Bukan cuma membaca buku, beberapa temen saya juga yakin hari Saraswati orang-orang tidak boleh membaca, ya membaca apapun, pokonya tidak boleh. Namun saya tidak mendapat jawaban kenapa kok tidak boleh membaca. Aneh aja rasanya. Padahal majalah Bobo edisi terbaru saat itu sudah melambai-lambai untuk segera dibaca. Tapi akhirnya saya mengiyakan untuk tidak membaca apapun pada hari Saraswati. Dengan logika sederhana anak kecil saya berpikir, bahwa ilmu pengetahuan pada hari Saraswati akan turun dari Dewi Saraswati dan akan merasuki seluruh buku yang ada dirumah. Jadi kalo dibaca pada saat itu sayang rasanya karena jadinya ilmu pengetahuan tidak bisa masuk.


Hari Saraswati ini juga merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh saya dan temen-temen waktu SD dulu, bahkan sampai SMP. Hari Saraswati yang jatuh pada hari sabtu pasti akan meniadakan kegiatan belajar mengajar dan otomatis dirumah juga tidak dipaksa untuk belajar. Ya cuma kecewanya tidak bisa segera menghabiskan membaca komik dan majalah Bobo pada itu. Ya memang begitu, waktu kecil Hari Raya Saraswati kadang dinanti, kadang juga dilematis, kenapa kok di hari ilmu pengetahuan malah tidak boleh membaca?


Terus seperti itu, saya galau hari raya... Lalu suatu saat saya mendapatkan jawaban. Jawaban itu didapat dari hasil kesimpulan sendiri atas obrolan orang dewasa saat itu, saya tidak ingat dimana dan siapa. Jadi logikanya pada saat Hari Saraswati semua buku kan di'banteni' (disucikan), diisikan berbagai macam banten sebagai simbol untuk menyucikan seluruh buku-buku yang ada sehingga akhirnya bisa bermanfaat bagi kita semua. Dan karena semua buku yang ada dirumah dibantenin, makanya sulit rasanya untuk mengambil dari tumpukan yang sudah berisi banten. Karena takut akibat mengambil salah satu buku, susunan banten tersebut jadi berantakan. Gitu. Sehingga akhirnya munculah sebuah "larangan" untuk membaca buku di hari Saraswati.


Ternyata sesederhana itu. Hingga akhirnya saya berpikir ya justru hari Saraswati inilah waktu yang pas untuk  kita menggiatkan lagi kegiatan menambah ilmu. Buku-buku disucikan dulu, kita memberi sembah Bhakti kepada Dewi Saraswati, baru lantas membaca dan meresapi buku-buku tersebut. Agar ilmu yang kita dapatkan dari buku tersebut menjadi suci dan akhirnya bisa digunakan untuk kebermanfaatan orang banyak. Sangat sederhana.


Tidak ada larangan untuk membaca, tidak ada larangan untuk belajar. Itu semua merupakan tradisi kuno. Tinggalkan!


Selamat Hari Raya Saraswati! Semoga Dewi Saraswati senantiasa menganugrahkan pengetahuan yang suci demi kedamaian umat manusia di seluruh dunia. Percuma pinter dan pandai merangkai bom, namun bom diledakkan di tempat umum yang terdapat banyak orang. Ilmu yang malah membuat kerugian bagi orang banyak kan. Jadilah personal yang berilmu, bijaksana dan bermanfaat bagi semua orang..




OM Saraswati ya Namah Swaha