Wednesday, January 2, 2013

Balada Mahasiswa Perantau 600 km (part 3)

Sindrom kangen rumah itu datang lagi. Sejak tahun baru 2010 tidak pernah merayakan tahun baru di tengah-tengah kehangatan keluarga. Menjadikan kangen ini penuh dengan harapan untuk segera membanggakan dan membahagiakan keluarga.


Tahun 2013 ini tahun yang spesial. Penuh harapan tahun ini bisa wisuda. Dan tentunya keluarga datang ke Jogja untuk menyaksikan anak nakal ini yang bergelar Sarjana Teknik. Astungkara. Sebuah momen haru atas pertama kalinya keluarga datang ke Jogja. Tidak sabar rasanya untuk segera meraih momen itu :)


Tahun ini adalah pertanggungjawaban dari jarak dan waktu yang dikorbankan selama merantau di bumi 'kawah candradimuka' ini. Entah langsung bekerja atau melanjutkan ke jenjang S-2. Bisa kita saksikan di tahun ini. Tahun yang penuh misteri.


Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan sebelumnya, yaitu Balada Mahasiswa Perantauan 600 km (part 1) dan Balada Mahasiswa Perantauan 600 km (part 2). Berusaha membuat tulisan yang berlanjut. Tentang mahasiswa perantau 600 km dari rumah. Tulisan kali ini adalah tentang rumah.


Darimana kita mulai? Mari kita mulai dari rumah. Rumah sebagai tempat cikal bakal kita untuk kemudian mengarungi samudera kehidupan yang keras dan penuh misteri.


Rumah adalah Nyaman!


Rumah adalah tempat ternyaman dibanding seluruh tempat indah lainnya di muka bumi. Rumah merupakan tempat yang paling hangat dibanding kehangatan yang pernah diciptakan di dunia. Keluarga adalah tempat kita bersandar. Menjadi tempat empuk untuk berkeluh kesah, suka maupun duka. Keluarga dan rumah merupakan titik nol kita. Pusat, acuan dan orientasi.


Ketika hujan deras mengguyur kita hingga mengakibatkan demam, rumah mampu dijadikan tempat berteduh. Jika matahari panas menyengat tubuh, kesejukan rumah akan bisa membuat nyaman. Ketika bersukacita atas kemenangan taruhan bola dengan teman sampai dengan hura-hura minuman keras di diskotik, keluarga dengan setia menunggu dengan kepercayaan bahwa anak ini baik-baik saja. Ketika galau putus cinta itu datang, keluarga selalu bisa menenangkan dengan 'semua baik-baik saja', kejar mimpimu dan yakinlah bahwa kalo jodoh tidak akan kemana. Begitulah, rumah dan keluarga adalah 'surga' sebenarnya :)


Tentu tidak berlebihan saya menyatakan demikian, seseorang yang tidak mempunyai rumah serta jalinan hubungan keluarga yang kurang harmonis akan sulit mendapat akses untuk menikmati kondisi nyaman ini. Kondisi rumah yang layak dan meriahnya suasana keluarga merupakan kebahagiaan yang paling sederhana. Kebahagiaan yang sulit didapatkan oleh keluarga dalam ilustrasi berikut ini. Papa bekerja di kantor terus-menerus dengan penuh nafsu dan ambisi kedudukan, Mama yang setiap harinya arisan dengan ibu-ibu yang saling memamerkan koleksi baju branded-nya sambil membawa tentengan belanjaan di mall mewah dan si Anak dirumah bermain dengan gadget canggih dan sesekali membentak pembantu karena telat membersihkan kamar tidur. Mungkin secara finansial, keluarga seperti itu tidak kekurangan, bahkan berlebihan. Namun, adakah kehangatan dan kebahagiaan disana?


Dan bersyukurlah saya dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang sederhana dan harmonis. Bapak setiap pagi memakai seragam hijau tua, bersepatu kulit hitam mengkilat, bergegas menuju SD (Sekolah Dasar) untuk mengajar mata pelajaran Agama Hindu, Ibuk yang hiruk pikuk menyiapkan sarapan dan segera meluncur ke SD tempat mengajar. Benar, saya dilahirkan di tengah keluarga pahlawan tanpa tanda jasa, Guru. Hingga akhirnya jam pelajaran sekolah usai, Ibu melanjutkan harinya dengan membuka toko sambil mengoreksi tugas dari anak didiknya. Ibu menyelaraskan kemampuan berdagang dan hasrat sebagai pendidik. Ibu selalu berusaha memberi teladan untuk anak-anaknya. Sedangkan Bapak menjadi koordinator kebersihan dan kenyamanan rumah dengan beberapa asisten yang membantu sambil bercocok tanam di halaman rumah, inilah hobi beliau yang tidak menurun ke saya :). Bapak selalu menanamkan kehidupan yang sederhana dan damai. Mencintai keindahan dan kebaikan. Beliau selalu memberi teladan di setiap langkahnya. Ada juga kakak saya yang sedang merantau mencari penghidupan di kota Denpasar bersama Istri dan Narendra. Tak jarang pulang ke rumah untuk membantu pekerjaan ibu di toko. Sebuah keluarga yang sederhana dan harmonis. Astungkara, semoga selalu rahayu dan rahajeng.


Begitulah tulisan ini akhirnya saya tutup dengan kerinduan yang selalu saya rasakan di tanah rantau 600 km ini.


Seorang anak nakal dari keluarga sederhana, Made Bhela Sanji Buana