Friday, December 28, 2012

Pertemuan, Guru dan Hidup (part 1)

"Bahwasanya setiap pertemuan adalah pembelajaran. Semua org yg diajak berinteraksi itulah guru besar sebenarnya. Inilah hidup men! ;)"


Dimulai dari twit saya pada tanggal 28 Desember 2012, sekitar jam 9 malem. Ya, saya menganggap semua orang yang pernah bertemu dengan saya adalah guru. Baik itu mencela, memuji, mengejek, memfitnah, memberi tahu, membuat menangis dan segala bentuk interaksi dari orang lain. Semua itu tersusun rapi dalam agenda yang dibuat oleh Tuhan untuk saya yang bernama HIDUP.


Sesungguhnya tidak sulit untuk dimengerti, bahwa setiap pertemuan merupakan sebuah pembelajaran. Dan sudah sangat jelas bahwa yang mengantarkan kita menjadi individu yang seperti sekarang ini adalah intervensi dari semua makhluk yang pernah berhubungan dengan kita. Oke, lahir dari rahim Ibuk, kita bagaikan kertas putih yang siap untuk menyerap apapun yang dirasakan, dilihat dan didengar. Pertemuan dengan orang tua untuk pertama kalinya menjadikan orangtua merupakan guru yang pertama dan paling utama. Tentu saja sebagai kertas putih kita tidak bisa untuk tidak percaya dari setiap apa yang dituturkan oleh orang tua.  Semua ajaran dan teladan yang diberikan oleh orang tua kita serap dan kita tirukan bahkan secara mentah-mentah. Itu pembelajaran hidup yang menjadi cikal bakal kita untuk terjun ke lapangan kehidupan yang luas.


Pertemuan dalam lingkup keluarga membentuk karakteristik watak dan cara kita untuk menyikapi kehidupan. Ini baru bekal awal untuk mengarungi samudra kehidupan yang luas dan penuh misteri. Guru-guru berikutnya kita jumpai dalam pertemuan dengan orang-orang diluar rumah. Inilah guru yang lebih keras. Maksudnya, beliau tidak hanya mengajarkan tentang kebaikan atau keburukan, namun telah memberikan bahan ajar untuk dimensi cara pandang, watak dan tingkah laku sebagai makhluk sosial. Guru-guru ini mengajarkan kita tentang dendam, ketidakadilan, iri hati dan kesombongan. Bukan tidak mungkin semua ini mengintervensi karakteristik kita sebagai makhluk pembelajar. Sekarang kembali kepada personal kita masing-masing. Sikap dan cara pandang seperti apa yang kita kehendaki sesuai hati nurani kita untuk menjalani kehidupan yang keras dan serba misteri ini.


Sedemikan rupa perjalanan kita sampai pada saat ini. Tak terhitung banyaknya guru yang telah mengajari kita banyak hal. Tak sulit menemukan guru. Guru yang tidak hanya di kelas-kelas formal. Guru yang tidak hanya memakai powerpoint dalam ruang seminar. Guru yang tidak hanya memberi tugas dengan deadline tidak wajar. Ini semua adalah tentang Guru yang sebenarnya. Guru kehidupan!


Sebagai penutup saya mengutip sedikit kata Eep S.F bahwa hidup adalah kesediaan saling belajar dari dan dengan siapapun.


Hiduplah hari ini, esok dan seterusnya bro! ;)