Wednesday, December 26, 2012

Hingar Bingar Pariwisata VS Lingkungan Bali

[caption id="attachment_294" align="alignleft" width="509"]Sumber : http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2011/12/01/siapa-yang-menghancurkan-bali.html Ilustrasi : http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2011/12/01/siapa-yang-menghancurkan-bali.html[/caption]

 

Perkembangan pariwisata di Pulau Dewata Bali ternyata tidak selalu berdampak positif terhadap pembangunan di Bali. Banyak konversi lahan dari pertanian menjadi  bangunan villa, hotel, restoran dan bangunan pariwisata lainnya. Tentunya ini merupakan kemunduran bagi kelangsungan lingkungan yang semakin hari semakin “dijajah”. Berikut rangkuman fakta dari Komite Kerja Advokasi Lingkungan Hidup (KEKAL) Bali,  sebagai berikut:




  1. Luas kawasan hutan di Bali hanya 20% dari luasan pulau Bali, deficit 10% dari luas minimal 30% dari luas wilayah pulau Bali yang diamanatkan Perda RTRWP Bali. Itupun dalam keadaan kritis;

  2. Pencemaran di 13 titik pantai strategis akibat industri pariwisata seperti kawasan pantai sanur, pantai mertasari, pantai kuta, pantai lovina, pantai candidasa, pantai tanah lot, pantai soka dll;

  3. Interusi air laut (masuknya air laut ke daratan) massif terjadi. Di daerah Sanur kurang lebih mengalami interusi sejauh 1 km;

  4. Kerusakan kawasan pesisir pada 140 titik abrasi dari panjang pantai sekitar 430 km. Laju kerusakan pantai di Bali diperkirakan 3,7 km per tahun dengan erosi ke daratan 50-100 meter per tahun.


Dari fakta yang dijabarkan diatas memperlihatkan dampak dari kegiatan pariwisata. Jika tidak dikontrol atau dilakukan upaya penyelamatan, ditakutkan Bali akan menjadi “Pulau yang tidak beretika lingkungan hidup”. Sony keraff mengungkapkan terkait dengan  teori etika lingkungan hidup yang dibagi menjadi tiga model teori sebagai solusi terhadap permasalahan lingkungan, yaitu Antroposentrisme, Biosentrisme, dan Ekosentrisme. Terkait dengan kasus kerusakan hidup di Bali, model Antroposentrisme dipakai sebagai pendekatan. Adanya pola hubungan manusia dengan alam yaitu alam sebagai alat kepentingan manusia. Lingkungan hidup dipakai untuk menambah “pundi-pundi” harta bagi manusia itu sendiri. Etika lingkungan hidup hampir diabaikan dan bersifat egoistis karena hanya menguntungkan kepentingan manusia.


Kerusakan lingkungan yang terjadi di Bali tentu diakibatkan oleh sikap egois dari manusia yang mengeruk keuntungan dengan mengabaikan etika lingkungan. Jika hal ini selalu dilakukan bisa dipastikan terjadi degradasi lingkungan besar-besaran dan Pulau Bali ditinggalkan oleh para wisatawan. Selain itu, akibat kerusakan lingkungan yang terus-menerus terjadi, maka diyakinkan anak cucu kita tidak bisa menikmati lagi keindahan lingkungan Pulau Bali, bahkan dampak jangka panjangnya adalah berubahnya atmosfer perkotaan, menumpuknya kadar karbon di udara yang berarti kurangnya kadar oksigen di udara akibat kurangnya pohon sebagai pemasok oksigen dan jika hal ini terjadi, maka penyakit akan berkembang lebih cepat dan mematikan. Akhirnya diperlukan kesadaran untuk beretika lingkungan dengan menjalankan prinsip – prinsip dari teori biosentrisme dan ekosentrisme yaitu menganggap bahwa manusia itu bagian dari alam. Menjalankan prinsip Golden Rules, yaitu jika kita berbuat baik terhadap alam, maka yakinlah alam akan berbuat baik terhadap kita.