Wednesday, December 26, 2012

Balada Mahasiswa Perantau 600 km (part 2)

home_sick_by_thebentruong-d37sq4kSekitaran jam 9 pagi tanggal 26 Desember 2012, Blackberry berbunyi panggilan dari IBUK membangunkan saya dari tidur. Dengan setengah sadar saya dengar suara itu. Suara manis seorang ibu yang hangat. Suara kehangatan dari beliau yang saya rindukan. Beliau adalah wanita yang paling saya cintai di muka bumi. Biarpun bawel dan cerewet, semua itu adalah anugrah yang paling indah buat saya. Saya harus segera membanggakan beliau. Beliau dengan semangat menggebu-gebu mengabarkan bahwa hari ini Buda Cemeng Klawu dirumah Negara ada acara Otonan keponakan saya, anaknya Kakak tersulung saya Gede Bagus Narendra Buana. Dirumah lagi rame, keluarga semua datang dan menanyakan kabar saya. Sebagai cucu pertama, kehadiran Narendra memang menjadi kebahagiaan luar biasa di keluarga kita. Jadi, semua keluarga menyambut Otonan Narendra dengan semarak. Memang luar biasa kehadiran Narendra, kamu harus jadi jagoan, nak!


Setelah Ibuk, telpon diambil alih oleh Bapak dengan ciri khas suara pelan dan berwibawa, beliau langsung memarahi saya 'kenapa baru bangun jam segini', ya memang kalo dirumah saya harus bangun jam 7 pagi maksimal. Itupun tidak boleh bermalas-malasan, langsung ambil sapu dan bersihin rumah. Rutinitas yang dulu sangat saya sebalkan, namun sekarang bahkan sampai kangen.. Beliau juga menyebut satu persatu keluarga yang datang ke Negara, menggambarkan keadaan rumah negara yang meriah dan semarak. Dan akhirnya beliau langsung mematikan telponnya, karena terburu-buru mungkin.


Saya kangen kalian semua. Banyak acara penting keluarga yang saya lewatkan. Karena saya di Jogja, 600-an Km dari rumah. Tempat perantauan. Tempat yang "tidak-nyaman". Tempat dimana saya menjadi individu "sebatang-kara". Sebagai anak bungsu, saya tetaplah Made Bhela yang manja. Kangen Bapak, Ibuk dan Kakak. Kangen Narendra juga. Kangen rumah Negara.


Untuk semua yang dirumah, bhakti ini untuk kalian!


Om Awighnam Astu Namo Siddam..