Friday, September 21, 2012

Sisi Gelap sebuah Pulau Surga


Cover Buku Pandora Bali


  • Judul              : Pandora Bali : Refleksi di balik Gemerlap Turisme

  • Pengarang      : Nyoman Sukma Arida

  • Penerbit          : Pustaka Larasan, Denpasar

  • Tebal               : xix + 166 halaman

  • Cetakan          : 2012


Kotak Pandora, istilah itu yang digunakan oleh Bli Sukma untuk menggambarkan kondisi Bali sekarang ini. Seperti diketahui, Pandora adalah sebuah kotak yang jika dibuka akan melepaskan malapetaka di dunia, rasa sakit, keserakahan, kesengsaraan, penyakit, dan sebagainya. Diharapkan buku ini memang menjadi ajang untuk menyurakan jeritan hati Pulau Bali ditengah-tengah hingar bingar dunia pariwisata.


Buku ini berisikan kumpulan tulisan Bli Suksma secara lugas, jujur dan apa adanya. Semua yang dirasakan oleh penulis ditumpahkan dalam buku setebal 166 halaman ini. Bagi saya, sangat menarik, bahasa yang ringan disertai ilustrasi-ilustrasi yang mencerminkan potret realitas kehidupan masyarakat sosial di Bali. Seakan-akan membaca buku ini, kita merasakan Bli Sukma bercerita bersama kita di meja warung kopi dengan santai tentang pengalaman dan kegelisahannya melihat pulau yang dicintainya lama kelamaan dimakan abis para investor busuk dari luar Bali.


Buku ini kaya curahan hati kegelisahan tentang kekeliruan dan kejanggalan yang terjadi di Pulau yang katanya Pulau Dewata. Bli Sukma melihat dari sisi yang berbeda, dari sudut yang hampir jarang dipikirkan orang Bali itu sendiri. Memang, dengan pengalaman Bli Sukma pernah hidup beberapa waktu di luar Bali, menempuh kuliah di UGM Jogja dan akhirnya kembali mengajar di Fakultas Pariwisata UNUD dengan membawa “mata” yang baru.  


Tiap bagian di Buku ini menceritakan tentang ilustrasi yang sederhana dan ringan namun penuh makna. Bli Sukma menggambarkan setiap permasalahan dengan cerita-cerita, tokoh yang sangat “Bali”. Misalnya, tokoh Gusti Ayu Cempaka yang bersikeras melangsungkan upacara pelebonan yang meriah dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan, yang pada akhirnya terpaksa meminjam kesana-kemari untuk membuat upacara yang uttamaning utama (upacara yang tingkatannya paling tinggi) hanya demi gengsi semata. Ada lagi I Lugra, seorang tokoh yang diceritakan berpenghasilan pas-pasan yang wajib mengeluarkan iuran untuk upacara di Pura-pura, upacara agama di rumah, dan belum lagi biaya hidup sehari-hari. Nah ini sangat menarik sekali, Bli Sukma berhasil membuat perincian yang sistematis dan sederhana terkait dengan pengeluaran biaya yang harus dikeluarkan orang Bali pada umumnya dalam melakukan kegiatan adat-istiadat dan dilengkapi dengan hari efektif orang Bali yang banyak sekali “terbuang” untuk melangsungkan kegiatan adat dan keagamaan. Bli Sukma menampilkannya dengan tabel yang sangat mudah dicerna.


Selain itu, Bli Sukma juga curhat mengenai kejadian-kejadian yang sangat dekat dan sangat sering kita lihat, misalnya perilaku anak muda yang memilih berpacaran di pantai saat hari raya Siwalatri dan kegiatan bazzar yang diselenggarakan sebagai malam pemungutan sumbangan, malah dipakai sebagai ajang pesta minum-minuman keras. Banyak analisis yang menarik yang ditangkap oleh Bli Sukma dan menjadikan perenungan bagi kita para generasi muda.


 Dengan ketertarikan Bli Sukma dalam bidang pariwisata, tidak sedikit analisis yang dipaparkan oleh Bli Sukma terkait dengan dampak negatif yang dibawa oleh hingar bingarnya dunia pariwisata yang semakin hari semakin menjadi-jadi.  


Buku ini layak dibaca untuk semua orang untuk lebih membuka pikiran dan kritis akan kejadian yang sangat dekat terjadi di sekitar kita. Bahkan bagi saya, para mahasiswa Bali yang masih peduli dengan keberadaan Bali, buku ini WAJIB untuk dibaca! ;)