Friday, September 21, 2012

Anak Muda Hindu Harus Eksis, Kritis dan Romantis!

*ini merupakan esai yang ditulis untuk acara diskusi "Eksistensi Intelektual Muda Hindu dalam Membangun Bangsa" pada Dies KMHD UGM yg ke-29 Hari Sabtu, 22 September 2012 di Gelanggang Mahasiswa UGM. Download versi PDF disini *


Om Swastyastu


“Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma”


Tidak sulit dimengerti bahwa kita sebagai pemuda hindu sering dihadapkan pada permasalahan menjadi minoritas di sebuah lingkungan baru yang berjarak puluhan bahkan ratusan kilometer dari kampung halaman untuk mengejar cita, menimba secercah ilmu atau juga mencari pundi-pundi kehidupan. Pemuda hindu dihadapkan pada sebuah kondisi dimana seringkali keadaanya sangat berbeda dari lingkungan daerah asal. Perbedaan kondisi yang bisa disaksikan di lingkungan rantau menyebabkan kita merasa menjadi orang “aneh” dan paling berbeda dari yang lain.Baik dari aktivitas beragama, watak, budaya dan pola pikir dari kaum yang beragama “mayoritas” yang mau tidak mau suka tidak suka kita harus menerima dengan hati terbuka mengenai keadaan seperti  ini.  Hal ini tentu  tidak keliru, bahkan sebuah point tambah untuk kita pemuda hindu sebagai pembelajaran untuk lebih menjunjung tinggi toleransi beragama dengan umat lain. Oleh karena itu, pemuda hindu tentu harus bergaul dengan sebanyak-banyaknya orang, berinteraksi, berdiskusi akan berbagai hal. Memperkenalkan karakter ke-hindu-an Tri Kaya Parisudha kita dengan perilaku yang jujur, sopan dan bijaksana, menghargai perilaku umat lain yang berbeda agama, dan percaya bahwa perbedaan adalah sebuah harmoni. Bhinneka Tunggal Ika. Hal itu semua bahkan memperkaya khazanah pengetahuan, wawasan, kebijaksanaan dan menambah relasi terkait dunia kerja di masa depan. Selain itu, keadaan kita yang berlabel minoritas justru sewajarnya sebagai cambukan “jengah” kita untuk giat belajar dan berjuang agar bisa unggul atau setidaknya setara dengan kaum yang jumlahnya lebih banyak. Agar kondisi kita tidak terkungkung lebih jauh, apalagi melihat persaingan global dewasa ini yang serba maju dan kompetitif.


Kita tentu tidak mau dikatakan sebagai pemuda malas yang memble mlempem kan?  Sebagai pemuda, kita adalah makhluk yang secara kodrat paling bersemangat berapi-api di muka bumi. Sungguh terlalu kata penyanyi dangdut Rhoma Irama dalam lirik lagunya “masa muda, masa yang berapi-api”, yang benar-benar mencerminkan jiwa anak muda yang selalu bergairah. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh generasi tua yang didapatkan dalam pelajaran sejarah hendaknya dijadikan perenungan dan evaluasi agar ke depannya anak muda tidak terjerembab dalam jurang kesalahan yang sama. Itulah kata Bung Karno, jangan sekali-kali melupakan sejarah (jas merah).


Melihat kondisi bangsa Indonesia yang carut marut seperti sekarang, kita lihat di media-media, isu mengenai korupsi, diskriminasi, kekerasan, terorisme, konflik agama yang seakan sudah menjadi tontonan rutin yang sudah lumrah dan biasa, apa kita sebagai pemuda, terlebih lagi kaum intelektual yang  -seharusnya- berpikiran kritis hanya diam saja? Perlu diingat, tugas sebagai seorang mahasiswa bukan hanya belajar di ruang-ruang kuliah, cepat lulus dengan IP tinggi, dapet ijazah lalu dapat kerja dan memperkaya diri sendiri.  Jauh lebih penting dari itu adalah mahasiswa sebagai agent of change dan social control dalam kehidupan bermasyarakat. Sejarah mencatat, mahasiswa dengan jiwa muda dan semangat berontaknya mampu menggulingkan pemerintahan otoritarianisme Soekarno (Orde Lama) pada tahun 1966. Dan berlanjut pada tahun 1998 dengan pergerakan yang sistematis mahasiswa mampu menggulingkan rezim Orde Baru Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Jelas alasannya, jika ada yang mengatakan mahasiswa sebagai kaum “oposisi konstruktif abadi” yang selalu “menggonggong” gerak-gerik pemerintah jika melakukan penyelewengan -walaupun sayangnya daya kritis mahasiswa kini semakin tumpul-. Bagaimana dengan mahasiswa hindu? Tentu, tidak terkecuali pemuda hindu. Dengan memahami konsepsi hindu Dharma Agama, Dharma Negara, selain kita melakukan sujud bhakti kepada Sang Maha Kuasa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebagai seorang hindu sekaligus warga Negara Indonesia juga berkewajiban ikut dalam upaya-upaya pembelaan Negara Republik Indonesia sebagai wujud cinta tanah air kita, tempat kita lahir, tempat kita berpijak, tempat kita belajar, tempat mencari penghidupan.


Eksistensi pemuda hindu


Dalam dunia keorganisasian di lingkungan kampus UGM, baik di lingkup jurusan, fakultas atau universitas, gaung dan eksistensi seorang pemuda hindu ternyata masih minim. Bisa dilihat dari kurangnya peran aktif mahasiswa hindu di posisi strategis dalam struktur organisasi kampus (BEM, himpunan jurusan, keluarga mahasiswa, kelompok ke-hobi-an, UKM, dsb.) selain Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD UGM).  Hal ini menjadikan kurang “terkenal”nya anak muda hindu dalam kontestasi pergaulan dunia keorganisasian kampus.


“Ah, males ikut yang begituan. Ga jelas. Ga nyambung sama orang-orangnya. Mending kuliah yang rajin, cepat lulus dan langsung kerja di perusahaan asing. Gajih gede. Nikah deh..”.  Ya! Kira-kira begitu ilustrasi jawaban seseorang anak muda hindu (Anggota KMHD UGM?) yang sempat suatu ketika saya (penulis) ajak berbincang santai.  Tapi realitanya memang begitu, masih banyak mahasiswa yang ternyata antipati terhadap keberadaan organisasi kampus. Keberadaan organisasi dianggap tidak terlalu berpengaruh terhadap kepentingannya. Belum lagi desakan dari orang tua mahasiswa di kampung yang mendesak lulus sesegera mungkin karena biaya pendidikan yang semakin tinggi, biaya hidup di dunia rantau yang semakin menjadi-jadi sudah mencekik  perekonomian keluarga.  Semakin cepat lulus, semakin baik, beban orang tua sebagai “penyuplai” materi finansial ke dunia rantau selama ini bisa lebih ringan apalagi bisa langsung kerja. Luar biasa, nak! Itu impian sebagian besar orang tua mahasiswa.


Selain keadaan dilematis seperti itu, memang diakui dalam dunia organisasi kampus terbentuk sebuah atmosfer “homogenisasi” yang menjadikan ketidaknyamanan bagi orang-orang yang “berbeda”. Seringkali beberapa organisasi tertentu dibalut dengan “bumbu-bumbu” berupa dogma-dogma agama tertentu yang menjadikan organisasi tersebut menjadi semacam tempat kaderisasi untuk memupuk eksklusifitas dan militansi kaum tertentu. Organisasi semacam itu bisa dikatakan tidak bisa mengakomodir semua kepentingan mahasiswa dari berbagai golongan. Ya, mungkin itulah sebabnya terkadang kaum “berbeda”, seperti kita pemuda hindu tidak percaya diri dan sulit untuk menyesuaikan dengan keadaan seperti itu. Terlebih lagi, sikap pemuda hindu yang selama ini cenderung “masa bodo” dan membiarkan keadaan seperti ini terjadi. Tentunya jika dibiarkan yang ditakutkan adalah pemuda hindu makin jauh tertinggal dan terkungkung dalam perwujudan sebuah imperium homogen ala timur tengah yang menjadi “tujuan akhir” mereka.


Semangat untuk berorganisasi dan menjadi aktivis kampus memang masih redup di kalangan pemuda hindu. Padahal sejatinya, banyak “sesuatu” yang baru yang sulit atau mungkin tidak bisa kita pelajari dari pustaka manapun. Ini semua terkait dengan softskill kita dalam rangka menunjang karier di masa depan.  Perlu diketahui, tidak melulu dengan bermodal Indeks Prestasi 3,8 atau bahkan mencapai 4 seseorang bisa mendapatkan posisi karier masa depan yang diimpikan. Semua kembali lagi kepada pengalaman, kerja keras, semangat juang dan “jam terbang” seseorang saat berada dalam “kawah candradimuka” kampus. Sehingga ketika terjun dalam dunia kerja, siap mengimplementasikan ilmunya di masyarakat dengan visi-visi perdamaian kemanusiaan. Di dalam organisasi-lah mental seseorang bisa ditempa, sebagai tempat mengaktualisasi diri, berinteraksi dengan semua orang, mempelajari berbagai karakter individu, bernegosiasi, ilmu manajemen, kecakapan mengelola waktu dan menambah networking. Perlu diingat lagi, sebagai mahasiswa UGM, kita adalah individu-individu pilihan yang sebelumnya telah bersaing dengan ratusan tibu orang melalui proses seleksi masuk yang ketat. Ya toh? Kampus UGM memang basisnya orang-orang hebat, jadi sebenarnya sadar atau tidak kita sedang berada di “kandang”nya orang-orang hebat bangsa yang sama-sama sedang berproses.  So, tunggu apa lagi? Gunakan sebaik-baiknya kesempatan emas ini untuk selalu meng-upgrade diri. Suatu saat, kita semua menetas sebagai individu-individu yang bersama berjibaku untuk membangun bangsa.


Kampus UGM merupakan representasi dari Negara Indonesia, jadi tak berlebihan rasanya jika menganggap UGM ini adalah “simulasi” dari kehidupan berbangsa dan bernegara, yang warganya  adalah mahasiswa yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Hal ini merupakan salah satu kelebihan kuliah di UGM.  Sungguh dipersilahkan, untuk memulai belajar demokrasi di almamater kampus biru UGM. Keikutsertaan penulis dalam kancah perpolitikan kampus (Senat Mahasiswa UGM -lembaga legislatif dalam struktur pemerintahan mahasiswa di kampus UGM-), merupakan pembuktian awal bahwa pemuda hindu ternyata mampu mendapatkan legitimasi, yang mampu bersuara di tingkat universitas.  Senat Mahasiswa merupakan penghuni parlemen sebagai perwakilan mahasiswa yang dipilih melalui Pemilihan Raya Mahasiswa (Yes, persis semacam PEMILU). Belajar berdemokrasi, belajar berpolitik cerdas. Dimulai dari sekarang!


Pemuda Hindu yang Kritis


Sebagai pemuda hindu tentunya wajib hukumnya menjadi jiwa yang progresif dan kritis. Selalu memilih diam tidak akan merubah keadaan apapun. Saatnya pemuda hindu bersuara keras dan lantang!  Dengan berlandaskan semangat Dharma kita bersama tegakkan kebenaran di muka bumi.


Keadaan masa kini di jaman kaliyuga seperti ini, dimana Dharma terkungkung oleh sifat-sifat Adharma memang mau tidak mau sebagai umat hindu harus kritis menghadapi sikap seperti ini. Timbul pertanyaan, bagaimana peran intelektual muda hindu menghadapi zaman edan sehingga anak muda hindu bisa menjalankan Dharma Agama dan Dharma Negara.


Dharma Agama merupakan kewajiban untuk bertingkah laku sesuai dengan keyakinan Hindu yang dianutnya. Dharma Negara merupakan kewajiban umat Hindu bertingkah laku sesuai dengan falsafah negara pancasila.


I Gde Sudibya dalam bukunya “Hindu, Menjawab Dinamika Zaman”, menjabarkan terkait dengan peranan intelektual hindu dalam sejumlah bidang, yaitu yang pertama, intelektual muda hindu hendaknya melakukan kajian secara mendalam terhadap nilai-nilai Hindu yang terdapat dalam Kitab Suci. Melakukan re-interpretasi sehingga lebih disesuaikan dengan konteks kehidupan zaman sekarang ini. Kedua,  menjadi pelopor dari lahirnya lembaga-lembaga keagamaan. Ketiga, memberikan wawasan kepada masyarakat untuk memperkuat keyakinan dalam menjalani masa depan secara Hindu. Keempat, dapat menjadi pemimpin budaya dan kemudian politisi (political cultural leader) yang dapat memperjuangkan kepentingan umat hindu. Kelima, menjadi inspirator untuk orang lain terkait dengan menumbuhkan kemauan dan kemampuan bekerja keras, keterikatan untuk meningkatkan produktivitas diri, komitmen untuk menggalang semangat kerja yang merupakan inti dari keberhasilan usaha.


Tentunya dengan memupuk sikap-sikap kritis dari sekarang, kita sebagai pemuda hindu bisa berkontribusi demi kejayaan bangsa Indonesia. Menyingsingkan lengan baju dan bergabung dengan pemuda dari seluruh nusantara, untuk tercapainya Negara yang Gemah Ripah loh Jinawi.


Teringat kembali, sebuah lirik sederhana yang pernah penulis coba dendangkan pada acara Kirtanyah Sada Saraswati KMHD UGM 2010, “...satukan perbedaan, satukan cita untuk perdamaian. Ucap syukur pada-Nya. Semangat Dharma dalam kebersamaan”. Makna yang ingin disampaikan bahwa jangan jadikan perbedaan menjadi sebuah alasan untuk menyulut api perpecahan. Satukan, dan biarlah perbedaan itu harmonis menjalin perdamaian. Dengan kebersamaan kita tegakkan Dharma! Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya!


Romantisme hindu berwujud harmoni


Romantis? Tidak melulu tentang percintaan antara dua orang anak manusia yang sedang memadu kasih, bukan cuma tentang cinta menye-menye ala anak ABG, atau apalagi sebingkai kisah dramatik hasil “doktrin” sinetron. Ini tentang cinta yang universal. Cinta pada Sang Pencipta beserta seluruh ciptaan-Nya.Tat Twam Asi, bahwa Aku adalah Kamu.


Dengan percaya hukum Karmaphala, kita tentu percaya bahwa apapun yang kita lakukan terhadap alam, alam akan memberi balasan kepada kita. Dalam falsafah hidup Tri Hita Karana, dijabarkan mengenai penyebab kehidupan yang bahagia, Parahyangan yaitu menjalin hubungan yang “romantis” kepada Sang Hyang Widhi sebagai Causa Prima, Sang Maha Penyebab. Menjalankan Sradha Bakti dengan penuh ketulusan. Pawongan, cinta kasih sesama umat manusia, menjunjung tinggi sikap toleransi, gotong royong. Palemahan, hubungan “romantis” dengan alam dimana tempat seseorang melangsungkan penghidupan.


Semua itu berjalan manis, jika kita melaluinya dengan romantis. Seperti indahnya pujangga dalam merangkai kata menjadi indah. Sama dengan sebuah hubungan cinta dua anak manusia. Tentu berharap  hubungan yang se-romantis mungkin kan? Ya, begitu. Hidup yang ideal adalah tentang romantisme kita terhadap apa yang kita lakukan, itu berisikan ketulusan, keikhlasan. Sikap mengharapkan imbalan dari apa yang kita perbuat, tentu perbuatan yang sangat tidak keren untuk dilakukan pada zaman sekarang.


Dan pada akhirnya, mari kita sebagai pemuda hindu jangan puas hanya sebagai penonton, ayo melakukan pertunjukkan menarik dan bersiaplah untuk “Ambil instrumentmu bung!, kita bikin heboh suasana!” atau senada dengan, Pemuda Hindu harus berani, percaya diri untuk tampil dan mengambil peran sesuai dengan bidang yang digemari, dan bersatulah untuk mengguncang dunia! Kita bisa! Militansi anak muda hindu harus ditumbuhkembangkan. Bangsa ini menunggu gebrakan perubahan dari intelektual muda hindu untuk berkontribusi dalam upaya membenahi keadaan bangsa. Ataukah memang dari kaum kita menjadi pemimpin bangsa yang bisa mengembalikan kejayaan Indonesia seperti keadaan pada saat masa Kerajaan Majapahit? Ya kita lihat saja! Demi keajegan Dharma di muka bumi, Almamater Gadjah Mada dan Bangsa Indonesia tercinta. Bersatulah wahai Pemuda Hindu. Semangat Dharma dalam Keberagaman!


Dirgahayu Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Gadjah Mada yang ke-29. Bangsa ini menunggu kita. Menunggu kebangkitan Pemuda Hindu Indonesia. Semangat Dharma!


Om, Santhi, Santhi, Santhi, Om


Samirono, 21 September 2012



madebhelasanjibuana@yahoo.com