Thursday, April 19, 2012

Dilematis Pariwisata di Pulau Dewata

Pariwisata merupakan sektor primadona pada setiap daerah di dunia. Sektor ini bisa menjadi penggerak berbagai sektor lainnya (multiplier effect). Indonesia sebagai negara yang memiliki panorama keindahan alam, letak geografis yang strategis, tanah yang subur, keanekaragaman suku budaya serta terdapat berbagai flora dan fauna yang tersebar di seluruh pulau, tentunya memiliki prospek yang cerah dan peluang untuk dikembangakan


Salah satu pulau yang terkenal dengan sebutan “Pulau Dewata” di Indonesia, yaitu Pulau Bali adalah salah satu Pulau yang sudah menjadi destinasi pariwisata dunia dengan mendatangkan wisatawan dari berbagai belahan dunia dan menunjukkan terjadinya peningkatan kunjungan setiap tahunnya yang cukup signifikan. Budaya dan kesenian yang unik serta panorama alam Pulau Bali menjadi daya tarik tersendiri bagai para wisatawan untuk menikmati liburan di Pulau Bali.


Industri pariwisata merupakan industri ‘ekport’ yang tak berwujud yang memberikan suatu pengalaman baru bagi pelakunya, yaitu wisatawan itu sendiri. Wisatawan adalah orang yang berkunjung ke suatu tempat yang bertujuan berekreasi, bersenang-senang dan lainnya dalam kaitannya dengan pemenuhan kepuasan, kegembiraan dan menggunakan fasilitas-fasilitas pariwisata. Indikator keberhasilan pariwisata, yaitu meningkatkan kedatangan wisatawan (arrival), meningkatkan lama tinggal para wisatawan (length of stay) dan meningkatkan pembelanjaan wisatawan sangat berkontribusi dalam kesejahteraan masyarakat.


Tak bisa dipungkiri, Pariwisata sebagai andalan perekonomian Bali menjadikan sebagian besar penduduknya hidup dengan sektor ini. Ini menjadikan sektor lainnya seperti pertanian, industri menengah menjadi kurang peminatnya. Pemerintah juga dalam pembangunannya selalu memprioritaskan pembangunan Infrastruktur pendukung pariwisata. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan memang selalu mengedepankan sektor pariwisata. Disisi lain, lahan pertanian secara cepat berubah menjadi villa atau hotel. Oleh karena itu, berkurangnya profesi petani yang menjadi tour guide atau pekerja pariwisata lainya. Ini ditakutkan menjadi celah oleh para investor untuk mempergunakan tenaga kerja dari daerah dengan upah yang minim, mengingat juga di beberapa daerah di Bali masih banyak yang buta huruf dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak memadai, sering kesadaran akan pariwisata belum tumbuh di kalangan para mayarakat di pedesaan.


Perkembangan pariwisata menjadi pengaruh yang besar atas tata guna lahan di Bali. Alih fungsi ratusan hektare lahan pertanian produktif, dan bahkan menggusur atau mengganggu keberadaan tempat-tempat suci (parahyangan) yang terdapat di lahan tersebut.
Selain itu juga perkembangan objek wisata juga mempengaruhi kawasan pantai, kemudian menutup fungsi pantai sebagai tempat suci bagi orang Bali dalam prosesi upacara Melasti, yakni ritual penyucian alam semesta dan diri sendiri menjelang Hari Suci Nyepi, tahun baru Saka.


Salah satu kearifan lokal Bali, yaitu konsepsi Tri Hita Karana, yaitu 3 unsur keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dan lingkungan mulai terganggu akibat ekploitasi besar-besaran oleh pengembang pariwisata. Ini semua akibat para investor memaksakan kehendaknya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya pada sektor pariwisata di Bali.