Tuesday, January 3, 2012

Semangat Nasionalisme dalam Keberagaman

Hiduplah Indonesia Raya
Seperti yang kita tahu, isu-isu ‘agama’ sedang marak di Indonesia. Sering kita semua lihat di media tentang terjadinya kekerasan, diskriminasi, fanatisme berlebihan dan aksi-aksi lain dengan mengatasnamakan dirinya ‘pembela umat’, ‘pembela tuhan’ atau apalah sebutan yang lainnya. Sering saya bertanya, apakah benar mereka ber-agama? Bukannya semua agama mengajarkan umatnya tentang perdamaian, anti-kekerasan? Setahu saya, yaitu: kasih sayang, kebenaran, kejujuran, kesetiakawanan, kebersamaan, kedamaian, kebajikan dan nilai-nilai lain yang universal ada dalam setiap agama. Nilai inilah yang seharusnya lebih ditonjolkan supaya kita bisa menumbuhkembangkan kebersamaan sosial untuk kedamaian dunia. Kalau benar mereka beragama, nah terus apa fungsi agama? Apa gunanya rajin sembahyang, tapi tidak menghargai mereka yang ‘lain’,intoleransi terhadap umat agama lain, diskriminasi terhadap kaum minoritas, meng-halalkan-kan kekerasan, atas alasan pembelaan ‘kebenaran’.

Ah, Katrok! Apalagi kita hidup di sebuah negara yang plural, multi-kultural, dan berideologi PANCASILA. Kita ini warga negara Indonesia, sebuah negara yang menjunjung tinggi PANCASILA sebagai acuan setiap gerak-gerik hidup warga negara. PANCASILA adalah naskah yang paling ‘tinggi’ di Indonesia. Pun kalau kita mau jadi warga negara Indonesia yang baik. Saya yakin, Founding Father kita merumuskan pancasila untuk upaya persatuan dan kesatuan seluruh warga negara Indonesia. Karena kita bukan Arab Saudi,  yang mempunyai ‘keseragaman’, sedangkan filosofi Indonesia adalah “Tampak Beda, tapi Sesungguhnya Satu!” yang merupakan hasil dari keberagaman Sumber Daya Alam, letak geografis, dan budaya kita.

Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa itu sumpah kita sebagai pemuda Indonesia. Ah, seharusnya ditambah dengan 1 point, yaitu Satu Hukum Persatuan, Hukum Nasional Indonesia.. Hehe. Tapi memang dualisme hukum yang terjadi di Indonesia, yaitu Hukum Nasional dengan Hukum dogma-dogma agama, takutnya bisa memecah bangsa kita. Diperlukan satu pengakuan tentang Hukum Indonesia, yang sesuai dengan Ideologi Pancasila. Untuk antisipasi pemasukan dogma-dogma agama. Menurut saya, ketika dogma-dogma agama tertentu masuk ke jajaran hukum dan ada upaya ‘konversi’ umat disana. Takutnya ini akan menjadi semacam bom waktu yang bisa meledak pada waktu tertentu. Tentu kita ingat, runtuhnya kejayaan Kerajaan Majapahit? Yes! Saya harap sejarah tidak berulang.. Jangan mengulangi kesalahan yang sama!

Bung Karno pernah mengatakan “Bangunlah suatu dunia dimana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan”. Saya mengartikannya dengan, Nasionalisme kita bukan sekedar nasionalis sempit, tapi nasionalisme yang tetap dalam kerangka besar Internasionalisme. Yes! Ketertiban dunia! Kita menjaga hubungan baik negara-negara luar dengan siapapun. Tapi kita tidak mau dijajah dan dibodohi! Kita tentu tidak mau menjadi budak di rumah sendiri, di negeri sendiri, di Indonesia. Bung Karno juga mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” Yap! Beliau benar sekali, kita menghadapi maling di dalam rumah kita sendiri.

Sayangnya Pemerintah Indonesia sekarang, seperti acuh tak acuh untuk hal-hal semacam ini. Beliau terlalu sering ‘prihatin’ dan cenderung bermain ‘aman’. Ini memang gaya politik bapak yang satu ini. Terlalu menimbang-nimbang, Plin-Plan, terlalu ragu-ragu untuk ketegasan seperti ini. Ah, apa yang ditunggu? Tegakkan keadilan! Junjung tinggi kebersamaan beragama! Amalkan Pancasila! Saya berharap, setelah ini muncul sosok presiden yang mengerti bahwa sebenarnya Indonesia di takdirkan menjadi negara pluralis. Hehe.. Yes! Im Gusdurian.. Beliau memang sudah mati, tetapi semangat pluralisme takkan pernah mati. Inilah tugas pemuda Indonesia. Kami datang untuk menentang, mendobrak tembok kekar. Membela yang terdiskriminasi, menegakkan Pancasila, untuk sesuatu hal yang dinamakan kedamaian keberagaman. Semangat Nasionalisme dalam Keberagaman.