Saturday, January 28, 2012

Kembalikan hijau! Hijaukan!

How green are u? 
Mungkin itu kalimat Intro dari postingan saya kali ini. Begini, ditengah isu carut-marut bangsa kita, korupsi, diskriminasi, konflik agama, kriminalitas dan atau apapun lagi isu-isu di sekitar kita, mari kita menengok ke arah pohon-pohon di pinggiran jalan, rumput yang bergoyang dengan romansa irama kota beserta kebusukannya. Pohon yang malang, pohonku sayang..

Coba renungkan, bagaimana rintihan pohon-pohon atau tanaman lainnya yang diberanguskan akibat dari ‘pemaksaan’ oleh manusia, akibat konversi lahan besar-besaran oleh penguasa modal dalam rangka perluasan ‘lahan usaha’ untuk meningkatkan perolehan pundi-pundi rupiahnya untuk dinikmati keluarganya dan tragisnya terkadang menjadi sebuah persembahan untuk pihak asing. Damn! Kita dari kecil sudah diajarkan ‘menyembah’ uang, berpikir kapitalis dengan mengorbankan lingkungan. “Babatlah hutan! Dan kau akan kaya!”


Sejatinya, tumbuhan juga seorang makhluk hidup yang diciptakan oleh tuhan dalam fungsinya sebagai penyeimbang kehidupan. Dan kita sebagai manusia, yang diberi kelebihan kemampuan berupa pikiran. Tentunya kita sebagai manusia yang bertugas untuk pengelolaan kelangsungan hidup tumbuhan-tumbuhan itu atau alam dalam konteks lebih besar. Ini bukan tidak penting, dan akhirnya menjadi sangat penting, ketika kita sebagai manusia tidak menghargai saudara kita. Dalam konsep “Tat Twam Asi”, yaitu Aku adalah Kamu. Dalam pengertian saya, kita sebagai makhluk ciptaan tuhan adalah sama, dalam artian kesimpulannya, kita bersaudara dengan tumbuhan dan atau lingkungan. Apapun yang kita lakukan kepada tumbuhan, ‘dia’ pun akan melakukan yang sama kepada kita.  Sama-sama sebagai ciptaan tuhan yang mempunyai tugas untuk ‘mewarnai’ dunia. Begitu mungkin ya, anda pikir ini aneh?

Dan percayalah, apapun yang kita lakukan terhadap alam, alam pun merekam dan melakukan ‘pembalasan’ kepada kita. Sudah jelas, bencana alam yang terjadi trakhir ini merupakan ‘teguran’ oleh alam. Alam merasa ‘terkhianati’ dan kita sebagai manusia belum sadarkah?