Sunday, December 11, 2011

Frequently Asked Question By My Self



Siapa kamu?
Well, nama saya Made Bhela Sanji Buana. Lahir dengan sehat selamat sentosa di sebuah kota kecil di Bali bernama Negara (Really! It’s called Negara) pada tanggal 2 Juli 1991. Lahir dari seorang rahim ibu bernama Ni Putu Estiasih dan ayah saya bernama Wayan Sumpang.

Terus kamu mau apa?
Udah gila ya kamu? Ini kan lagi wawancara.. –“
*ooh

Kenapa pilih kuliah di UGM?
Karena UGM adalah Indonesia. Ya, karena UGM itu keren. UGM itu kumpulan orang-orang hebat. Kita semua ini adalah orang-orang yang terbaik dari yang terbaik. Saya ingin ‘berproses’ disini. UGM bisa dibilang sebagai proyeksi wajah masa depan Indonesia, dan suatu saat kita menentukan ‘mau dibawa kemana Indonesia kita?’. Beribu-ribu orang lulus SMA, ingin masuk di kampus yang ‘katanya’ kerakyatan (Ga tau sekarang masih kerakyatan tidak?). Inilah Kampus Biru. Saya berharap kampus ini bisa menjadi langkah awal saya untuk bisa menjadi orang yang lebih baik. Berguna bagi nusa dan bangsa.

Kamu kuliah jurusan apa?
Saya kuliah di Fakultas Teknik UGM, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK). Ilmu yang mempelajari tentang pengelolaan wilayah dan kota secara komprehensif dari multidisiplin ilmu untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Better space, better living.

Anak teknik ya, kenapa terjun ke politik kampus?
Well, seperti yang dikatakan salah satu dosen saya, Prof. Bakti Setiawan, Perencanaan kota bukanlah kegiatan teknokratik dan teknis semata, yang bebas nilai dan kepentingan. Perencanaan kota merupakan proses yang sarat dengan benturan, konflik, negosiasi, dan mungkin konsesi antar berbagai aktor dalam kota. Nah, disini bukan cuma bicara masalah teknokratik, diperlukan adanya pengetahuan tentang politik. Berkaitan dengan pemenuhan kepentingan-kepentingan stakeholder. Point-point demokrasi menjadi penting disini. Mungkin ini salah satu alasan saya untuk belajar berdemokrasi dan terjun dalam politik kampus dalam kaitan pembelajaran politik yang bersih, sehat dan cerdas.

Kenapa anda mau jadi Dewan Perwakilan Mahasiswa? Dan kenapa saya harus memilih anda?
Begini ya dik, selama 2 tahun kuliah di UGM sejak 2009, saya melihat terjadi ke’monoton’an dalam organisasi kampus, baik itu lingkup jurusan, fakultas ataupun universitas. Yang seharusnya bisa mengakomodasi seluruh aspirasi mahasiswa, memberi ruang pada mahasiswa untuk berpendapat dan berekspresi. Saya melihat terjadi ‘eksklusivitas’ disini, tidak adanya hubungan yang sinergis antara badan eksekutif dengan mahasiswa dan tidak bisa mengayomi mahasiswa, mengakibatkan mahasiswa menjadi acuh tak acuh dengan kegiatan itu sendiri. ‘Mereka’ asik berorganisasi dengan cara sendiri dan ini berlangsung setiap tahun, seperti ada pola yang setiap tahunnya ya seperti itu, dan menyebabkan organisasi kurang dinamis. Entah, mungkin ‘mereka’ kurang pergaulan atau bagaimana, terjadi semacam pengelompokan satu jenis ideologi disini. Sempat saya singgung dalam tulisan saya sebelumnya Karena kita Indonesia, Karena kita UGM!
Kepemimpinan ‘mereka’ menyebabkan mahasiswa menjadi apatis, tidak peduli. Dan ini terindikasi dari menurunnya jumlah pemilih PEMIRA tiap tahunnya. Ini justru mengamankan posisi ‘mereka’, karena sudah memiliki pemilih tetap dan solid. Walau badai menghadang, merapi meletus atau bagaimanapun si pemilih tetap dan solid sudah barang pasti memilih temen ‘sejenisnya’ lagi. Saya tidak tau ini merupakan salah satu bentuk regenerasi yang baik atau malah pembodohan. Haha.. Dan akibatnya jenis orang-orang itu terpilih lagi di tahun berikutnya. Terus seperti itu, hebat kan? Sampai kapan? Anda memperlakukan kami seperti kambing conge?

Oleh karena semua itu mengganggu tidur saya hampir setiap malam, saya putuskan untuk mencalonkan diri menjadi Dewan Perwakilan Mahasiswa, karena saya ingin mengoptimalisasi kinerja DPM UGM sebagai pelaksana Legislatif yang responsif dan proaktif mengakomodasi aspirasi mahasiswa UGM, memperjuangkan kebijakan-kebijakan yang pro-mahasiswa UGM, menjunjung tinggi nilai – nilai plural kaitannya dengan UGM sebagai kampus majemuk, karena kita memang berbeda, tak usah disama-samakan. Kita Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, Unity in Diversity.
Selain itu, saya akan memperjuangkan kembali UGM menjadi kampus yang ”merakyat”, pengabdian terhadap masyarakat dan menggairahkan semangat temen-temen mahasiwa dalam berkreasi, akan menggiatkan kegiatan-kegiatan yang lebih memacu kreatifitas mahasiswa.

Kenapa Partai Kampus Biru?
Partai kampus biru, bukan sekedar partai. Ini adalah kumpulan orang-orang tampan dan cantik yang kritis dan cerdas. Dan karena saya tergolong orang tampan (dan sedihnya yang mengatakannya cuma saya sendiri), secara otomatis bergabung dalam Partai Kampus Biru yang namanya diambil dari Novel “Cintaku di Kampus Biru” karya Ashadi Siregar.

Ini partai unik menurut saya, semua jenis mahasiswa UGM ada disini. Selain dengan dari Fakultas yang bermacam-macam, hampis mencakup seluruh Fakultas di UGM, hobi juga berbeda, berlatar belakang budaya, bahasa, agama yang sudah jelas berbeda. Ya! Inilah UGM. Partai Kampus Biru adalah refleksi UGM. Dan UGM itu adalah Indonesia.. JAYA!

Hmm..terakhir. Coba sebutkan 3 kata?
PLURALIS, PROAKTIF dan KREATIF !