Monday, October 10, 2011

Tersesat di jalan yang benar!

“...dan saya berusaha menulis kembali”


 


Om Swastyastu.....


 


*FLASHBACK*


 


Tersesat di jalan yang benar!


Ya! Begitulah kira2 di antara saya dengan PWK UGM (Perencanaan Wilayah dan Kota UGM). Saya diterima di Fakultas Teknik UGM Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota melalui jalur PBS angkatan 2009. Saya tentunya bangga bisa diterima di Kampus Kerakyatan yang 'katanya' kampus impian semua orang. Sebenarnya saya tidak begitu tahu tentang substansi perkuliahan yang akan saya tempuh di PWK. Sebagai putra daerah, Ilmu Tata Kota a.K.a Planologi alias PWK itu sangat awam di telinga. Di daerah saya kecenderungan lulusan SMA memilih untuk memutuskan kuliah di Jurusan sejuta umat, yaitu Ekonomi, Akuntansi, Komputer, Teknik Sipil, Hukum dan Kedokteran! Ya untuk yang satu ini memang menjadi primadona di daerah saya. Salah satu kebahagian orang tua adalah anaknya diterima di Fakultas Kedokteran *mungkin*. Mereka berani merogoh kantong sedalam-dalamnya agar anaknya bisa kuliah di FK. Pun orang tua saya, mereka rela berkorban apapun demi saya bisa kuliah di FK *mungkin juga yah* 


 


Sampai kelas 3 SMA menjelang Ujian Akhir Nasional, saya sebenarnya masih berambisi pada Fakultas Kedokteran UNUD. Orang tua, keluarga dan lingkungan saya seakan 'mendoktrin' saya semenjak saya duduk di bangku SD, agar ketika lulus SMA bisa kuliah di FK. Dan saya sangat berambisi pada waktu itu! Yeahh..Dokter, Saya ingin jadi dokter, cita-cita klasik tiap orang mungkin yahh..


Dokter dengan menggunakan jas putih dan membawa stetoskop dan sekali-kalinya memberi resep obat langsung dibayar dengan mahal. Wow,hebat! Dokter cepet kaya! (baca: pikiran saya pada waktu itu)


Saya mengikuti Kursus Kimia, Fisika, Matematika dan belajar Biologi setekun-tekunnya,   semata-mata untuk mendapatkan nilai bagus di Raport dan memuluskan seleksi PMDK saya untuk mendapatkan FK! 


 


Nah sampai suatu ketika saya ‘galau’ (istilah ini belum nge-trend pada waktu itu), bingung menentukan pilihan untuk kuliah dimana? Jurusan apa? Selain FK tentunya, sebagai alternatif jikalau saya tidak lolos seleksi PMDK untuk FK UNUD.


 


Internet! Google! Yaa inilah sebagai sarana pemecah ke’galau’an saya.


Jogja, UGM, biaya hidup murah, merantau, mandiri....saya tiba-tiba ingin kuliah di luar Bali. Saya ingin merantau, mencari pengalaman, menemukan teman-teman baru, kisah baru, pemikiran baru dan mungkin cewe baru.. 


 


Perencanaan Wilayah dan Kota, saya menemukan Jurusan ini. Ini sangat terdengar asing di telinga saya (eh di mata saya deh, kan baca J), pokoknya asing banget.


Penasaran, terus saya telusuri lagi all about tentang PWK dan bingung..


Ini sebenarnya ilmu mempelajari tentang apa?  Saya banyak ikut forum2 dunia maya untuk memecah rasa penasaran saya dengan Ilmu yang sangat “aneh” ini. Sulit memang mendefinisikan dengan jelas apa itu PWK...


Yaaa..lumayan mendapat pencerahan namun sebenarnya masih bingung. Lulus ini mau ngapain? Hebat banget buat rencana kota, jadi bisa semena-mena sesuka hati menentukan lokasi sekolah, rumah sakit, pasar dan sebagainya. Wow..hebat banget ini jurusan kalo bener2 kaya gitu.


Penasaran, rasa ini sangat menghantui saya. Jadi seakan-akan jika saya tidak bisa memecah rasa penasaran ini, saya akan berdosa, saya akan menyesal. Dengan melakukan negosiasi dengan orang tua dan pertimbangan yang matang saya putuskan untuk “nyoba” ikut tes UGM. Ini baru sekadar iseng-iseng berhadiah.


Dan saya terbang ke Jogja mengikuti serangkaian tes UGM, ini kali kedua setelah 2 bulan  sebelumnya saya melakukan study tour dengan temen2 di SMA. Woww..Jogja. I like this situation. Ramah, dan terasa banget hawa intelektualnya. Melihat beberapa mahasiswa hiruk pikuk lalu lalang, mungkin ada yang lagi telat ujian, tugas belum ngumpul, dosen nyebelin ato apalah, sekelumit kisah mahasiswa biasanya. Saya berpikir “Ini hebat cuy, suatu saat saya akan seperti itu”


Saya jatuh cinta dengan Jogja, dan memang merasakan suatu getaran bahwa saya memang harus “berperang” di kota ini. Ini  memang yang saya rasakan, seakan saya memang harus ditakdirkan untuk “berproses” di Kota ini. Tuntutlah ilmu sampai negeri Jogja! Yeahh..


*Dan cerita di forward langsung menuju ketika saya diterima di UGM.


Bangga, haru, tangis, tawa...Ini berita baik! Ini adalah episode awal dari perjalanan hidup seorang putra daerah untuk menaklukan dunia. Ini titik nol dari perjuangan pencapaian masa depan yang lebih baik dari seorang saya. Great! Saya diterima di UGM setelah menyisihkan ratusan ribu dan mungkin jutaan peserta seleksi dari berbagai penjuru wilayah, baik di Indonesia maupun di luar.


*Di forward lagi sampe di PWK UGM


Nah inilah kampus saya selama kurang lebih 4 tahun..astungkara (baca:amin) menggali ilmu dan mendapatkan suatu pemikiran tentang apakah sebenarnya PWK itu?  Diawal-awal perkuliahan mungkin saya atau pun temen2 yang lain memang sangat dibingungkan dengan substansi perkuliahan yang terdapat di PWK. Kenapa anak IPA/anak teknik belajar pengantar ekonomi? Linkungan dan sumberdaya alam? Asas Kota dan Wilayah? Trus apa kabar Fisika yang menjadi ciri khas seorang teknik. Kimia?? Kalkulus dimana?


 


Yak. Memang kita adalah anak teknik yang bersosial, maksudnya kita lebih tanggap oleh isu2 sosial dan lingkungan dibanding dengan temen2 di prodi yang lain di teknik. Banyak yang menyebutnya “Social Engineer”. Seorang perencana kota memang dituntut bisa bekerja merekayasa sesuatu menjadi suatu hal yang lebih berguna dan berpikir secara sistematis, cerdas dan cepat, inilah ciri khas dari ilmu teknik itu sendiri. Mungkin itu salah satu alasan kenapa PWK include dalam Fakultas Teknik tercinta. Teknik Jaya!!!


Dan saya menaruh harapan besar pada ilmu yang sedang saya tekuni sekarang ini. Tentu saya ingin menjadi salah satu ‘orang besar’ dari ilmu ini. PWK UGM adalah batu loncatan pertama dan menjadi episode pertama dalam petualangan saya menjadi lebih baik dan berguna bagi nusa dan bangsa. Untuk adik2 Mahasiswa Baru PWK 2011, saya ucapkan selamat datang dan Selamat! Anda tersesat di jalan yang benar 


 


 om shanti shanti shanti om