Friday, September 30, 2011

Hitam Putih Harmoni : Filosofi "Saput Poleng"

Sebelumnya saya ingin mengutarakan bahwa dengan bangga saya menjadikan Motif ‘Kain Poleng’ ini menjadi background dari blog saya, selain karena saya memang berasal dari Bali, namun lain daripada itu saya sangat mengagumi filosofi Hitam-putih, yaitu sederhananya bahwa sebenarnya kehidupan kita di dunia merupakan hasil kolaborasi dari 2 hal yang bertolak belakang yang sebenarnya adalah hal yang sangat indah, mereka membentuk 1 harmoni kehidupan dan bukan tabu yang ‘mereka’ benci. Saya dan kita sepakat menyebutnya “Hitam Putih Harmoni”

Saput Poleng
Masyarakat Bali dan orang yang sering ke Bali mungkin sudah sangat akrab dengan kain bercorak kotak-kotak persegi dengan warna hitam-putih seperti papan catur yang satu ini. Kain bercorak seperti ini biasanya dipakai masyarakat Bali sebagai busana dalam upacara adat. Juga biasa ditemui di pura-pura, patung-patung dan pohon-pohon. Ini menjadi salah satu ke’khas’an Bali yang menjadi daya tarik wisatawan. Menjadikan semacam ‘reminder’ wisatawan, jadi ketika para wisatawan balik ke tempat tinggalnya masing-masing, mereka akan mengingat Bali dengan Kain Hitam Putih tersebut.




Pecalang (petugas keamanan adat) mengenakan Saput Poleng


Orang Bali menyebutnya Saput Poleng, dalam bahasa Bali, Saput = Kain dan Poleng = Belang-belang. Kain Belang yang dimaksud sudah jelas adalah belang yang bercorak Hitam-putih papan catur. Ini sangat unik, banyak wisatawan suka dan berminat untuk membelinya dan sering menanyakan tentang filosofi dibalik Hitam-putih itu. Sebaliknya tidak sedikit juga oknum-oknum ber-otak sempit malah menghubung-ubungkan Motif Hitam-putih Kain poleng ini dengan freemason. Dan mereka menganggap Bali itu freemason. Konyol! Sempit!

Saput poleng memang erat kaitannya dengan kehidupan tradisi Hindu di Bali. Kain poleng dipakai dalam kegiatan religius dan sakral.  Di sudut-sudut Pura sering dijumpai Kain poleng sebagai penghias patung-patung, umbul-umbul, pelinggih dan dalam kehidupan berkesenian di Bali, Kain poleng juga sering dipakai dalam kegiatan dramatari, maupun pedalangan.


Filosofi Saput poleng memang sangat menarik. Merupakan refleksi dari kehidupan kita yaitu, dalam Hindu dikenal dengan istilah RwaBhineda adalah dua sifat yang bertolak belakang, yakni hitam-putih, baik-buruk, atas-bawah, suka-duka dan sebagainya. Sadar atau tidak sadar kita memang hidup dalam 2 sifat/keadaan yang diciptakan oleh tuhan dengan perbedaan yang berdampingan.

Saput poleng pada pelinggih

Sesuatu hal tidak bisa kita katakan baik, sebelum kita bisa melihat keadaan yang buruk, jadi maksudnya buruk adalah sebenarnya bagian dari baik, kesalahan adalah bagian dari kebenaran, duka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari suka. Segala sesuatu, hitam-putih, baik-buruk, suka-duka adalah suatu kesatuan yang harmonis dan membentuk sesuatu yang kita namakan “indah”.

Dan memang dalam kehidupan kita, sebenarnya perbedaan menjadi suatu modal dalam upaya membentuk kehidupan yang lebih baik, saling mengisi satu antar yang lain, mungkin tidak berlebihan jika kita memasukan sebuah perbedaan adalah anugrah terindah yang diciptakan oleh tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dengan perbedaan, dan itu memang tidak seharusnya dihindari. Aku hitam - kamu putih, mari kita membentuk harmoni. Hitam Putih Harmoni..

Sumber foto : Google dengan keyword "Saput Poleng"

Monday, September 5, 2011

Asiknya merencanakan Tata Ruang! (Part 1)

Perlukah merencanakan tata ruang?

Mungkin pertanyaan semacam itu sering terlintas di sebagian besar benak masyarakat Indonesia yang pada umumnya masih awam dengan Tata Ruang. Sebagian besar masyarakat masih menganggap Rencana Tata Ruang hanya bersifat Formalitas semata, karena menurut mereka Rencana Tata Ruang adalah sebuah produk yang dalam pengimplentasiannya di lapangan bisa dibilang nihil alias NOL besar. Sebagian masyarakat juga menganggap Penataan Ruang bisa menghambat Perkembangan Kota atau paradigma yang lebih ekstrim yang terjadi di masyarakat adalah seorang Planner (Perencana Kota) dikatakan sebagai seorang yang sok meramal masa depan. Mereka menganggap Kota itu tidak perlu direncanakan, biarkan Kota berkembang dengan sendirinya. Jadi gini, meraka beranggapan "bagaimana Kota bisa maju, kalau dalam perkembangannya dibatasi oleh KDB, KLB, KDH, Amdal dan sebagainya".

Coba saja kita renungkan, Kemacetan, Banjir, Kawasan kumuh, Polusi Udara, Sampah, Penurunan tanah, Ketidakmerataan perkembangan Kota, Pengangguran, Premanisme, Kriminalisme, Tunawisma, Degradasi lingkungan atau banyak lagi masalah-masalah umum perkotaan, semua itu disebabkan oleh apa?

Hmmm..yak benar. Penataan Ruang yang semrawutlah sebagai penyebab mutlak dari masalah Perkotaan tersebut. Sebuah Rencana Tata Ruang yang produknya berupa RTRW, RDTRK, RTR kawasan strategis maupun RTBL sangat diperlukan dalam perkembangan Kota. Dalam penyusunan Rencana Tata Ruang melibatkan beberapa ahli, bukan cuma dari Bidang Perencanaan Wilayah dan Kota(PWK), namun ahli geodesi, lingkungan, geografi, hidrologi dan ahli-ahli lainnya. Mereka bekerja secara teamwork untuk merencanakan Kota Ideal untuk menciptakan kesejahteraan sosial. Tentu dengan sebuah penelitian akedemis, analisis permasalahan hingga penyelesaian masalah.

Sebagai mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota yang notabene sebagai calon Perencana Tata Ruang di masa depan menganggap ini adalah sebuah tantangan yang menarik. Kami sebagai Planner selain bisa merencanakan ruang secara optimal, juga dituntut untuk bisa menjadi "problem solver" bagi masyarakat. Bagaimana seorang planner bisa menjadi penengah diantara pemangku jabatan dengan segala bentuk perencanaan yang berorientasi politik dengan warga masyarakat yang seharusnya mendapatkan pelayanan dalam rangka pemenuhan kesejahteraan mereka.

...to be continue! *loading*