Sunday, December 18, 2011

Tentukan Pilihanmu, bergegaslah ke TPS terdekat!

"Bad Leaders are elected by good citizens who do not vote"
Made Bhela Sanji Buana
Calon DPM No.1 Partai Kampus Biru

Pilihanmu adalah masa depan UGM..
1 suara sangat menentukan perubahan UGM..
Almamater yang telah menjadi cinta abadi di benak kita..
Takkan terlupa, takkan terganti...

Karena cinta, kami ada. 
Untuk negeri, mengabdi tiada henti.
Untuk kampus, kontribusi tanpa putus. 
Di hatiku, ada UGM. Cintaku di Kampus Biru ;)

Testimonial MadeBhela untuk DPM UGM



Yang terhormat para Badan Pengawas Pemilihan Raya Mahasiswa (BANWASRA) yang lagi bertugas. Iya saya tau masa kampanye memang sudah berakhir. Pada postingan kali ini saya cuma merangkum beberapa testimoni via twitter tentang saya, dengan mention @madebhela. Tidak bermaksud untuk melanggar prosedur yang sudah ditetapkan. Terimakasih sebelumnya, semoga terwujud PEMIRA yang jujur dan adil. Selamat berpesta demokrasi ;)





arditamasandy Erisandi Arditama 
Vote @madebhela, sosok multitalenta yg pluralis, berkarakter proaktif, dan berimaji kreatif :)

SenaEka sena hanafi 
Selamat berjuang buat sdr. @madebhela ,buktikan bahwa UGM adalah kampus plural,bukan singular,cemungudh eap kakak :D

kampusbiru Twit Kampus Biru UGM 
#FF @madebhela | salah satu calon DPM yg pluralis dan kreatif!!

mzaenuddin Muza 
#FollowFriday : @madebhela Calon DPM UGM No.urut 1 dari Fakultas Teknik UGM #KampusBiru. Pluralis, Proaktif, Kreatif!

ngurahsaka NGURAH SAKA 
Temen2 FEB UGM, mohon dukung saudara saya @madebhela untuk DPM UGM , no.1 dari partai kampus biru... Jangan lupa ya :)

indraryawan Indra Aryawan 
Pluralisme berdasarkan pancasila, itulah seharusnya UGM. Pilih DPM unv. Coblos no.1 @madebhela!

indraryawan Indra Aryawan 
Proaktif turun ke ranah bawah mahasiswa @madebhela. Nanti diajakin ngband loh m/(˘-˘)m/. No urut 1. Calon DPM unv. Serius!

kakakdika Andika Budiningtyas 
Pilih DPM Partai Kampus Biru No. Urut 1 @madebhela Pluralis, proaktif, kreatif. #MadeForDPM

kenan_ardito Kenan Ardito 
@madebhela seorang musikus hebat, saudara, temen debat dan sahabat.. Sy trmsk org yg paham dgn pikirannya.. Tegas dan Brilliant #MadeForDPM

kenan_ardito Kenan Ardito 
@madebhela sosok seorang DPM ada di dia, amanat tersebut berhak d panggulkan ke pundaknya.. merubah paradigma UGM menjadi indah #MadeForDPM


vianAntariksa Unknown 
@madebhela orgny asik,kreatif,proaktif, dan menjunjung tinggi pluralistik,jgn ragu utk milih Made No.1 utk DPM dri Kampus Biru #madeforDPM

kampusbiru Twit Kampus Biru UGM 
#FF bli @madebhela - calon DPM dari @kampusbiru, orangnya ganteng, asli dr Bali, mahasiswa Perencanaan Wilayah & Kota, Fakultas Teknik UGM..

kampusbiru Twit Kampus Biru UGM 
#FF [Ca-DPM KM UGM] @madebhela - makanya, PEMIRA UGM tanggal 20-22 Desember besok, pilih dia untuk DPM yg lebih berwarna!! ;)

dwihatmodjo Bagus Dwihatmodjo 
#FF @madebhela , dia asik, ngerti musik, kuliah juga rajin, calon anggota DPM UGM. Kalo ganteng sih masih gantengan saya kemana-mana,


Sunday, December 11, 2011

Frequently Asked Question By My Self



Siapa kamu?
Well, nama saya Made Bhela Sanji Buana. Lahir dengan sehat selamat sentosa di sebuah kota kecil di Bali bernama Negara (Really! It’s called Negara) pada tanggal 2 Juli 1991. Lahir dari seorang rahim ibu bernama Ni Putu Estiasih dan ayah saya bernama Wayan Sumpang.

Terus kamu mau apa?
Udah gila ya kamu? Ini kan lagi wawancara.. –“
*ooh

Kenapa pilih kuliah di UGM?
Karena UGM adalah Indonesia. Ya, karena UGM itu keren. UGM itu kumpulan orang-orang hebat. Kita semua ini adalah orang-orang yang terbaik dari yang terbaik. Saya ingin ‘berproses’ disini. UGM bisa dibilang sebagai proyeksi wajah masa depan Indonesia, dan suatu saat kita menentukan ‘mau dibawa kemana Indonesia kita?’. Beribu-ribu orang lulus SMA, ingin masuk di kampus yang ‘katanya’ kerakyatan (Ga tau sekarang masih kerakyatan tidak?). Inilah Kampus Biru. Saya berharap kampus ini bisa menjadi langkah awal saya untuk bisa menjadi orang yang lebih baik. Berguna bagi nusa dan bangsa.

Kamu kuliah jurusan apa?
Saya kuliah di Fakultas Teknik UGM, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK). Ilmu yang mempelajari tentang pengelolaan wilayah dan kota secara komprehensif dari multidisiplin ilmu untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Better space, better living.

Anak teknik ya, kenapa terjun ke politik kampus?
Well, seperti yang dikatakan salah satu dosen saya, Prof. Bakti Setiawan, Perencanaan kota bukanlah kegiatan teknokratik dan teknis semata, yang bebas nilai dan kepentingan. Perencanaan kota merupakan proses yang sarat dengan benturan, konflik, negosiasi, dan mungkin konsesi antar berbagai aktor dalam kota. Nah, disini bukan cuma bicara masalah teknokratik, diperlukan adanya pengetahuan tentang politik. Berkaitan dengan pemenuhan kepentingan-kepentingan stakeholder. Point-point demokrasi menjadi penting disini. Mungkin ini salah satu alasan saya untuk belajar berdemokrasi dan terjun dalam politik kampus dalam kaitan pembelajaran politik yang bersih, sehat dan cerdas.

Kenapa anda mau jadi Dewan Perwakilan Mahasiswa? Dan kenapa saya harus memilih anda?
Begini ya dik, selama 2 tahun kuliah di UGM sejak 2009, saya melihat terjadi ke’monoton’an dalam organisasi kampus, baik itu lingkup jurusan, fakultas ataupun universitas. Yang seharusnya bisa mengakomodasi seluruh aspirasi mahasiswa, memberi ruang pada mahasiswa untuk berpendapat dan berekspresi. Saya melihat terjadi ‘eksklusivitas’ disini, tidak adanya hubungan yang sinergis antara badan eksekutif dengan mahasiswa dan tidak bisa mengayomi mahasiswa, mengakibatkan mahasiswa menjadi acuh tak acuh dengan kegiatan itu sendiri. ‘Mereka’ asik berorganisasi dengan cara sendiri dan ini berlangsung setiap tahun, seperti ada pola yang setiap tahunnya ya seperti itu, dan menyebabkan organisasi kurang dinamis. Entah, mungkin ‘mereka’ kurang pergaulan atau bagaimana, terjadi semacam pengelompokan satu jenis ideologi disini. Sempat saya singgung dalam tulisan saya sebelumnya Karena kita Indonesia, Karena kita UGM!
Kepemimpinan ‘mereka’ menyebabkan mahasiswa menjadi apatis, tidak peduli. Dan ini terindikasi dari menurunnya jumlah pemilih PEMIRA tiap tahunnya. Ini justru mengamankan posisi ‘mereka’, karena sudah memiliki pemilih tetap dan solid. Walau badai menghadang, merapi meletus atau bagaimanapun si pemilih tetap dan solid sudah barang pasti memilih temen ‘sejenisnya’ lagi. Saya tidak tau ini merupakan salah satu bentuk regenerasi yang baik atau malah pembodohan. Haha.. Dan akibatnya jenis orang-orang itu terpilih lagi di tahun berikutnya. Terus seperti itu, hebat kan? Sampai kapan? Anda memperlakukan kami seperti kambing conge?

Oleh karena semua itu mengganggu tidur saya hampir setiap malam, saya putuskan untuk mencalonkan diri menjadi Dewan Perwakilan Mahasiswa, karena saya ingin mengoptimalisasi kinerja DPM UGM sebagai pelaksana Legislatif yang responsif dan proaktif mengakomodasi aspirasi mahasiswa UGM, memperjuangkan kebijakan-kebijakan yang pro-mahasiswa UGM, menjunjung tinggi nilai – nilai plural kaitannya dengan UGM sebagai kampus majemuk, karena kita memang berbeda, tak usah disama-samakan. Kita Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, Unity in Diversity.
Selain itu, saya akan memperjuangkan kembali UGM menjadi kampus yang ”merakyat”, pengabdian terhadap masyarakat dan menggairahkan semangat temen-temen mahasiwa dalam berkreasi, akan menggiatkan kegiatan-kegiatan yang lebih memacu kreatifitas mahasiswa.

Kenapa Partai Kampus Biru?
Partai kampus biru, bukan sekedar partai. Ini adalah kumpulan orang-orang tampan dan cantik yang kritis dan cerdas. Dan karena saya tergolong orang tampan (dan sedihnya yang mengatakannya cuma saya sendiri), secara otomatis bergabung dalam Partai Kampus Biru yang namanya diambil dari Novel “Cintaku di Kampus Biru” karya Ashadi Siregar.

Ini partai unik menurut saya, semua jenis mahasiswa UGM ada disini. Selain dengan dari Fakultas yang bermacam-macam, hampis mencakup seluruh Fakultas di UGM, hobi juga berbeda, berlatar belakang budaya, bahasa, agama yang sudah jelas berbeda. Ya! Inilah UGM. Partai Kampus Biru adalah refleksi UGM. Dan UGM itu adalah Indonesia.. JAYA!

Hmm..terakhir. Coba sebutkan 3 kata?
PLURALIS, PROAKTIF dan KREATIF !

Thursday, December 8, 2011

Karena kita Indonesia, Karena kita UGM!


Kenapa judul postingan ini judulnya seperti itu? Karena memang kita warga negara INDONESIA dan kita kuliah di UNIVERSITAS GADJAH MADA. Kampus majemuk, kampus bhinneka, kampus plural yang [harusnya] mengajarkan bagaimana menghargai perbedaan. Kita semua berbeda dan tidak perlu ada upaya untuk menyama-nyamakan, karena kita semua menghargai perbedaan, karena berbeda itu indah. Dan coba renungkan sejenak, bagaimana indahnya sebuah perbedaan yang saling mengisi rongga-rongga kekosongan yang terdapat pada masing-masing.


Ini indah, damai, ini semua design dari Tuhan Yang Maha Esa. Pancasila juga menyebutkan pada sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, kita sebagai warga negara Indonesia, yaitu berbeda agama, suku, logat bahasa, perwatakan dan banyak lagi. Bhinneka Tunggal Ika. Betapa hebatnya para founding father kita di masa yang lalu sudah bisa mempersatukan Nusantara dari berbagai macam budaya dan sifat-sifat kedaerahannya. Dan kita terlahir dimasa sekarang, terlahir di atas tanah air tercinta yang kita sebut INDONESIA. Jadi mungkin begini ya. Kita Indonesia! Kita UGM! dan harusnya setelah itu ada Kita berbeda-beda! Dan kita bangga! Dan KITA BISA!!!! *yang ini dengan teriak scream ala penyanyi band metal m/


Itu diatas sebenernya cuma abstraksi otak saya atau rancauan rancu dari sedikit pemikiran 'aneh' saya di sore ini, setelah lelah kampanye hari ke-2, kenalan dengan banyak orang, mendengar keluhan dari temen-temen, mendengar aspirasi mahasiswa UGM dan secara langsung saya bisa mengumpulkan dalam satu kotak harapan untuk perubahan. Harapan untuk mendobrak tembok kekar (mungkin) untuk perubahan yang lebih baik pada kampus kita ini.


Jadi begini, agak sulit ya mengungkapkannya, namun saya akan coba. SAYA BISA!!! *ini juga dengan teriak ala band scream emo.. *ga penting *abaikan *plak *malah jadi kaya twitter gini..


UGM itu merupakan representasi dari INDONESIA dalam konteks ini keberagaman mahasiswanya yang menimba ilmu di UGM. Jadi kita sebagai mahasiswa adalah bisa dikatakan sebagai proyeksi Indonesia di masa depan. Namun, dalam proses pembelajaran organisasi di kampus sering kita menghadapi dilema yaitu ke'homogen'an. Maksud saya begini, suatu organisasi dari ketua sampai jajaran stafnya 'dikuasai' oleh golongan 'itu' saja. Satu jenis!. Tiap tahunnya mereka membuat pola-pola kegiatan untuk mengakomodir kepentingan golongannya saja. Mereka bersenang-senang dengan cara 'mereka' saja. Dan regenerasi yang 'bagus', membuat tahun depannya lagi, ya seperti itu lagi. Orang-orang yang mempunyai 'ideologi' yang sama berkumpul dalam suatu kumpulan dan menganggap orang yang tidak ikut mereka adalah orang yang 'apatis', 'autis' atau tidak peduli. Tragis. Mahasiswa yang 'lain' juga berhak untuk diberi ruang dalam berkreasi dan ingin berpendapat, ingin beraspirasi. Jadi itung-itungan kasarnya kita disini semua belajar menjadi warga negara Indonesia yang baik, menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan teteup harus yang utama berlandaskan Pancasila. PANCASILA.


Sebenarnya, kita semua bukan tidak peduli atau bagaimana, lebih tepatnya mungkin sudah capek. Sudah cepek menebak pola-pola tiap tahunnya yang seperti itu. Kepuasan mahasiswa seharusnya berbanding lurus dengan antusiasm mahasiswa dalam menentukan pilihan pemimpin yang baik (dalam konteks ini, PEMIRA). Namun,  yang terjadi penurunan jumlah pemilih/voters dalam PEMIRA tiap tahunnya. Apa yang salah? Ini UGM bung, kampus orang-orang berpikiran global, kampus yang menjunjung kearifan lokal, kampus yang sekiranya bisa menerapkan konsep demokrasi sejak pembelajaran pada politik kampus.


Oke, saya menulis ini hanya untuk curahan hati saya dan temen-temen mahasiswa yang sudah capek. Ya capek ngetik, mau mandi dulu biar seger.. *apa hubungannya? *abaikan


Mari renungkan bersama, resapi dan coba untuk kritis menganalisis permasalahan seperti ini. Sebelum kita menyelesaikan permasalahan bangsa. Dimulai dari yang paling kecil. Yuk..! :)


Hidup MAHASISWA GADJAH MADA!
Cintaku mengabdi negeri...
Cintaku di kampus biru..
Untuk hiduplah Indonesia Raya..




Sunday, December 4, 2011

Belajar Berdemokrasi di Kampus Biru, Universitas Gadjah Mada


Sebentar lagi civitas akademika Universitas Gadjah Mada merayakan perhelatan akbar pesta demokrasi Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) UGM, yaitu merupakan Pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) 2012, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dalam lingkup Universitas. Suatu proses pembelajaran demokrasi untuk memilih pemimpin mahasiswa dan legislatif secara langsung dari seluruh civitas akademika UGM.

Ini merupakan salah satu agenda tahunan dalam proses pembelajaran demokrasi kita sebagai mahasiswa sebelum terjun langsung dalam dunia politik yang sebenarnya. Saya pikir ini sangat menarik, ini merupakan “simulasi”nya PEMILU/PILKADA. Tidak berlebihan dianalogikan Presma sebagai Presiden RI, atau DPM adalah DPR RI.

Rentetan acaranyapun dibuat sedemikian rupa, sehingga memang seperti PEMILU pada sebenarnya. Ada debat capres, penyampaian visi-misi, aksi kampanye yang tak kalah menarik, bahkan kita sebagai mahasiswa lebih kreatif dalam aksi-aksi kampanye untuk menarik massa, meyakinkan pemilih dan lain sebagainya. Kita belajar politik sehat, bersih dan kreatif disini. Di sudut-sudut kampus terpajang foto-foto para calon presiden ataupun caleg (DPM) lengkap dengan logo partai, visi misi, jargon-jargon politik, quote-quote yang bisa menarik perhatian, baik itu akhirnya ada timbul kesan elegan, rapi, nyeleneh, norak, alay, narsis atau malu-maluin banget. Ya sah-sah saja, menurut kita, berbicara soal demokrasi adalah tentang kebebasan berekspresi, berpendapat dan memilih.

Kampus UGM, sebagai kampus yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa dari berbagai penjuru indonesia, mungkin dunia dengan berbagai latar belakang, agama, suku, budaya dan sebagainya adalah kumpulan orang-orang pilihan yang tentu saja hebat. Kita ini orang hebat berada di dalam lingkungan yang hebat, bersaing dengan orang-orang hebat, dengan dosen-dosen yang hebat. Ini sebuah kesempatan emas untuk kita untuk bisa menjadi orang yang ‘lebih’ hebat. Apa tidak merasa sayang dan percuma, ketika kita bisa kuliah di UGM, kampus hebat, namun hanya mengejar suatu yang dinamakan Indeks Prestasi (IP). Saya bukan orang yang sok tidak peduli IP. Ya! Saya setuju IP memang penting. Ya, itu salah satunya yang membuat orang tua kita menangis haru pada saat wisuda dengan ketika dipanggil nama kita dan berpredikat “Cum Laude”. Siapa yang tidak bangga dengan anaknya yang “Cum Laude” di Universitas yang hebat ini? Itu manusiawi sih. Saya juga pengen. Hee..

Kuliah di UGM bisa dikatakan sebagai representasi dari Indonesia, tanah air kita tercinta. Kita berkumpul disini dari berbagai daerah dengan ciri khas perwatakan, budaya dan logat bahasa yang berbeda, bhinneka, beragam. UGM bisa mempertemukan orang aceh dengan orang papua yang secara geografis jarak kedua daerah ini sangat jauh. UGM adalah Indonesia. Sebelum terjun dalam kehidupan sebenarnya, yaitu Indonesia, ataupun Dunia dalam lingkup global, karena kita hidup pada zaman globalisasi, kita belajar dulu berdemokrasi dalam lingkup kampus dulu. Sebelum menaklukkan dunia, taklukkanlah UGM. Kita bisa belajar berdemokrasi disini, kita belajar berpolitik disini. Tentu saja berpolitik yang sehat.

Tentu kita sering mendengar carut marut dunia perpolitikan kita di Indonesia dari media. Bagaimana praktek-praktek korupsi dari elite-elite partai dan sebagainya, penyelewengan kekuasaan, penghianatan mandat dari rakyat, DPR yang seharusnya menjadi wakil rakyat namun bertindak semena-mena ketika duduk di kursi empuk parlemen. Nah sampai kapan seperti ini? Apakah tidak merasa aneh kita hidup di tanah yang “kaya”, namun masih banyak rakyat yang belum sejahtera? Apa yang salah dengan bangsa kita?

Mahasiswa adalah proyeksi masa depan Indonesia, pada pundak kita digantungkan oleh masyarakat secercah harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Universitas adalah pabrik sumber daya manusia (SDM), dari kampus akan dihasilkan orang-orang hebat yang ahli pada bidang ekonomi, sosiologi, politik, hukum, dan teknik. Kita lah para intelektual yang nantinya menjadi fondasi berdirinya suatu bangsa. Suatu saat, kita akan menjadi Presiden dan Legislatif yang bertanggung jawab untuk membenahi dan membawa Indonesia tercinta ini kearah yang lebih baik.

Jadi, tunggu apalagi yuk belajar berdemokrasi di kampus biru, untuk UGM yang jaya dan hiduplah Indonesia Raya. Dan jangan lupa untuk menggunakan hak pilih pada Pemilihan Raya Mahasiswa 20-22 Desember 2011. Bad Leaders are elected by good citizens who do not vote.

Selamat memilih dan selamat berdemokrasi..

HIDUP MAHASISWA INDONESIA!!





                                                                                            Saya ambil judul tulisan saya diatas dari judul tulisan yang dibuat oleh Muhammad Khotim Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIPOL UGM  berjudul Belajar Berdemokrasi di Kampus Biru yang dimuat di Kompas, 8 maret 2011.

Saturday, October 15, 2011

"...bagi insan dunia yang mengagungkan cinta"

Tau kenapa saya memberi judul postingan seperti itu?
Ya! itu penggalan lagu "Cintaku" dari seorang musisi legendaris indonesia Crishye. Saya mencoba me-arrange musiknya kembali dengan nuansa etnik Bali (entah itu berhasil atau tidak, pokoknya nuansa Bali)
Saat itu adalah diselenggarakannya Dharma Shanti UGM dalam rentetan acara Nyepi Kampus saka 1933 di Taman Budaya Jogjakarta, 24 april 2011 lalu yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma UGM. Ini event tahunan, yang menampilkan berbagai kesenian-kesenian tradisional yang sebagian besar adalah kesenian Bali.
Saya ditugaskan oleh Panitia untuk membuat kolaborasi antara musik tradisonal dengan musik modern. Ini memang saya pikir sangat menarik, sering saya menyaksikan kolaborasi musik kontemporer seperti itu dan naluri bermusik saya diuji disini. Saya harus membuat konsep musik sedemikian rupa dan mencari beberapa partner lain yang bisa membantu. Memang kesulitan terbesar adalah si pemain ‘tradisional’ tidak bisa memainkan musik ‘modern’ dan sebaliknya, sehingga sering terjadi ketidak-sinkronan. Kebetulan saya bisa memainkan keduanya. Nah..tugas saya disini menjembatani mereka, antara ‘modern’ dan ‘tradisional’ menuju harmoni musik yang saya inginkan.
Dengan pengalaman saya pernah ikut Pesta Kesenian Bali di sanggar Githa Yowana Jembrana, saya mencoba menjadi ‘arranger’ disini ( big thx for Sanggar Githa Yowana, so many inspirations from u). Membentuk harmoni dari pola-pola midi sederhana yang saya buat di kamar, gitar fals, bass sederhana, dentingan gamelan tradisional Bali yang bergelora ( thx juga untuk para “sekaa gamelan KMHD UGM” atas bantuannya yaa).
Ini sangatlah jauh dengan musik2 kontemporer yang saya sering liat, jauh bangeet. Setidaknya mendekati lah yaa? (maksa sih yak), karena ini pengalaman pertama saya untuk me-arrange musik ‘by my self’.
Persiapan ini semua cuma 5 hari, yaa 5 hari, jadi permaklumannya atas suara vokalis yang terkadang ‘mereng’ (fals) (but thx yaa mbok..U ROCK!), tempo yang kejar-mengejar dan suara gitar yang fals.
Selamat menikmati!

Monday, October 10, 2011

Tersesat di jalan yang benar!

“...dan saya berusaha menulis kembali”


 


Om Swastyastu.....


 


*FLASHBACK*


 


Tersesat di jalan yang benar!


Ya! Begitulah kira2 di antara saya dengan PWK UGM (Perencanaan Wilayah dan Kota UGM). Saya diterima di Fakultas Teknik UGM Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota melalui jalur PBS angkatan 2009. Saya tentunya bangga bisa diterima di Kampus Kerakyatan yang 'katanya' kampus impian semua orang. Sebenarnya saya tidak begitu tahu tentang substansi perkuliahan yang akan saya tempuh di PWK. Sebagai putra daerah, Ilmu Tata Kota a.K.a Planologi alias PWK itu sangat awam di telinga. Di daerah saya kecenderungan lulusan SMA memilih untuk memutuskan kuliah di Jurusan sejuta umat, yaitu Ekonomi, Akuntansi, Komputer, Teknik Sipil, Hukum dan Kedokteran! Ya untuk yang satu ini memang menjadi primadona di daerah saya. Salah satu kebahagian orang tua adalah anaknya diterima di Fakultas Kedokteran *mungkin*. Mereka berani merogoh kantong sedalam-dalamnya agar anaknya bisa kuliah di FK. Pun orang tua saya, mereka rela berkorban apapun demi saya bisa kuliah di FK *mungkin juga yah* 


 


Sampai kelas 3 SMA menjelang Ujian Akhir Nasional, saya sebenarnya masih berambisi pada Fakultas Kedokteran UNUD. Orang tua, keluarga dan lingkungan saya seakan 'mendoktrin' saya semenjak saya duduk di bangku SD, agar ketika lulus SMA bisa kuliah di FK. Dan saya sangat berambisi pada waktu itu! Yeahh..Dokter, Saya ingin jadi dokter, cita-cita klasik tiap orang mungkin yahh..


Dokter dengan menggunakan jas putih dan membawa stetoskop dan sekali-kalinya memberi resep obat langsung dibayar dengan mahal. Wow,hebat! Dokter cepet kaya! (baca: pikiran saya pada waktu itu)


Saya mengikuti Kursus Kimia, Fisika, Matematika dan belajar Biologi setekun-tekunnya,   semata-mata untuk mendapatkan nilai bagus di Raport dan memuluskan seleksi PMDK saya untuk mendapatkan FK! 


 


Nah sampai suatu ketika saya ‘galau’ (istilah ini belum nge-trend pada waktu itu), bingung menentukan pilihan untuk kuliah dimana? Jurusan apa? Selain FK tentunya, sebagai alternatif jikalau saya tidak lolos seleksi PMDK untuk FK UNUD.


 


Internet! Google! Yaa inilah sebagai sarana pemecah ke’galau’an saya.


Jogja, UGM, biaya hidup murah, merantau, mandiri....saya tiba-tiba ingin kuliah di luar Bali. Saya ingin merantau, mencari pengalaman, menemukan teman-teman baru, kisah baru, pemikiran baru dan mungkin cewe baru.. 


 


Perencanaan Wilayah dan Kota, saya menemukan Jurusan ini. Ini sangat terdengar asing di telinga saya (eh di mata saya deh, kan baca J), pokoknya asing banget.


Penasaran, terus saya telusuri lagi all about tentang PWK dan bingung..


Ini sebenarnya ilmu mempelajari tentang apa?  Saya banyak ikut forum2 dunia maya untuk memecah rasa penasaran saya dengan Ilmu yang sangat “aneh” ini. Sulit memang mendefinisikan dengan jelas apa itu PWK...


Yaaa..lumayan mendapat pencerahan namun sebenarnya masih bingung. Lulus ini mau ngapain? Hebat banget buat rencana kota, jadi bisa semena-mena sesuka hati menentukan lokasi sekolah, rumah sakit, pasar dan sebagainya. Wow..hebat banget ini jurusan kalo bener2 kaya gitu.


Penasaran, rasa ini sangat menghantui saya. Jadi seakan-akan jika saya tidak bisa memecah rasa penasaran ini, saya akan berdosa, saya akan menyesal. Dengan melakukan negosiasi dengan orang tua dan pertimbangan yang matang saya putuskan untuk “nyoba” ikut tes UGM. Ini baru sekadar iseng-iseng berhadiah.


Dan saya terbang ke Jogja mengikuti serangkaian tes UGM, ini kali kedua setelah 2 bulan  sebelumnya saya melakukan study tour dengan temen2 di SMA. Woww..Jogja. I like this situation. Ramah, dan terasa banget hawa intelektualnya. Melihat beberapa mahasiswa hiruk pikuk lalu lalang, mungkin ada yang lagi telat ujian, tugas belum ngumpul, dosen nyebelin ato apalah, sekelumit kisah mahasiswa biasanya. Saya berpikir “Ini hebat cuy, suatu saat saya akan seperti itu”


Saya jatuh cinta dengan Jogja, dan memang merasakan suatu getaran bahwa saya memang harus “berperang” di kota ini. Ini  memang yang saya rasakan, seakan saya memang harus ditakdirkan untuk “berproses” di Kota ini. Tuntutlah ilmu sampai negeri Jogja! Yeahh..


*Dan cerita di forward langsung menuju ketika saya diterima di UGM.


Bangga, haru, tangis, tawa...Ini berita baik! Ini adalah episode awal dari perjalanan hidup seorang putra daerah untuk menaklukan dunia. Ini titik nol dari perjuangan pencapaian masa depan yang lebih baik dari seorang saya. Great! Saya diterima di UGM setelah menyisihkan ratusan ribu dan mungkin jutaan peserta seleksi dari berbagai penjuru wilayah, baik di Indonesia maupun di luar.


*Di forward lagi sampe di PWK UGM


Nah inilah kampus saya selama kurang lebih 4 tahun..astungkara (baca:amin) menggali ilmu dan mendapatkan suatu pemikiran tentang apakah sebenarnya PWK itu?  Diawal-awal perkuliahan mungkin saya atau pun temen2 yang lain memang sangat dibingungkan dengan substansi perkuliahan yang terdapat di PWK. Kenapa anak IPA/anak teknik belajar pengantar ekonomi? Linkungan dan sumberdaya alam? Asas Kota dan Wilayah? Trus apa kabar Fisika yang menjadi ciri khas seorang teknik. Kimia?? Kalkulus dimana?


 


Yak. Memang kita adalah anak teknik yang bersosial, maksudnya kita lebih tanggap oleh isu2 sosial dan lingkungan dibanding dengan temen2 di prodi yang lain di teknik. Banyak yang menyebutnya “Social Engineer”. Seorang perencana kota memang dituntut bisa bekerja merekayasa sesuatu menjadi suatu hal yang lebih berguna dan berpikir secara sistematis, cerdas dan cepat, inilah ciri khas dari ilmu teknik itu sendiri. Mungkin itu salah satu alasan kenapa PWK include dalam Fakultas Teknik tercinta. Teknik Jaya!!!


Dan saya menaruh harapan besar pada ilmu yang sedang saya tekuni sekarang ini. Tentu saya ingin menjadi salah satu ‘orang besar’ dari ilmu ini. PWK UGM adalah batu loncatan pertama dan menjadi episode pertama dalam petualangan saya menjadi lebih baik dan berguna bagi nusa dan bangsa. Untuk adik2 Mahasiswa Baru PWK 2011, saya ucapkan selamat datang dan Selamat! Anda tersesat di jalan yang benar 


 


 om shanti shanti shanti om


 


Friday, September 30, 2011

Hitam Putih Harmoni : Filosofi "Saput Poleng"

Sebelumnya saya ingin mengutarakan bahwa dengan bangga saya menjadikan Motif ‘Kain Poleng’ ini menjadi background dari blog saya, selain karena saya memang berasal dari Bali, namun lain daripada itu saya sangat mengagumi filosofi Hitam-putih, yaitu sederhananya bahwa sebenarnya kehidupan kita di dunia merupakan hasil kolaborasi dari 2 hal yang bertolak belakang yang sebenarnya adalah hal yang sangat indah, mereka membentuk 1 harmoni kehidupan dan bukan tabu yang ‘mereka’ benci. Saya dan kita sepakat menyebutnya “Hitam Putih Harmoni”

Saput Poleng
Masyarakat Bali dan orang yang sering ke Bali mungkin sudah sangat akrab dengan kain bercorak kotak-kotak persegi dengan warna hitam-putih seperti papan catur yang satu ini. Kain bercorak seperti ini biasanya dipakai masyarakat Bali sebagai busana dalam upacara adat. Juga biasa ditemui di pura-pura, patung-patung dan pohon-pohon. Ini menjadi salah satu ke’khas’an Bali yang menjadi daya tarik wisatawan. Menjadikan semacam ‘reminder’ wisatawan, jadi ketika para wisatawan balik ke tempat tinggalnya masing-masing, mereka akan mengingat Bali dengan Kain Hitam Putih tersebut.




Pecalang (petugas keamanan adat) mengenakan Saput Poleng


Orang Bali menyebutnya Saput Poleng, dalam bahasa Bali, Saput = Kain dan Poleng = Belang-belang. Kain Belang yang dimaksud sudah jelas adalah belang yang bercorak Hitam-putih papan catur. Ini sangat unik, banyak wisatawan suka dan berminat untuk membelinya dan sering menanyakan tentang filosofi dibalik Hitam-putih itu. Sebaliknya tidak sedikit juga oknum-oknum ber-otak sempit malah menghubung-ubungkan Motif Hitam-putih Kain poleng ini dengan freemason. Dan mereka menganggap Bali itu freemason. Konyol! Sempit!

Saput poleng memang erat kaitannya dengan kehidupan tradisi Hindu di Bali. Kain poleng dipakai dalam kegiatan religius dan sakral.  Di sudut-sudut Pura sering dijumpai Kain poleng sebagai penghias patung-patung, umbul-umbul, pelinggih dan dalam kehidupan berkesenian di Bali, Kain poleng juga sering dipakai dalam kegiatan dramatari, maupun pedalangan.


Filosofi Saput poleng memang sangat menarik. Merupakan refleksi dari kehidupan kita yaitu, dalam Hindu dikenal dengan istilah RwaBhineda adalah dua sifat yang bertolak belakang, yakni hitam-putih, baik-buruk, atas-bawah, suka-duka dan sebagainya. Sadar atau tidak sadar kita memang hidup dalam 2 sifat/keadaan yang diciptakan oleh tuhan dengan perbedaan yang berdampingan.

Saput poleng pada pelinggih

Sesuatu hal tidak bisa kita katakan baik, sebelum kita bisa melihat keadaan yang buruk, jadi maksudnya buruk adalah sebenarnya bagian dari baik, kesalahan adalah bagian dari kebenaran, duka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari suka. Segala sesuatu, hitam-putih, baik-buruk, suka-duka adalah suatu kesatuan yang harmonis dan membentuk sesuatu yang kita namakan “indah”.

Dan memang dalam kehidupan kita, sebenarnya perbedaan menjadi suatu modal dalam upaya membentuk kehidupan yang lebih baik, saling mengisi satu antar yang lain, mungkin tidak berlebihan jika kita memasukan sebuah perbedaan adalah anugrah terindah yang diciptakan oleh tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dengan perbedaan, dan itu memang tidak seharusnya dihindari. Aku hitam - kamu putih, mari kita membentuk harmoni. Hitam Putih Harmoni..

Sumber foto : Google dengan keyword "Saput Poleng"

Monday, September 5, 2011

Asiknya merencanakan Tata Ruang! (Part 1)

Perlukah merencanakan tata ruang?

Mungkin pertanyaan semacam itu sering terlintas di sebagian besar benak masyarakat Indonesia yang pada umumnya masih awam dengan Tata Ruang. Sebagian besar masyarakat masih menganggap Rencana Tata Ruang hanya bersifat Formalitas semata, karena menurut mereka Rencana Tata Ruang adalah sebuah produk yang dalam pengimplentasiannya di lapangan bisa dibilang nihil alias NOL besar. Sebagian masyarakat juga menganggap Penataan Ruang bisa menghambat Perkembangan Kota atau paradigma yang lebih ekstrim yang terjadi di masyarakat adalah seorang Planner (Perencana Kota) dikatakan sebagai seorang yang sok meramal masa depan. Mereka menganggap Kota itu tidak perlu direncanakan, biarkan Kota berkembang dengan sendirinya. Jadi gini, meraka beranggapan "bagaimana Kota bisa maju, kalau dalam perkembangannya dibatasi oleh KDB, KLB, KDH, Amdal dan sebagainya".

Coba saja kita renungkan, Kemacetan, Banjir, Kawasan kumuh, Polusi Udara, Sampah, Penurunan tanah, Ketidakmerataan perkembangan Kota, Pengangguran, Premanisme, Kriminalisme, Tunawisma, Degradasi lingkungan atau banyak lagi masalah-masalah umum perkotaan, semua itu disebabkan oleh apa?

Hmmm..yak benar. Penataan Ruang yang semrawutlah sebagai penyebab mutlak dari masalah Perkotaan tersebut. Sebuah Rencana Tata Ruang yang produknya berupa RTRW, RDTRK, RTR kawasan strategis maupun RTBL sangat diperlukan dalam perkembangan Kota. Dalam penyusunan Rencana Tata Ruang melibatkan beberapa ahli, bukan cuma dari Bidang Perencanaan Wilayah dan Kota(PWK), namun ahli geodesi, lingkungan, geografi, hidrologi dan ahli-ahli lainnya. Mereka bekerja secara teamwork untuk merencanakan Kota Ideal untuk menciptakan kesejahteraan sosial. Tentu dengan sebuah penelitian akedemis, analisis permasalahan hingga penyelesaian masalah.

Sebagai mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota yang notabene sebagai calon Perencana Tata Ruang di masa depan menganggap ini adalah sebuah tantangan yang menarik. Kami sebagai Planner selain bisa merencanakan ruang secara optimal, juga dituntut untuk bisa menjadi "problem solver" bagi masyarakat. Bagaimana seorang planner bisa menjadi penengah diantara pemangku jabatan dengan segala bentuk perencanaan yang berorientasi politik dengan warga masyarakat yang seharusnya mendapatkan pelayanan dalam rangka pemenuhan kesejahteraan mereka.

...to be continue! *loading*


Thursday, June 9, 2011

Solo, dalam upaya me’manusiawi’kan Kota!

Pada umumnya manusia sangat bergantung pada keadaan lingkungan disekitarnya yaitu berupa sumber daya alam dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya upaya untuk menjaga sumber daya alam tersebut dalam kaitannya dengan konservasi lingkungan hidup. Sumber daya alam yang utama bagi manusia,  yaitu tanah, air dan udara. Keseimbangan ketiga elemen ini menjadi unsur dalam perwujudan lingkungan hidup yang baik. Lingkungan yang sehat akan terwujud apabila manusia dan lingkungannya dalam kondisi yang baik, dan lingkungan yang sehat akan membentuk kenyamanan manusia dalam kelangsungan hidupnya.
Dalam lingkup perkotaan, lingkungan hidup yang baik merupakan syarat yang mutlak dalam perwujudan kota yang humanis, kota yang layak huni. Lingkungan hidup perkotaan yang baik akan membentuk suatu kota yang “manusiawi” , artinya kota yang bisa me – manusiawi- kan manusianya itu sendiri, kota yang tidak membatasi gerak langkah kreatifitas manusia dalam melakukan aktifitas-aktifitasnya sebagai manusia dan menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan hidup sebagai tempat tinggal manusia. Dalam hal ini sangat diperlukan adanya peran dari masyarakat dalam menghargai lingkungan hidupnya.
Setelah melakukan kunjungan observasi wilayah ke Kota Solo, yaitu sebagai rentetan acara Kuliah Kerja Perencanaan 2011 yang diselenggarakan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada Angkatan 2009, adanya ternyata Kota Solo tak kalah dari Kota – kota besar di Indonesia maupun di dunia. Kota Solo kini dipimpin oleh walikota yang selain menerapkan sistem birokrasi yang bersih juga concern terhadap masalah lingkungan hidup. Beliau adalah Ir. Joko Widodo. Seorang pemimpin yang berjiwa merdeka yang mampu mengubah wajah Kota Solo menjadi lebih “manusiawi”. Hebat!

Ini merupakan sebagian dari program-program kongkrit yang beliau canangkan, yaitu penataan PKL, penyulapan taman kota, pembangunan ruang publik, visi “menghutankan” Solo, pembangunan pusat kebudayaan, ketegangan terkait konflik kepentingan dan kiat-kiat menyelesaikannya, pembenahan transportasi publik, penataan minimarket dan pasar modern, reformasi birokrasi pemda dan banyak program-program yang sangat menyentuh masyarakat Kota Solo. Beliau melakukan penataan dengan pendekatan community planning, yaitu perencanaan demokrasi berbasis bottom – up, berarti mengedepankan kepentingan stakeholders dalam upaya menciptakan ruang yang berkualitas dan berkeadilan. Ini juga dalam upaya menciptakan Kota Solo yang “manusiawi”, kota yang dibangun bukan karena paksaan atau regulasi-regulasi yang sangat mengekang warga dan sangat kaku, namun mengedepankan prinsip – prinsip kemanusiaan dan berasaskan keadilan untuk seluruh stakeholders sebagai pemangku kepentingan.

Walikota Solo. Ir. Joko Widodo
Dalam kunjungan ini kami berkesempatan untuk mengunjungi beberapa produk dari Bapak Walikota Ir. Joko Widodo yang kaitannya dengan penambahan kualitas lingkungan hidup, yaitu Taman Balekambang, Taman Tirtonadi dan sebagai penutup, kami mendapat kesempatan untuk menikmati santapan malam di Galabo
Taman Kota Balekambang, yang mengingatkan penulis dengan Central Park di New York dalam skala kecil. Dari hasil wawancara, tempat ini dulu penuh dengan gelandangan dan PSK, tapi sekarang jadi arena ruang publik bagi semua warga. Terdapat pohon – pohon perindang , tempat duduk dan sangat teduh untuk masyarakat berkreasi, bermain, melepas lelah setelah seharian bekerja atau pun hanya sekedar berfoto dengan binatang satwa yang terdapat disini. Ini sangat menyenangkan, inilah salah satu ciri- ciri kota yang “manusiawi”, yaitu terdapat public space di tengah kota, ibarat surga di tengah hiruk pikuk polusi Kota yang bisa diakses secara free untuk berinteraksi sosial. Public space memberi kesempatan bagi anak-anak untuk lebih leluasa bermain di alam, selain itu anak-anak bisa belajar tentang lingkungan, sementara kantong orang tuanya tidak jebol. Di taman ini juga ada dua kolam yang masing-masing terdapat patung perempuan di tengahnya. Para pengunjung bisa duduk santai di tepiannya sembari memberi makan ikan

Tetapi lagi- lagi masalah klasik di setiap wilayah Indonesia, yaitu kebersihan, sampah. Memang hal ini memang sudah menjadi momok dalam pengelolaan tempat wisata di negeri kita ini. Aksi vandalisme dari beberapa kalangan yang mulai mencoret – coret fasilitas umum sangat membuat tidak sedap dipandang mata.
Untuk tempat yang kedua, kami mengobservasi Taman Tirtonadi, yaitu sebuah taman yang mengedepankan konsep waterfront, yaitu konsep taman kota yang berbatasan langsung dengan perairan, dalam hal ini sungai yang termasuk sebagai daya tarik pengunjung. Ini merupakan salah satu upaya penataan kawasan bantaran sungai. Taman Tirtonadi adalah salah satu dari usaha pengembangan tersebut. Pencitraan sebuah kota Solo sebagai kota tujuan yang menyenangkan ingin dimunculkan karena letaknya adalah di depan Terminal Bus Tirtonadi. Keberadaan Taman Tirtonadi seolah kian mengukuhkan kota ini sebagai kawasan yang peduli dengan lingkungan hidup di saat hunian liar tengah menjamur. Karena maraknya hunian liar, pembangunan taman itu juga untuk mengembalikan ekosistem alam ini sebagaimana mestinya, yakni kawasan hijau. Ya! Memang ini adalah upaya Solo dalam me’manusiawi’kan Kotanya. Menjadikan Solo sebagai tempat kunjungan yang menyenangkan, serta tersedia ruang-ruang publik sebagai bentuk tempat masyarakat untuk melakukan hak interaksi sosialnya. Namun, memang kembali pada masalah klasik kita, sampah ternyata masih menjadi masalah dan ketika kami melakukan observasi, terlihat tidak optimalnya pemanfaatan spot-spot rekreasi yang telah tersedia. Sebenarnya sudah tersedia ruang publik yang sangat bisa dimanfaatkan. Menurut penulis, diperlukan adanya kajian, di mana dikaji kembali masalah fungsi dan keberadaannya yang apakah sudah sesuai dengan apa yang seharusnya. Jika masih melenceng dari itu semua, paling tidak dilakukan sebuah proses desain ulang.
Pada akhirnya upaya-upaya untuk me’manusiawi’kan Kota, seperti yang telah berlangsung di Kota Solo, memang pantas menjadi contoh untuk Kota-kota besar atau daerah-daerah lainnya di Indonesia, untuk terciptanya ruang yang nyaman, bersih dan mencerminkan karakter masyarakatnya. Apresiasi setinggi-tingginya dari penulis untuk Bapak Walikota Ir. Joko Widodo yang telah menjadi salah satu pioneer dalam menciptakan ruang yang ‘manusiawi’. Salut! Dan penulis berharap agar kebaikan ini segera diikuti oleh pemimpin-pemimpin yang lain.